Kapsultekno.com - Para astronom baru-baru ini dibuat heboh setelah teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan menangkap sinyal yang tampak berasal dari komet antarbintang 3I/ATLAS. Diketahui objek ini berada pada posisi terdekatnya dengan Matahari pada akhir Oktober 2025.
Temuan ini sempat memicu spekulasi luas di media dan dunia maya tentang kemungkinan keberadaan teknologi asing atau pesan dari makhluk luar angkasa. Namun, analisis awal menunjukkan bahwa sinyal yang diterima bukanlah transmisi seperti komunikasi radio, melainkan jejak alami dalam spektrum radio yang umum terlihat pada komet yang aktif, dikutip dari BGR.

Teleskop MeerKAT mencatat adanya celah atau notch dalam spektrum radio, bukan suara atau pesan tersandi, yang disebabkan oleh absorbsi gelombang radio oleh molekul hidroksil (OH).
Baca Juga: Misteri Antariksa, Pesawat Luar Angkasa NASA Hilang Kontak Usai Dekati Komet 3I/ATLAS
Molekul-molekul ini terbentuk ketika sinar Matahari memecah molekul air yang keluar dari inti komet, sebuah proses yang dikenal sebagai outgassing yang lazim pada komet yang mendekati bintang mereka. Seluruh pola sinyal itu sesuai dengan karakter aktivitas komet, bukan bukti teknologi antarbintang.
Komet 3I/ATLAS Pertama Kali Dideteksi pada Juli 2025
Komet 3I/ATLAS pertama kali diamati oleh sistem deteksi Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) pada 1 Juli 2025, dan dengan cepat diidentifikasi sebagai objek antarbintang. Ini berarti komet tersebut datang dari luar tata surya kita.
Baca Juga: NASA Hilang Kontak dengan Wahana MAVEN yang Mengorbit Mars
Objek luar angkasa tersebut merupakan salah satu dari tiga objek antarbintang yang pernah tercatat melewati tata surya. Meskipun sinyal radio yang terdeteksi telah dijelaskan secara ilmiah sebagai fenomena alami, beberapa ilmuwan dan penggemar teori luar angkasa tetap mempertanyakan sifat lengkap dari objek ini.
Kendati demikian, konsensus utama di komunitas astronom adalah bahwa sinyal tersebut tidak memberikan bukti adanya kehidupan atau teknologi dari luar angkasa.
Dilansir dari NASA Science, nama "3I" menunjukkan bahwa ini adalah objek antarbintang ketiga yang pernah teridentifikasi melintasi Tata Surya, setelah ʻOumuamua dan 2I/Borisov. Para astronom memastikan statusnya sebagai objek antarbintang karena lintasannya berbentuk hiperbola, artinya ia tidak terikat oleh gravitasi Matahari dan hanya "melintas" sebelum kembali ke ruang antarbintang.
Yang membuat 3I/ATLAS sangat istimewa adalah asal-usulnya. Berbeda dengan komet biasa yang terbentuk di lingkungan Tata Surya, komet ini lahir di sekitar bintang lain yang belum diketahui. Dengan kata lain, 3I/ATLAS membawa material yang terbentuk di sistem planet asing miliaran tahun lalu.
Kecepatannya saat ditemukan mencapai sekitar 221.000 kilometer per jam dan terus meningkat saat mendekati Matahari.

Mengapa komet ini menarik untuk diamati? Komet dianggap sebagai "fosil kosmik" karena masih menyimpan material asli dari masa pembentukan sistem planetnya. Dengan mempelajari debu, es, dan gas yang dilepaskan 3I/ATLAS, ilmuwan dapat memperoleh gambaran tentang komposisi kimia sistem bintang lain tanpa harus mengirim wahana antariksa ke sana.
Pengamatan awal menunjukkan bahwa 3I/ATLAS memiliki karakteristik kimia yang berbeda dari sebagian besar komet di Tata Surya. Salah satu studi menemukan kandungan metanol yang sangat tinggi, yang mengindikasikan komet tersebut mungkin terbentuk di lingkungan yang jauh lebih dingin dibandingkan tempat lahir komet-komet lokal.
Perbedaan tersebut membantu astronom memahami seberapa unik atau umum Tata Surya kita di galaksi.