Kapsultekno.com- Sebuah langkah inovatif pertama di luar angkasa, NASA (badan antariksa Amerika Serikat) memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) Claude dari Anthropic untuk merencanakan jalur perjalanan rover Perseverance di permukaan Mars.
Inisiatif ini menandai tonggak baru dalam kolaborasi teknologi AI dengan misi antariksa, mempercepat proses dan mengurangi beban kerja manusia dalam tugas perencanaan yang kompleks.
Claude dan Tantangan Navigasi di Permukaan Mars
Permukaan Mars dikenal sebagai medan yang menantang bagi kendaraan robotik seperti Perseverance. Biasanya, para insinyur di NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) secara manual menganalisis citra satelit dan data elevasi untuk menentukan jalur aman bagi rover.
Namun proses ini dikenal “memakan waktu” dan “melelahkan". Untuk pertama kalinya, tim JPL menyerahkan tugas ini kepada AI Claude, memberikan akses pada model untuk menganalisis data dari kamera HiRISE pada Mars Reconnaissance Orbiter beserta peta kemiringan medan.

Baca Juga: Teleskop Hubble Temukan Fenomena Langka di Sistem Bintang Fomalhaut
Berdasarkan data ini, Claude berhasil mengidentifikasi fitur penting seperti batu besar, formasi lapisan tanah, dan area berpasir yang berbahaya, lalu menghasilkan rencana jalur lengkap dengan waypoints.
Para insinyur kemudian memverifikasi rencana tersebut menggunakan simulasi digital yang mempertimbangkan lebih dari 500.000 variabel telemetri rover. Hasilnya, hanya koreksi minor yang diperlukan sebelum jalur tersebut dikirim ke rover di Mars.
Dampak dan Masa Depan Eksplorasi Antariksa
Keberhasilan Claude dalam tugas ini menunjukkan bagaimana AI generatif semakin matang dalam aplikasi kompleks seperti penjelajahan planet. NASA melaporkan bahwa rencana yang dihasilkan AI mampu mengurangi waktu perencanaan rute hampir setengahnya, dibanding metode manual sebelumnya.
Baca Juga: Setelah 50 Tahun, NASA Kembali Kirim Astronaut Mengitari Bulan Lewat Artemis II
NASA Administrator Jared Isaacman mengatakan bahwa pencapaian ini “menunjukkan seberapa jauh kemampuan kita telah berkembang dan memperluas cara kita akan menjelajahi dunia lain.”
Ia menambahkan bahwa teknologi otonom seperti ini dapat membantu misi bekerja lebih efisien, menghadapi medan yang sulit, dan meningkatkan hasil ilmiah seiring jarak dari Bumi semakin jauh.
Langkah ini juga membuka kemungkinan bagi misi masa depan ke Bulan ataupun lebih jauh lagi, di mana keterlambatan komunikasi dan keterbatasan sumber daya membuat penggunaan AI semi-otonom menjadi sangat penting.