Kapsultekno.com - Beragam jenis konten mewarnai layar smartphone kita, mulai dari konten edukasi kesehatan, tips perawatan diri (self-care), review gadget hingga streaming game. Masih banyak lagi jenis konten lainnya, termasuk social commerce melalui afiliator yang mempromosikan produk brand tertentu.
Setiap dari kreator dan alasan mengapa mereka memilih jalurnya bisa didasari atas skill, pengalaman dan ketertarikan mereka pada bidang yang dikuasai. Meskipun tidak menutup kemungkinan, sang kreator dalam proses belajar dan keberanian untuk ngonten pada akhirnya diikuti oleh antusiasme audiens atau followers.
Khususnya di media sosial seperti Instagram dan TikTok, jika konten video pendek yang kamu lihat terlihat membosankan dan terkesan itu-itu saja, ada baiknya mencoba melihat konten yang berbeda yang diambil dari udara, yakni videografi via drone.
Salah satu kreator, Hafidh Rezha Maulana berbagi pengalaman malang melintang di dunia videografi hingga akhirnya memutuskan menjadi visual storyteller di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan swasta di Jakarta.
"Aku mulai di dunia videografi dan editing sejak 2010. Awalnya hanya untuk dokumentasi," kata Hafidh kepada Kapsultekno.com melalui surat elektronik.

Seiring berjalannya waktu, ia pun terjun dalam kegiatan kemanusiaan dan menggunakan drone sejak 2018 untuk kebutuhan dokumentasi. Dari sana, Hafidh menemukan fakta-fakta di lapangan yang tidak tertangkap oleh mata, namun jelas terlihat lewat drone seperti daerah yang terisolasi, jalur distribusi bantuan yang sulit hingga seberapa luas dampak bencana.
Kemampuan drone yang bisa merekam realitas peristiwa yang terjadi di wilayah terdampak lewat udara, menjadikan alat ini memiliki nilai manfaat yang istimewa bagi Hafidh.
"Pengalaman itu mengubah cara pandangku terhadap visual. Bukan hanya soal estetika, tetapi tentang bagaimana sebuah gambar bisa menyampaikan realita dan rasa," ujar Hafidh.
Menurutnya, konten dari udara (aerial view) punya makna yang mendalam. Perspektif inilah yang coba ia hidupkan melalui konten-konten yang ia unggah di Instagram dan TikTok (@hafidhrm).
"Aerial view memberikan konteks yang lebih utuh. Pendekatan itu yang aku bawa ke dalam konten saat ini. Bukan sekadar visual yang menarik, tetapi visual yang mampu membuat orang berhenti sejenak dan merasakan sesuatu," jelas Hafidh.
“Dari atas, kita tidak hanya melihat pemandangan, tetapi melihat cerita yang lebih jujur," tambah pria yang berdomisili di Kota Tangerang Selatan ini.
Baca Juga: 6 Tips Tumbuhkan Followers Organik di Instagram untuk Kreator Konten
Belajar dari Kesalahan dan Fokus pada Tujuan
Hafidh yang hobi berburu tempat-tempat menarik untuk diabadikan lewat udara (hunting Aerial View) menceritakan pengalaman yang tak terlupakan saat menerbangkan drone. Drone yang ia pakai sempat jatuh dari ketinggian sekitar 30 meter karena baterai yang kurang terpasang secara sempurna.
Kejadian tersebut menjadi pengalaman berharga bahwa hal-hal kecil tidak boleh disepelekan. "Dari situ aku belajar bahwa detail kecil sangat menentukan," kata Hafidh.

Pengalaman di lapangan saat dokumentasi lokasi terpencil dengan akses listrik yang terbatas juga melatih Hafidh untuk dapat mengatur pemakaian baterai secara efisien. Selain itu, setiap action penerbangan harus punya tujuan yang jelas, karena tidak ada ruang untuk berbuat kesalahan.
"Pengalaman tersebut membentuk cara aku bekerja di lapangan. Menerbangkan drone bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang tanggung jawab dan pengambilan keputusan," paparnya.
Baca Juga: Mengenal “Yapping”, Tren Gaya Komunikasi Kreator yang Kian Populer di Media Sosial
Garap Konten Sendiri Mulai dari Ide hingga Eksekusi
Berbicara mengenai konten aerial view di media sosial, pilot drone kelas compact DJI Mini Series ini mengaku bahwa proses pengerjaan dilakukan secara mandiri. Mulai dari ide hingga eksekusi dilakukan sendiri, di mana satu konten umumnya menghabiskan waktu shooting sekitar 1-2 jam dan proses editing 2-4 jam.
"Untuk editing, aku menggunakan CapCut karena workflow yang cepat dan fleksibel. Untuk kebutuhan profesional, aku pakai Final Cut Pro," kata Hafidh yang kini memiliki lebih dari 2.600 followers di Instagram.

