Kapsultekno.com - Raksasa teknologi Google dilaporkan tengah melakukan pembicaraan dengan perusahaan asal China, termasuk Envicool, untuk membeli sistem pendingin pusat data (data center). Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang menghasilkan panas jauh lebih tinggi dibanding komputasi konvensional.
Menurut sumber yang mengetahui hal tersebut, tim pengadaan Google dari Taiwan bahkan telah mengunjungi China untuk bertemu sejumlah pemasok. Namun, baik Google maupun Envicool belum memberikan tanggapan resmi terkait kabar ini.
Kebutuhan Pendingin Meningkat Seiring Ledakan AI
Sistem pendingin berbasis cairan kini menjadi komponen krusial dalam data center modern. Teknologi ini bekerja dengan mengalirkan cairan di sekitar perangkat untuk menyerap panas, menggantikan metode pendingin udara yang mulai tidak memadai untuk beban kerja AI berintensitas tinggi.
Baca Juga: Google Pangkas Biaya Play Store, Komisi Aplikasi Tak Lagi 30%
Permintaan terhadap teknologi ini meningkat tajam seiring ekspansi AI global. Bahkan, pasar sistem pendingin cair untuk server AI diproyeksikan melonjak hingga lebih dari 17 miliar dolar AS pada 2026, naik signifikan dari sekitar 8,9 miliar dolar AS tahun sebelumnya.
Kondisi ini juga memicu keterbatasan pasokan komponen, tidak hanya chip AI tetapi juga perangkat pendukung seperti sistem pendingin. Hal tersebut menjadi salah satu alasan Google mulai menjajaki lebih banyak mitra, termasuk dari China.
Peran China Kian Besar di Rantai Pasok Data Center
Perusahaan seperti Envicool semakin mendapat momentum berkat tingginya permintaan domestik serta efisiensi biaya produksi. Bahkan, Envicool disebut telah mengembangkan unit distribusi cairan (coolant distribution unit/CDU) khusus sesuai kebutuhan Google.
Baca Juga: Google Luncurkan Nano Banana 2, Standar Baru AI Generatif untuk Gambar
Selain Envicool, sejumlah perusahaan China lain seperti Lingyi iTech dan Feilong Auto Components juga ikut meramaikan pasar ini. Sementara itu, Google juga tetap menggandeng pemasok dari Taiwan seperti Foxconn dan Auras.
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya peran China dalam rantai pasok global data center, meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China masih berlangsung.
