Kapsultekno.com - Schneider Electric mengumumkan kolaborasi strategis dengan Hon Hai Technology Group (Foxconn) untuk mempercepat pengembangan infrastruktur data center kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya.
Kerja sama tersebut ditujukan untuk menghadirkan solusi yang lebih cepat, efisien dan siap diterapkan secara global guna mendukung lonjakan kebutuhan komputasi AI.
Kemitraan yang diumumkan pada 18 Juni 2026 ini menggabungkan keahlian Foxconn dalam platform komputasi AI, integrasi rak AI, serta kemampuan manufaktur global dengan teknologi Schneider Electric di bidang distribusi daya, sistem pendinginan, dan manajemen energi. Produksi solusi hasil kolaborasi ini ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026.
Meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor membuat kebutuhan terhadap pusat data berkapasitas tinggi terus bertambah. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik data center global diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030, didorong oleh berkembangnya AI generatif dan komputasi berperforma tinggi.

Oleh karena itu, efisiensi energi menjadi faktor penting dalam pembangunan infrastruktur AI modern. “Dengan laju perkembangan AI yang sangat cepat, industri membutuhkan model baru dalam merancang, membangun, dan menyediakan infrastruktur,” ujar Young Liu, Chairman Foxconn melalui keterangan resminya.
“Dengan menggabungkan keunggulan Foxconn dalam sistem AI dan manufaktur global dengan keahlian mendalam Schneider Electric di bidang energi dan kelistrikan, kami membuka jalan bagi pelanggan untuk menerapkan kapasitas AI dalam skala besar secara lebih cepat, cerdas, dan berkelanjutan," terangnya.
Kolaborasi ini akan difokuskan pada pengembangan arsitektur referensi baru untuk data center AI. Kedua perusahaan juga akan mengeksplorasi teknologi optimalisasi energi tertutup (closed-loop energy optimisation), sistem modular untuk distribusi listrik dan pendinginan, serta kerangka desain yang terstandarisasi.
Ellya Cen, Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, menilai bahwa kebutuhan energi kini menjadi elemen mendasar dalam pengembangan AI berskala besar.

“Permintaan terhadap AI terus meningkat, dan seiring dengan berkembangnya skala komputasi, energi di baliknya menjadi faktor pendukung yang sangat fundamental,” ujar Ellya Cen, Business VP Data Center, Schneider Electric Indonesia.
“Jika kita ingin meningkatkan skala AI secara bertanggung jawab, sistem-sistem ini harus saling terhubung. Di sinilah kecerdasan energi menjadi sangat penting. Di Schneider Electric, kami terus mengembangkan teknologi energi untuk membangun AI factory yang paling efisien dan berkelanjutan, dengan menghadirkan kemampuan kelistrikan atau daya, pendinginan, dan digital yang terintegrasi ke dalam data center AI," tutur Ellya Cen.
Menurutnya, melalui kerja sama dengan Foxconn, pihaknya membantu pelanggan membangun kapasitas dengan kecepatan, resiliensi, dan efisiensi nyata, sebagai mitra teknologi energi bagi industri yang kini memasuki era kecerdasan.
Melalui kemitraan tersebut, Schneider Electric dan Foxconn berupaya menciptakan cetak biru AI factory yang dapat direplikasi di berbagai wilayah. Infrastruktur baru ini dirancang agar mudah diskalakan, memiliki efisiensi energi yang tinggi, serta mampu memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.
Foxconn sendiri dikenal sebagai produsen elektronik terbesar di dunia dan menjadi mitra manufaktur sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Apple dan Nvidia. Sementara itu, Schneider Electric dalam beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan solusi pusat data dan energi untuk mendukung pertumbuhan AI global.
Kolaborasi kedua perusahaan diharapkan dapat mempercepat pembangunan pusat data AI yang lebih berkelanjutan dan siap menghadapi lonjakan permintaan di era kecerdasan buatan.