TERBARU
Memuat berita terbaru...
Prediksi Tren Smartphone 2026: AI, Baterai Besar dan Era “Value for Money” Jadi Penentu
Pasar ponsel 2026 diprediksi fokus pada AI, baterai besar, dan pengalaman pengguna, seiring konsumen makin rasional memilih nilai terbaik.

Kapsultekno.com - Pasar smartphone Indonesia memasuki fase baru pada 2025. Spesifikasi perangkat terus meningkat, sementara harga relatif semakin terjangkau.

Fitur kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya hanya hadir di ponsel flagship kini mulai merambah ke kelas menengah, terutama untuk peningkatan kualitas kamera, pengelolaan baterai, dan produktivitas pengguna.

Di saat yang sama, kapasitas baterai besar kini menjadi standar baru. Perangkat entry-level sudah mengusung baterai 5.000 mAh, sementara baterai 7.000 mAh atau lebih mulai muncul di segmen menengah hingga flagship.

Jaringan 5G Masih Jadi Strategi Pemasaran

Meski teknologi 5G terus diperluas, pemanfaatannya di Indonesia dinilai belum optimal. Khususnya di tahun ini, fitur 5G yang tersedia pada ponsel pintar masih dianggap sekadar strategi pemasaran oleh produsen, tetapi kegunaan dari teknologi jaringan ini dirasa belum maksimal.

"Jaringan 5G belum memberikan keuntungan yang nyata bagi pengguna," kata Aryo Meidianto, Analis Pasar Smartphone Reasense kepada Kapsultekno.com. Di luar area urban tertentu seperti pusat pemerintahan ataupun pusat perbelanjaan (mall), jaringan 5G belum memberikan keuntungan yang benar-benar nyata bagi penggunaan sehari-hari.

Baca Juga: Bagaimana Tren Pasar Smartphone di Indonesia pada 2025?

Aryo juga menyoroti belum adanya upaya dari network operator untuk menjelaskan bagaimana kegunaan jaringan ini bagi konsumen. Dengan demikian, 5G masih menjadi strategi marketing yang menyasar calon pembeli gadget terbaru.

Pasar Ponsel Bekas Tumbuh

Lebih lanjut Aryo menjelaskan, pertumbuhan pasar smartphone secondhand terlihat semakin signifikan, terutama di kota-kota tier 2 dan tier 3. Kondisi ini berpotensi menekan penjualan ponsel baru di kelas entry-level.

Segmen entry-level kini tidak lagi merujuk pada ponsel di bawah Rp1 juta, melainkan bergeser ke kisaran harga Rp1,5 juta - Rp2,5 juta. Pada rentang harga ini, konsumen mulai menuntut chipset yang lebih responsif, kamera yang lebih layak, serta dukungan pembaruan perangkat lunak yang lebih panjang.

Loyalitas merek juga melonggar. Konsumen cenderung lebih rasional dan tidak ragu berpindah merek demi mendapatkan nilai terbaik.

Teknologi AI dan Ekosistem Jadi Penentu di 2026

Ke depan, diferensiasi utama antarmerek diperkirakan akan bertumpu pada perangkat lunak dan personalisasi AI. Smartphone akan semakin mampu mempelajari pola penggunaan untuk mengoptimalkan kinerja secara otomatis.

"Di tahun mendatang, saya memperkirakan perangkat lunak dan personalisasi kecerdasan buatan akan menjadi pembeda utama di peta persaingan perangkat smartphone," terang Aryo.

Pengembangan AI juga berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat, seiring tingginya kebutuhan memori yang semakin langka dan mahal. Tren baterai besar juga diprediksi berlanjut di 2026, didukung optimalisasi AI untuk efisiensi daya.

Baca Juga: XL Home, Biznet hingga Indosat HiFi: Siapa Unggul dalam Broadband Indonesia 2025?

Selain itu, integrasi dengan ekosistem perangkat lain seperti smartwatch, earbuds, hingga smart home bakal semakin kuat. Untuk bertahan, produsen disarankan tetap menjaga kanal penjualan offline terutama di luar Jawa serta memberikan pembaruan perangkat lunak secara konsisten.

Secara keseluruhan, 2026 diproyeksikan menjadi era “value-for-money” sebagai faktor utama. Vendor yang bertahan bukan sekadar menawarkan harga murah, melainkan pengalaman menyeluruh dengan harga yang kompetitif dan sesuai ekspektasi pasar.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *