Tantangan Pertumbuhan Social Commerce
Meskipun social commerce dimanfaatkan oleh para brand atau UMKM yang mulai go digital untuk mendorong lebih banyak penjualan, tetap ada tantangan dari menjamurnya fenomena ini.

Tantangan tersebut terkait keamanan transaksi secara online, sehingga seller didorong untuk mengarahkan aktivitas ke marketplace besar seperti Tokopedia dan Shopee. Hal ini menuntut adaptasi model bisnis baru.
Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen masih bergantung pada reputasi penjual dan ulasan pengguna. Dengan demikian, isu keamanan transaksi masih menjadi perhatian utama.
Tren Social Commerce ke Depan
Para analis dan pelaku industri memprediksi beberapa tren utama yang akan menentukan arah social commerce di Indonesia. Salah satu tren utama ialah konten video pendek dan kolaborasi influencer, yang akan menjadi "motor utama" bagi penjualan karena keterlibatan pengguna.
Tren juga menyebutkan "Mobile-first dominance", di mana transaksi lewat perangkat mobile akan terus naik, memperkuat dominasi social commerce yang mudah diakses kapan saja.
Baca Juga: 52% Konsumen Indonesia Dominan Belanja Lewat Social Commerce
Selain itu, tren automasi dan AI: juga akan mendorong social commerce melalui chatbot, rekomendasi personal dan otomasi percakapan guna meningkatkan pengalaman pelanggan.
Social commerce juga akan semakin meroket dengan kemitraan platform sosial dan marketplace. Kolaborasi antara platform video seperti YouTube dengan marketplace besar menunjukkan arah baru omni-channel antara konten sosial dan e-commerce.
Tidak hanya itu, ada peran Gen Z yang semakin dominan. Dengan perilaku konsumtif yang digital-savvy, generasi ini akan terus menjadi penggerak utama dalam tren social commerce.