Kapsultekno.com -Social commerce bukan sesuatu yang asing saat ini, ketika banyak orang memanfaatkan media sosial untuk mencari kemudian membeli produk yang mereka inginkan. Tingginya minat terhadap belanja online semakin diperkuat oleh hadirnya social commerce yang kian populer.
Fenomena ini bukan hanya perubahan perilaku konsumen, tetapi juga menetapkan strategi baru di bidang pemasaran produk bagi para pengelola brand. Lantas, sejak kapan social commerce ini muncul?
Dikutip dari Insightsforprofessionals, sejak tahun 2005 (saat popularitas layanan Yahoo!) istilah social commerce tentang memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan konten di media sosial. Dari tombol beli, penandaan hingga belanja siaran langsung, social commerce telah menjadi komunitas untuk memberdayakan konsumen dan juga bisnis.
Sebuah kutipan dari artikel Techcrunch yang diterbitkan 16 tahun lalu, dari Sabrina Crider, yang saat itu menjabat sebagai Manajer Humas Yahoo, mengatakan, “Yahoo sedang melakukan dorongan besar ke arah personalisasi dan rekomendasi pencarian - proyek keseluruhan disebut 'Shoposphere' dan fitur utama yang dirilis adalah Daftar Pilihan".

Ide di balik Daftar Pilihan adalah agar pelanggan dapat mencantumkan item apa pun dari katalog belanja Yahoo. Fitur itu juga mengombinasikan penandaan media sosial, rekomendasi, suka, dan komentar yang memungkinkan pengguna untuk berbagi informasi tentang pengalaman, pendapat, dan ulasan mereka serta di mana dan kapan harus membeli.
Awalnya ini merupakan cara untuk memonetisasi media sosial dengan konsumen yang berbagi informasi dan umpan balik satu sama lain. Secara alami, konsumen mempercayai konsumen lain dan oleh karena itu dapat membuat keputusan yang tepat tentang pembelian mereka, menurut Insightsforprofessionals.
Kemajuan Media Sosial Dorong Social Commerce
Seiring bertambahnya jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun dan pesatnya pertumbuhan pengguna media sosial, social commerce semakin menemukan "sweet spot" dan terus mengalami perkembangan.
Baca Juga: Tren Kuliner GoFood 2025: Matcha Naik Daun, Ayam Tetap Andalan
Sejak awal 2010-an, platform seperti Facebook dan Instagram mulai menyediakan fitur toko atau "Shop" yang memungkinkan bisnis memamerkan katalog produk secara langsung di aplikasi mereka.
Hingga pada momentum pandemi Covid-19, social commerce benar-benar berkembang secara signifikan terutama di Indonesia. Sebab, kala itu pelaku UMKM dan konsumen mulai beradaptasi dengan interaksi digital secara intensif dan mengandalkan media sosial untuk transaksi harian.
Pertumbuhan Social Commerce di Indonesia
Data menunjukkan bahwa social commerce di Indonesia tumbuh sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir. Nilai transaksi global social commerce diperkirakan mencapai USD8,2 miliar (sekitar Rp124 triliun) pada 2023, menurut riset Statista.
Angka tersebut diprediksi naik hampir tiga kali lipat mencapai USD22,1 miliar pada 2028. Sementara menurut Indonesia Social Commerce Market Intelligence Report 2025-2030, pasar social commerce diperkirakan mencapai USD5,25 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 17,1%. Targetnya, pasar ini berpotensi tumbuh sampai USD8,62 miliar pada 2030, dikutip dari GlobeNewswire.
Baca Juga: SIRCLO Insights Webinar Ungkap Strategi Brand Hadapi Tantangan Bisnis di 2026
Secara historis, sektor ini mencatat CAGR (Compound Annual Growth Rate) lebih dari 24,9% antara 2021 sampai 2024, menandakan momentum kuat pertumbuhan social commerce di Indonesia.
Beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan social commerce di Indonesia antara lain:
Penetrasi smartphone dan Media Sosial yang Tinggi
Indonesia termasuk salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia, terutama platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp.
Perilaku Konsumen yang Berubah
Konsumen kini semakin mengutamakan kenyamanan, interaksi langsung dengan penjual, serta rekomendasi teman atau influencer sebelum membeli.
Adopsi Fitur Interaktif
Live shopping, chat commerce, dan video pendek menjadi alat efektif untuk menjangkau konsumen secara langsung dan engaging.
Peran UMKM
Pelaku usaha kecil dan menengah memanfaatkan social commerce sebagai alternatif saluran penjualan yang lebih hemat biaya dan efektif dibandingkan toko fisik.