Space Available (975x90)
Space Available (350x50)
SIRCLO Insights Webinar Ungkap Strategi Brand Hadapi Tantangan Bisnis di 2026
SIRCLO Insights Webinar 2025 mengulas strategi e-commerce Indonesia menghadapi fragmentasi kanal, perubahan konsumen, dan tantangan perdagangan digital 2026.

Kapsultekno.com - Industri e-commerce Indonesia memasuki fase baru yang semakin kompleks menjelang 2026. Fragmentasi kanal belanja, perubahan perilaku konsumen, serta tuntutan efisiensi operasional menjadi tantangan utama yang perlu diantisipasi pelaku usaha sejak dini.

Kondisi tersebut menjadi fokus utama dalam SIRCLO Insights Webinar 2025 bertajuk “2026 Readiness Briefing: Competing Smarter in a Fragmented Commerce Landscape” yang digelar secara daring pada Kamis, 18 Desember 2025.

Acara virtual ini menghadirkan dialog lintas sektor untuk membahas kesiapan industri e-commerce Indonesia menghadapi dinamika perdagangan digital ke depan.

blank

Sepanjang 2025, sektor e-commerce Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Bank Indonesia melaporkan nilai transaksi e-commerce pada kuartal III-2025 mencapai Rp134,67 triliun atau tumbuh 20,5 persen secara tahunan (YoY). Capaian ini menunjukkan bahwa kanal digital semakin menguat sebagai pilar penting perekonomian nasional.

Baca Juga: Prediksi Tren Smartphone 2026: AI, Baterai Besar dan Era “Value for Money” Jadi Penentu

“Dengan tren pertumbuhan e-commerce yang melaju cepat, perubahan preferensi belanja konsumen, dan persaingan harga yang ketat memunculkan tantangan bagi lanskap perdagangan," kata Bambang Wisnubroto, Plt. Direktur Perdagangan melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan RI.

Hal tersebut, lanjutnya, menuntut strategi yang menyeimbangkan perdagangan konvensional dan perdagangan melalui sistem Elektronik (e-commerce), misalkan melalui strategi omnichannel.

Di sisi konsumen, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 80,66 persen menurut data APJII. Sementara itu, riset Jakpat menunjukkan 95 persen konsumen melakukan transaksi daring pada semester pertama 2025. Kondisi ini memperluas basis konsumen digital, sekaligus membuat kanal belanja semakin terfragmentasi.

“Fragmentasi saluran belanja pada 2025 dipengaruhi oleh sejumlah dinamika yang saling beririsan, mulai dari pertumbuhan social commerce yang mendorong pola belanja berbasis hiburan (shoppertainment), meluasnya penetrasi internet yang mempercepat pertumbuhan konsumen di kota-kota tier dua dan tiga, hingga meningkatnya tuntutan konsumen akan pengalaman belanja yang relevan dan personal di setiap titik interaksi," jelas Aska Primadi, Head of Research Jakpat.

Strategi Brand Hadapi Perubahan Perilaku Konsumen

Fragmentasi kanal membuat perjalanan konsumen menjadi semakin kompleks. Konsumen kini kerap berpindah dari satu kanal ke kanal lain dalam satu siklus belanja, sehingga menuntut pengalaman yang konsisten dari awal hingga pasca-transaksi.

“Dalam praktiknya, perjalanan konsumen di tengah kanal yang semakin terfragmentasi menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Sepanjang 2025, kami melihat brand semakin aktif mengeksplorasi berbagai kanal untuk mempermudah konsumen dalam menemukan hingga memperoleh produk," ungkap Danang Cahyono, Chief Operating Officer SIRCLO.

Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Kedua Terbanyak Belanja Online di Dunia

Ia menambahkan bahwa terdapat tiga komponen penting dalam consumer journey, yaitu Demand Engine, Commerce Engine, dan Fulfillment Engine, yang perlu dikelola secara terintegrasi agar pengalaman belanja tetap konsisten dan mendorong pembelian ulang.

Kolaborasi dan Kesiapan Jangka Panjang

Memasuki 2026, fragmentasi kanal belanja diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya tuntutan konsumen terhadap transparansi, nilai produk, dan kepercayaan terhadap brand.

Aska menilai, pelaku usaha perlu mengantisipasi perubahan ini dengan strategi yang lebih terarah. “Kami melihat bahwa fragmentasi kanal belanja, perilaku konsumen yang semakin mengedepankan value-for-money dan riset lintas kanal, serta meningkatnya tuntutan terhadap transparansi dan kepercayaan akan terus membentuk cara konsumen berinteraksi dengan brand di tahun mendatang,” terangnya.

Baca Juga: 52% Konsumen Indonesia Dominan Belanja Lewat Social Commerce

Dari sisi pemerintah, Bambang menegaskan bahwa kebijakan e-commerce pada 2026 akan difokuskan pada perluasan akses pasar produk dalam negeri, pengawasan produk impor, mendorong inovasi PMSE, serta meningkatkan transparansi biaya di ekosistem e-commerce.

Melalui SIRCLO Insights Webinar 2025, para pemangku kepentingan sepakat bahwa kesiapan strategi, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan perdagangan digital Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top