Kapsultekno.com - Rencana Sony menghentikan penjualan game fisik PlayStation tampaknya tidak akan berubah meski menuai protes dari para gamer. Uni Eropa (UE) menegaskan tidak memiliki dasar hukum untuk memaksa Sony tetap merilis game dalam format cakram (disc).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Komisaris Eropa untuk Demokrasi, Keadilan, Supremasi Hukum, dan Perlindungan Konsumen, Michael McGrath. Menurutnya, perusahaan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana produk dan layanan mereka dipasarkan selama hak-hak konsumen tetap terlindungi.
"Perusahaan bebas menawarkan permainan dan layanan dengan cara yang mereka anggap sesuai, asalkan hak konsumen sepenuhnya dilindungi," kata Michael McGrath kepada wartawan di Parlemen Eropa di Strasbourg, seperti diberitakan TechSpot.

Artinya, meskipun Uni Eropa dikenal cukup keras dalam mengatur perusahaan teknologi, kebijakan Sony untuk beralih ke distribusi digital sepenuhnya tetap dianggap sebagai keputusan bisnis internal dan bukan ranah intervensi regulator.
Sony Hentikan Produksi Game Fisik Mulai 2028
Sebelumnya, Sony mengumumkan bahwa mulai Januari 2028 mereka tidak lagi memproduksi cakram fisik untuk game PlayStation baru. Seluruh judul yang dirilis setelah tanggal tersebut hanya akan tersedia melalui PlayStation Store atau retailer yang menjual kode digital.
Meski demikian, Sony menegaskan bahwa produksi disc tidak sepenuhnya dihentikan. Publisher masih dapat memesan ulang salinan fisik untuk game yang telah dirilis sebelum Januari 2028.
Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi industri game yang semakin bergantung pada distribusi digital. Data Sony menunjukkan sekitar 80 persen penjualan game PlayStation pada tahun fiskal 2025 berasal dari versi digital.
Gamer Khawatir Kehilangan Hak Kepemilikan
Keputusan Sony memicu kekhawatiran di kalangan gamer dan kolektor. Game fisik selama ini dianggap memberikan hak kepemilikan yang lebih jelas karena dapat dipinjamkan, dijual kembali, atau tetap dimainkan meski suatu saat layanan digital dihentikan.
Selain itu, sejumlah riset menunjukkan harga game fisik PlayStation dapat mencapai 90 persen lebih murah dibandingkan versi digital berkat adanya persaingan antar retailer dan pasar barang bekas.
Jika distribusi beralih sepenuhnya ke digital, Sony dinilai akan memiliki kontrol harga yang jauh lebih besar di PlayStation Store.

Sebuah petisi yang meminta Sony membatalkan kebijakan tersebut dilaporkan telah mengumpulkan lebih dari 285.000 tanda tangan. Namun hingga kini perusahaan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya.
Banyak pihak sempat berharap gerakan konsumen "Stop Killing Games" dapat mendorong Uni Eropa mengambil tindakan terhadap Sony. Namun kampanye tersebut sebenarnya berfokus pada upaya menjaga agar game yang sudah dibeli tetap dapat dimainkan setelah dukungan resmi dihentikan, bukan mewajibkan perusahaan memproduksi game fisik.
Komisi Eropa sendiri sebelumnya memilih membuka dialog dengan industri game mengenai perlindungan konsumen ketimbang membuat aturan baru yang mewajibkan keberadaan media fisik. Hal ini membuat peluang penyelamatan versi cakram game PlayStation generasi baru semakin kecil.
Bagi Sony, distribusi digital menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari pengurangan biaya produksi dan distribusi hingga peningkatan margin keuntungan. Namun bagi sebagian gamer, berakhirnya era game fisik PlayStation dianggap sebagai hilangnya salah satu aspek penting dalam budaya koleksi video game.