Menurutnya, dalam proses pengerjaan konten, nomor satu yang patut diperhatikan ialah narasi yang ingin dibawa oleh sang kreator.
"Yang paling penting dalam proses ini bukan teknis, tetapi cerita yang ingin disampaikan," tegas Hafidh, menekankan pentingnya makna cerita di balik video yang diunggah untuk audiens.
Baca Juga: Modifikasi Gran Max Jadi Campervan, Intip Serunya Ngonten Jalan-Jalan ala Doyanmain
Rencana Upgrade Drone untuk Video yang Lebih Cinematic
Dalam menjalankan hobi maupun profesinya sebagai videografer, Hafidh memahami pentingnya alat ngonten, termasuk drone. Seperti diketahui, produsen terus mengembangkan fitur-fitur drone yang semakin canggih dengan merilis seri drone terbaru.
Di saat brand membanjiri pasar dengan beragam tipe drone generasi terbaru, memaksimalkan penggunaan drone yang kini digunakan dan memanfaatkan fitur drone secara optimal jauh lebih utama, menurut Hafidh.

Meskipun demikian, ke depan, dirinya tertarik untuk upgrade ke kelas drone yang lebih tinggi. "Ke depan, aku tertarik untuk upgrade ke kelas yang lebih tinggi seperti DJI Mavic 4 Pro untuk kebutuhan visual yang lebih cinematic. Untuk lini compact, aku juga menantikan perkembangan seperti DJI Mini 5 Pro," terang Hafidh.
Ia juga mengungkap ketertarikan untuk masuk ke jalur FPV menggunakan drone seperti DJI Avata 2 atau DJI Avata 360 karena memberikan perspektif yang lebih imersif dalam storytelling.
Terkait perawatan drone, ia melakukan maintenance mulai dari menjaga kondisi baterai, kalibrasi, hingga memastikan semua dalam kondisi aman sebelum terbang.
Peluang Sebagai Kreator Konten via Drone
Menurut Hafidh, sebagai kreator drone videography, ia melihat adanya berbagai peluang yang bisa didapat dari aktivitas ngonten aerial view. Peluang tersebut antara lain project bekerjasama dengan brand, pariwisata, dokumentasi hingga licensing footage.
"Revenue sangat mungkin, namun tidak instan. Dibutuhkan konsistensi, eksplorasi, dan sudut pandang yang kuat. Untuk yang ingin masuk ke ranah profesional, sertifikasi sangat disarankan sebagai bentuk tanggung jawab," jelas Hafidh.

Kalau hanya sekedar hobi, sertifikasi pilot drone tidak wajib, namun tetap disarankan untuk mengikuti sertifikasi guna mendapatkan bekal pengetahuan dan keselamatan saat menerbangkan quadcopter alias drone.
"Bergabung dengan komunitas juga sangat membantu, baik untuk belajar, berbagi pengalaman, maupun mendapatkan teman untuk eksplorasi," tambahnya.
Baca Juga: Dari Iseng Jadi Cuan, Begini Cara Camelia Sukses Jadi Afiliator TikTok dari Rumah
Tips untuk Pemula yang Ingin Terjun sebagai Videografer Drone
Untuk mereka yang tertarik dan baru mau memulai ngonten sebagai videografer drone, Hafidh memberikan tips untuk menggunakan alat (drone) yang sederhana terlebih dahulu.
"Pelajari dasar-dasar pergerakan drone, komposisi, keamanan, dan timing. Yang lebih penting adalah belajar melihat. Karena yang membuat orang berhenti bukan hanya visual yang bagus, tetapi rasa yang sampai," tuturnya.
Di masa yang akan datang, Hafidh ingin terus berkembang sebagai visual storyteller yang menghasilkan karya yang bermakna dan memiliki dampak. "Aku juga ingin lebih banyak terlibat dalam proyek yang berkaitan dengan kemanusiaan," ucapnya.
“Pada akhirnya, visual terbaik bukan yang paling indah, tetapi yang paling terasa," pungkas Hafidh.