Kapsultekno.com- Roket Falcon 9 milik SpaceX lepas landas dari Vandenberg Space Force Base, California pada 16 November 2025 (sekitar pukul 21.21 PST) membawa satelit Sentinel-6B yang ditujukan untuk memonitor ketinggian permukaan laut global.
Satelit ini akan berada di orbit kemiringan 66 derajat dan mencakup sekitar 90% dari lautan dunia, mendukung data bagi perkiraan banjir dan perubahan garis pantai.
"Sentinel-6B naik, memperpanjang catatan permukaan laut yang akurat dari luar angkasa selama hampir empat dekade," kata juru bicara NASA, Derrol Nail, dalam siaran web peluncuran badan tersebut, seperti dikutip dari Space.com.

Baca Juga: Satelit Mata-Mata AS Buatan SpaceX Pancarkan Sinyal “Salah Arah”
SpaceX menyoroti tonggak sejarah penggunaan kembali ini dalam sebuah postingan di X, begitu pula dengan presiden dan kepala operasi perusahaan, Gwynne Shotwell. "Selamat kepada tim SpaceX atas penyelesaian 500 misi dengan pendorong roket yang telah teruji terbang," tulis Shotwell.
"Kalian telah mewujudkan hal yang mustahil dengan roket yang dapat digunakan kembali, membuka jalan bagi pendaratan kargo dalam jumlah besar dan banyak orang untuk membangun kehadiran manusia permanen di bulan dan sekitarnya dengan Starship," tambahnya.
Kolaborasi Lintas Lembaga Antariksa Internasional
Misi Sentinel-6B merupakan kerjasama antara lembaga seperti NASA, European Space Agency (ESA), NOAA dan EUMETSAT untuk memperpanjang rangkaian data ketinggian laut yang telah berlangsung sejak 1990-an. Kontribusi Eropa meliputi wahana antariksa dan altimeter radarnya, sementara Amerika Serikat menyediakan radiometer gelombang mikro dan peluncurannya.
Wahana antariksa ini nantinya akan menggantikan Sentinel-6A, yang telah diluncurkan hampir tepat lima tahun lalu dengan Falcon 9 lainnya. Wahana seberat 1.190 kilogram ini akan beroperasi di orbit sepanjang 1.336 kilometer dengan kemiringan 66 derajat.
Sentinel-6B "akan memastikan keberlanjutan pemantauan permukaan laut ini tanpa gangguan dan akan memperpanjang rekor pengukuran permukaan laut rata-rata global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak terpecahkan," ujar Phil Evans, direktur jenderal Eumetsat, dalam konferensi pers ESA pada 13 November.
Baca Juga: Prediksi Tren AI di 2026, Data Kini Lebih Penting dari Komputasi
Dengan instrumen utama radar altimeter (Poseidon-4) dan radiometer mikro yang memungkinkan koreksi pengaruh atmosfer, satelit ini diharapkan mampu mengukur perubahan permukaan laut dengan akurasi tinggi.
Data tersebut penting untuk mendukung perencanaan kota, perlindungan infrastruktur pantai dan mitigasi risiko seperti erosi atau intrusi air laut ke daratan. Ke depan, data yang dihasilkan akan semakin penting untuk memahami implikasi perubahan iklim, terutama di wilayah pantai yang rentan terhadap kenaikan permukaan laut, serta untuk sektor maritim dan pengelolaan sumber daya air.