Kapsultekno.com - Peringatan Safer Internet Day atau Hari Internet Aman Sedunia menjadi momentum penting untuk mengingatkan orangtua akan peran mereka dalam menjaga keamanan anak dan remaja di dunia digital.
Di tengah derasnya arus informasi, tren yang cepat berubah, serta banyaknya aplikasi baru, orangtua tetap bisa mendampingi tanpa harus memeriksa seluruh isi percakapan anak atau berdebat panjang soal durasi penggunaan gadget.
Berikut ini beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh orangtua agar anak dan remaja tetap aman saat mengakses internet:
Bangun Komunikasi Dua Arah yang Hangat
Bagi remaja, media sosial bukan sekadar hiburan. Platform digital menjadi tempat mereka mengeksplorasi hobi, belajar hal baru, hingga menemukan komunitas yang sesuai minat. Meski orangtua mungkin tidak selalu memahami kreator favorit atau candaan yang mereka gunakan, tetap menunjukkan ketertarikan bisa menjadi pintu masuk komunikasi.

Baca Juga: Meta Uji Layanan Langganan Premium di Instagram, Facebook dan WhatsApp
Dari komunikasi yang terjalin dengan baik antara orang tua dan anak, diskusi akan berjalan secara santai dan terbuka sehingga membangun rasa percaya. Orang tua pun bisa menanyakan apa yang paling mereka sukai saat online, bagaimana sikap yang tepat jika menerima pesan dari orang asing, hingga kapan waktu yang ideal untuk beristirahat dari layar.
Pendekatan tersebut membantu menyamakan ekspektasi dan membuat remaja lebih nyaman berbagi cerita sekaligus menjaga agar anak tetap aman bermain di dunia maya.
Manfaatkan Fitur Keamanan Bawaan Platform
Selain komunikasi, orangtua juga bisa memanfaatkan fitur perlindungan yang sudah tersedia di platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Messenger melalui Teen Accounts.
Baca Juga: Meta Akuisisi Manus AI Senilai Rp33 Triliun untuk Perkuat Agen Kecerdasan Buatan
Akun remaja secara otomatis masuk ke pengaturan khusus yang dilengkapi fitur keamanan penting. Dengan demikian, orang asing tidak dapat mengirim pesan secara langsung, hanya teman yang bisa memberikan tag, serta konten yang tidak sesuai usia akan tersaring otomatis.
Bahkan, gambar mencurigakan atau konten yang tidak pantas bagi remaja di pesan langsung (DM) akan diburamkan secara otomatis. Untuk remaja berusia di bawah 16 tahun, setiap upaya mengurangi tingkat perlindungan tersebut harus mendapat persetujuan orang tua.
Atur Screen Time dengan Bijak
Negosiasi soal screen time kerap menjadi tantangan tersendiri di rumah. Untuk membantu orangtua, Meta telah menyediakan fitur pengingat setelah 60 menit penggunaan media sosial setiap hari. Dengan demikian, remaja akan mendapatkan notifikasi berapa lama mereka telah menatap layar sehingga dapat berhenti sejenak untuk beristirahat.
Selain itu, terdapat fitur Mode Tidur yang aktif otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00. Fitur ini akan mematikan notifikasi, mengirim balasan otomatis di DM, serta mengingatkan remaja untuk berhenti menggunakan aplikasi.
Bagi yang menginginkan pengawasan lebih ketat, fitur pengawasan orangtua juga dapat digunakan untuk mengatur batas waktu harian atau membatasi akses pada jam tertentu, seperti saat belajar, makan bersama, atau waktu tidur.

Meski berbagai fitur sudah tersedia, peran orang tua tetap menjadi faktor terpenting. Remaja perlu merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita.
Dengan terus menjaga komunikasi dan menunjukkan kepedulian, orangtua bisa menjadi sosok pertama yang dihubungi saat anak menghadapi situasi tidak nyaman di internet.
Jika orangtua butuh panduan, Family Center Education Hub (https://familycenter.meta.com/) menyediakan berbagai materi dan referensi dari berbagai ahli.
Pemerintah Batasi Akses Media Sosial Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Orang tua tetap memiliki peran dalam mengawasi aktivitas digital anak saat bermain media sosial, game online maupun berselancar di dunia maya. Fitur yang disediakan Meta juga sangat membantu menyempurnakan pengamanan terhadap anak dan remaja di ruang digital.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam hal ini pun memiliki kebijakan untuk menjaga anak-anak dan remaja dari paparan konten negatif internet melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) dan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.

Kedua regulasi tersebut mewajibkan penyelenggara platform digital menyediakan lingkungan daring yang lebih aman bagi anak melalui pengaturan privasi yang ketat, perlindungan data pribadi, verifikasi usia, serta mekanisme pengawasan orang tua.
Aturan tersebut juga mengharuskan platform digital menerapkan langkah-langkah untuk membatasi paparan anak terhadap konten yang tidak sesuai usia, mencegah interaksi dengan pihak yang berpotensi membahayakan, serta menyediakan fitur pelaporan dan perlindungan yang mudah diakses.
Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan bahwa regulasi turunan PP TUNAS menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada berbagai platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring. Kebijakan ini dirancang sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.
Menkomdigi menegaskan bahwa tanggung jawab perlindungan anak di ruang digital tidak hanya berada pada orang tua, tetapi juga pada penyelenggara platform digital yang menyediakan layanan tersebut.