Kapsultekno.com - Elon Musk, pendiri perusahaan roket antariksa SpaceX dan produsen kendaraan listrik Tesla itu resmi menjadi orang pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari USD1 triliun atau sekitar Rp17.000 triliun. Ini merupakan pencapaian yang belum pernah diraih tokoh bisnis mana pun sebelumnya.
Lonjakan kekayaan Musk terjadi setelah SpaceX melantai di bursa saham Amerika Serikat melalui penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah. Debut saham perusahaan antariksa tersebut disambut antusias investor hingga mendorong valuasi SpaceX menembus lebih dari USD2 triliun.
Berdasarkan sejumlah laporan media keuangan internasional, kekayaan bersih Musk kini diperkirakan mencapai sekitar USD1,1 triliun. Sebagian besar nilai tersebut berasal dari kepemilikan sahamnya di SpaceX yang mencapai sekitar 38–40 persen.

Pencapaian ini sekaligus mengukuhkan posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia dengan selisih yang sangat jauh dibanding para miliarder teknologi lainnya seperti Larry Page, Larry Ellison, hingga Jeff Bezos.
Sebelum resmi menyandang status triliuner, sejumlah analis sebenarnya telah memprediksi bahwa Musk akan menjadi orang pertama yang menembus batas kekayaan USD1 triliun. Prediksi tersebut semakin kuat seiring pertumbuhan bisnis SpaceX yang agresif dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui layanan internet satelit Starlink, kontrak peluncuran roket, hingga proyek kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan ekosistem perusahaan.
SpaceX sendiri berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia. Selain mendominasi pasar peluncuran satelit komersial, perusahaan ini juga menjadi mitra utama berbagai proyek antariksa pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah perusahaan swasta global.
Tak lama setelah IPO, Musk bahkan menyatakan bahwa SpaceX berpotensi menghasilkan pendapatan hingga USD1 triliun per tahun pada 2030. Menurutnya, pertumbuhan bisnis satelit, peluncuran roket, dan layanan berbasis antariksa akan menjadi pendorong utama ekspansi perusahaan di masa depan.
Meski demikian, pencapaian tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai konsentrasi kekayaan global. Sejumlah ekonom dan organisasi sosial menilai kemunculan triliuner pertama dunia menjadi simbol semakin lebarnya kesenjangan ekonomi.
Di sisi lain, pendukung Musk berpendapat bahwa kekayaannya merupakan hasil dari keberhasilannya membangun perusahaan-perusahaan yang membawa perubahan besar dalam industri kendaraan listrik, teknologi luar angkasa, kecerdasan buatan, hingga internet satelit.