☕ Support Us
Advertise here · www.kapsultekno.com
Meta Tarik Tools Gambar AI Generatif Muse Image yang Picu Kritik soal Privasi
Meta menghentikan tools gambar AI generatif Muse Image yang menuai kontroversi privasi dan risiko deepfake.

Kapsultekno.com - Meta resmi menarik fitur kecerdasan buatan (AI) kontroversial bernama Muse Image hanya beberapa hari setelah diluncurkan. Fitur tersebut menuai gelombang kritik karena memungkinkan pengguna membuat gambar berbasis AI dengan memanfaatkan foto dari akun Instagram publik tanpa persetujuan eksplisit pemiliknya.

Muse Image merupakan bagian dari layanan Meta AI yang dikembangkan oleh tim Meta Superintelligence Labs. Melalui fitur ini, pengguna dapat membuat atau mengedit gambar AI dengan menyebut (tag) akun Instagram publik tertentu.

Sistem kemudian mengambil referensi dari foto-foto yang diunggah akun tersebut untuk menghasilkan gambar baru, seperti diberitakan AP News.

Namun, fitur tersebut langsung memicu kekhawatiran mengenai privasi, hak atas identitas digital, hingga potensi penyalahgunaan berupa pembuatan deepfake dan penipuan berbasis AI. Dalam pernyataannya, Meta mengakui bahwa peluncuran fitur tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi publik.

blank
Contoh gambar Muse Image dari Meta (Foto: about.fb.com)

"Tujuan kami adalah untuk menyediakan alat kreatif yang bermanfaat dan memberi orang kendali atas apakah konten publik mereka dapat dirujuk dengan cara ini," kata Meta dalam pernyataan resminya.

Perusahaan juga mengakui bahwa mereka telah "missed the mark" atau salah membaca batasan privasi dan etika yang diharapkan pengguna.

Pengguna Khawatir Foto Dipakai Tanpa Persetujuan

Kontroversi muncul karena fitur tersebut aktif secara otomatis bagi akun Instagram yang bersifat publik. Pengguna harus melakukan opt-out secara manual jika tidak ingin foto mereka digunakan sebagai referensi AI.

Banyak pihak menilai mekanisme ini tidak cukup karena persetujuan seharusnya diberikan melalui sistem opt-in, bukan opt-out. Serikat pekerja industri hiburan Amerika Serikat, Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA), menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik kebijakan tersebut.

Organisasi itu memperingatkan bahwa teknologi semacam ini berpotensi memicu pembuatan replika digital tanpa izin dan membuka peluang eksploitasi identitas seseorang.

Aktor pemenang Emmy, Hannah Einbinder, juga menyuarakan kekhawatirannya terkait penggunaan foto publik untuk menghasilkan gambar AI tanpa persetujuan langsung dari pemilik akun.

Risiko Deepfake dan Penyalahgunaan Identitas

Para pakar privasi menilai kasus Muse Image menjadi contoh terbaru mengenai tantangan etika dalam pengembangan AI generatif. Dengan kemampuan menghasilkan gambar dari foto publik, teknologi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk membuat konten palsu, penipuan digital, hingga penyebaran gambar yang merugikan individu tertentu.

Laporan berbagai media internasional menyebutkan bahwa fitur tersebut bahkan memicu kekhawatiran terkait risiko pemerasan berbasis gambar dan penyebaran konten nonkonsensual.

blank
Contoh gambar Muse Image dari Meta (Foto: about.fb.com)

Tekanan publik yang terus meningkat akhirnya membuat Meta memutuskan menghentikan fitur tersebut secara permanen hanya dalam hitungan hari setelah peluncuran.

Kasus Muse Image terjadi di tengah meningkatnya pengawasan terhadap perusahaan teknologi terkait penggunaan data untuk pengembangan AI. Dalam beberapa bulan terakhir, Meta juga menghadapi sejumlah gugatan dan investigasi mengenai cara perusahaan memanfaatkan data pengguna dan materi berhak cipta untuk melatih model AI mereka.

Sekadar informasi, Meta Superintelligence Labs (MSL) adalah divisi kecerdasan buatan baru milik Meta yang dibentuk untuk menyatukan seluruh upaya riset dan pengembangan AI perusahaan, mulai dari tim model bahasa besar (LLM), penelitian fundamental, hingga pengembangan produk AI untuk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan perangkat wearable seperti kacamata pintar Ray-Ban Meta.

Meta secara resmi mengumumkan pembentukan Meta Superintelligence Labs pada 30 Juni 2025. Divisi ini lahir setelah CEO Meta, Mark Zuckerberg, merasa perkembangan model AI internal Meta, khususnya Llama 4, belum mampu bersaing dengan teknologi AI dari OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic. Karena itu, Meta melakukan restrukturisasi besar-besaran dan mengonsolidasikan seluruh tim AI ke dalam satu organisasi baru.

Tujuan utama Meta Superintelligence Labs adalah mewujudkan visi "personal superintelligence for everyone" atau superintelijen personal untuk semua orang. Menurut Mark Zuckerberg, AI masa depan tidak hanya berfungsi sebagai chatbot, tetapi menjadi asisten digital yang memahami kebutuhan pengguna secara mendalam dan mampu membantu mereka mencapai tujuan pribadi, meningkatkan kreativitas, serta mendukung aktivitas sehari-hari.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *