Kapsultekno.com -Misi luar angkasa yang dilakukan oleh badan antariksa Amerika Serikat (AS) NASA menjadi sorotan bagi sebagian kalangan. Bukan memuji pencapaian dari ilmu pengetahuan dan pesatnya teknologi antariksa, mereka menyoroti bagaimana gambar maupun video yang dirilis oleh NASA adalah sebuah rekayasa.
Skeptisisme yang bergulir berkaitan erat dengan gelombang teori konspirasi yang viral di media sosial. Setelah keberhasilan misi Artemis II, berbagai klaim tak berdasar bermunculan, mulai dari tuduhan penggunaan green screen hingga spekulasi adanya objek misterius di permukaan Bulan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana pencapaian ilmiah sering kali diiringi misinformasi, terutama di era digital ketika konten viral dapat menyebar dengan cepat tanpa verifikasi. Berikut ini beberapa klaim yang meragukan keberhasilan NASA Artemis II, dikutip dari Timesofindia.

Baca Juga: Bagaimana Astronaut Orion Bisa Kirim Foto Bumi dari Luar Angkasa?
Klaim Green Screen
Sejumlah pengguna media sosial mengklaim bahwa rekaman misi Artemis II direkayasa menggunakan teknologi green screen. Klaim penggunaan green screen pada misi NASA berawal dari beredarnya potongan video siaran langsung yang menunjukkan anomali visual, seperti teks yang tampak “menempel” pada objek yang melayang di dalam kapsul.
Bagi sebagian pengguna media sosial, hal ini dianggap sebagai bukti rekayasa studio. Namun, penjelasan teknis menyebutkan bahwa efek tersebut kemungkinan besar berasal dari kesalahan komposisi grafis siaran (chromakey atau overlay), yaitu teknik umum dalam penyiaran televisi untuk menampilkan teks atau elemen visual di atas video.
Rekaman asli dari NASA tidak menunjukkan gangguan tersebut, sehingga anomali lebih mungkin terjadi pada versi rekaman ulang atau hasil kompresi video, bukan bukti penggunaan green screen, menurut New York Post.
Baca Juga: Viral, NASA Rilis Foto Bumi “Mengintip” di Balik Permukaan Bulan
Objek Misterius di Bulan
Sementara itu, klaim mengenai “objek misterius” di permukaan Bulan juga banyak beredar tanpa bukti ilmiah yang jelas. Dalam banyak kasus, objek yang dianggap aneh sebenarnya dapat dijelaskan sebagai fenomena alam atau efek visual, seperti bayangan, formasi geologi, atau bahkan kilatan cahaya akibat tumbukan meteoroid kecil di permukaan Bulan.
NASA sendiri mencatat adanya “impact flashes” atau kilatan cahaya yang muncul ketika meteoroid menghantam Bulan yang dapat terlihat dari orbit dan berpotensi disalahartikan sebagai objek tak dikenal.
Para ahli menekankan bahwa kombinasi keterbatasan pemahaman publik, kualitas video yang bervariasi, serta kecenderungan manusia mencari pola atau “anomali” menjadi faktor utama munculnya interpretasi keliru ini.
Ditambah lagi, sejarah panjang teori konspirasi terkait eksplorasi Bulan membuat setiap fenomena visual yang tidak biasa mudah dikaitkan dengan narasi sensasional, meskipun penjelasan ilmiahnya sudah tersedia dan dapat diverifikasi.
Baca Juga: Astronaut Artemis II Abadikan Foto Bumi dari Luar Angkasa, Semakin Dekati Bulan
Kurangnya Pemahaman Jadi Pemicu Misinformasi
Para ahli menilai bahwa maraknya teori konspirasi ini dipicu oleh minimnya pemahaman publik terhadap teknologi luar angkasa yang kompleks. Hal ini membuat sebagian orang mudah percaya pada klaim yang terdengar sensasional namun tidak memiliki dasar ilmiah
Selain itu, daya tarik “misteri tersembunyi” dan algoritma media sosial yang mempercepat penyebaran konten viral turut memperparah situasi. Akibatnya, informasi yang belum terverifikasi bisa dengan cepat dipercaya dan disebarluaskan oleh banyak pengguna.
Gelombang teori konspirasi terkait Artemis II menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan literasi informasi yang memadai. Di tengah derasnya arus informasi digital, verifikasi dan pemahaman ilmiah menjadi kunci untuk menangkal misinformasi atau hoaks yang tersebar di internet atau media sosial.