Advertise here · www.kapsultekno.com
Advertise here · www.kapsultekno.com
Elon Musk dan Kepala NASA Soroti Propulsi Antimateri untuk Perjalanan Luar Angkasa
Elon Musk dan bos NASA mendukung propulsi antimateri sebagai teknologi masa depan untuk misi antarbintang. (Ilustrasi roket Starship V3 milik SpaceX)

Kapsultekno.com - Elon Musk, CEO SpaceX memancing perhatian dunia antariksa setelah mengungkap visinya mengenai penggunaan propulsi antimateri sebagai teknologi masa depan untuk membawa manusia menjelajahi sistem bintang lain.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Administrator NASA, Jared Isaacman, yang secara terbuka menyatakan mendukung pengembangan mesin berbasis antimateri, dikutip dari TechEBlog.

Diskusi tersebut bermula dari unggahan Musk di platform X. CEO SpaceX itu menulis bahwa pada masa depan, peradaban manusia dapat menghabiskan dana “triliun kali triliun dolar” untuk memproduksi antimateri demi memungkinkan perjalanan antarbintang.

"Di masa depan, satu triliun kali satu triliun dolar akan diinvestasikan untuk membuat antimateri agar manusia dapat melakukan perjalanan ke sistem bintang lain," tulis Elon Musk.

Musk juga menambahkan bahwa peradaban yang lebih maju kemungkinan tidak lagi mengukur kekayaan dengan mata uang konvensional, melainkan berdasarkan massa dan energi. Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Administrator NASA Jared Isaacman yang singkat namun jelas.

"Saya mendukung propulsi antimateri,” tulis Isaacman.

Apa Itu Propulsi Antimateri?

Propulsi antimateri merupakan konsep mesin pesawat antariksa yang memanfaatkan energi hasil pemusnahan (annihilation) antara materi dan antimateri. Ketika keduanya bertemu, hampir seluruh massa dapat diubah menjadi energi, menjadikannya salah satu sumber energi paling padat yang pernah diketahui manusia, seperti diberitakan Business Today.

Secara teori, hanya satu gram antimateri yang bereaksi dengan satu gram materi dapat menghasilkan energi setara puluhan ribu ton TNT. Kepadatan energi yang sangat tinggi ini membuat teknologi tersebut dianggap berpotensi menjadi solusi untuk perjalanan antarbintang yang saat ini masih mustahil dicapai dengan roket kimia konvensional.

Propulsi Antimateri Masih Sebatas Konsep Teoretis

Meski menjanjikan, propulsi antimateri masih menghadapi tantangan besar. Produksi antimateri saat ini sangat mahal dan jumlah yang dapat dihasilkan laboratorium masih sangat kecil. Selain itu, ilmuwan juga harus menemukan cara aman untuk menyimpan dan mengendalikan antimateri tanpa membuatnya langsung bereaksi dengan materi biasa.

Berbagai konsep roket antimateri sebenarnya telah diteliti selama beberapa dekade. NASA dan sejumlah lembaga penelitian pernah mengkaji kemungkinan penggunaan antimateri untuk mendorong pesawat antariksa generasi masa depan. Namun hingga kini belum ada desain yang siap diwujudkan secara praktis.

Walau demikian, dukungan dari tokoh penting seperti Elon Musk dan Jared Isaacman kembali menghidupkan diskusi mengenai teknologi propulsi generasi berikutnya. Jika hambatan teknis dapat diatasi, mesin antimateri berpotensi membuka jalan bagi eksplorasi manusia melampaui tata surya.

SpaceX Miliki Roket Terkuat di Dunia dengan Starship V3

Di luar pembahasan mengenai mesin pesawat antariksa propulsi antimateri, saat ini SpaceX memiliki roket terbesar dan terkuat untuk mendukung misi luar angkasa. Perusahaan resmi meluncurkan Starship versi terbaru, Version 3 (V3), pada 22 Mei 2026.

Dalam konfigurasi penuh dengan boosternya, roket ini mencapai tinggi 408 kaki atau sekitar 124 meter, dengan daya dorong sekitar 18 juta pon (sekitar 80 meganewton), menjadikannya roket tertinggi dan paling bertenaga yang pernah dibangun.

Starship merupakan kendaraan peluncur dua tahap yang dirancang sepenuhnya dapat digunakan kembali (fully reusable), terdiri dari booster Super Heavy dan wahana antariksa Starship, keduanya menggunakan mesin Raptor yang membakar metana cair dan oksigen cair.

Dari sisi rencana ke depan, NASA menaruh harapan besar pada Starship untuk misi Artemis III pada 2027, yakni misi pendaratan astronot di permukaan Bulan, dengan target pendaratan di 2028. Starship juga diandalkan SpaceX untuk meluncurkan satelit Starlink generasi berikutnya dalam jumlah besar, hingga 100 metrik ton muatan dalam konfigurasi reusable-nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top