Kapsultekno.com- Fenomena astronomi ekuinoks kembali terjadi pada 20 Maret 2026. Peristiwa ini merupakan momen ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa, sehingga durasi siang dan malam di hampir seluruh wilayah Bumi menjadi relatif sama.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ekuinoks adalah fenomena ketika Matahari melintasi garis khatulistiwa dan terjadi secara periodik dua kali dalam setahun, yakni sekitar Maret dan September.
Fenomena Alam Rutin, Bukan Gelombang Panas
BMKG menegaskan bahwa ekuinoks merupakan fenomena alamiah yang tidak berbahaya dan tidak identik dengan gelombang panas ekstrem.
Dalam keterangannya, BMKG menyebut bahwa ekuinoks bukan fenomena berbahaya atau kondisi yang mengakibatkan peningkatan suhu udara secara ekstrem dan bertahan lama.
Baca Juga: NASA Bakal Luncurkan Misi Astronaut ke Bulan “Artemis II” pada April 2026
"Keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, dimana kita ketahui rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia bisa mencapai 32-36°C," tulis BMKG dalam siaran pers yang pernah diterbitkan berjudul "Fenomena Equinox Merupakan Fenomena Alamiah".
Meski demikian, suhu udara di Indonesia dapat terasa lebih panas saat siang hari. Hal ini disebabkan oleh posisi Matahari yang berada hampir tegak lurus di atas wilayah ekuator, sehingga radiasi yang diterima permukaan Bumi menjadi lebih maksimal.

Selain itu, saat ekuinoks terjadi, bayangan benda di permukaan Bumi akan tampak sangat pendek bahkan hampir menghilang pada waktu tertentu, fenomena yang dikenal sebagai “hari tanpa bayangan”.
Dampak Terbatas di Wilayah Indonesia
Di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa, dampak ekuinoks umumnya tidak signifikan terhadap perubahan musim. Namun, fenomena ini tetap dapat memengaruhi kondisi cuaca, terutama membuat suhu terasa lebih terik ketika langit cerah.
BMKG juga menjelaskan bahwa kenaikan suhu yang terjadi masih berada dalam batas normal, yakni berkisar antara 32 hingga 36 derajat Celsius, dan tidak termasuk kondisi cuaca ekstrem.
Baca Juga: Studi BRIN: Mikroplastik Ditemukan hingga Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Lebih lanjut, fenomena ini terjadi akibat kombinasi kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari, yang menyebabkan posisi semu Matahari terus berubah sepanjang tahun.
Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir terhadap fenomena ekuinoks. BMKG memastikan bahwa peristiwa ini merupakan bagian dari siklus astronomi tahunan yang normal dan tidak berdampak buruk terhadap kesehatan maupun lingkungan.