Kapsultekno.com- Deforestasi merupakan hilangnya tutupan hutan akibat penebangan, pembukaan lahan sawit, tambang maupun pembukaan lahan lainnya. Ini berdampak langsung pada proses alami yang menjaga kestabilan tanah dan siklus air.
Pohon-pohon memainkan peran penting dalam sistem hidrologi dan geomorfologi bumi. Dengan keberadaan pohon tersebut, maka tumbuhan ini menjaga penyerapan air dan stabilisasi tanah.
Akar pohon memperkuat struktur tanah dan memungkinkan air hujan terserap ke dalam tanah secara bertahap. Tanpa akar yang kuat, tanah lebih mudah tererosi dan tak mampu menahan aliran air yang deras. Akibatnya, air hujan cenderung mengalir cepat ke sungai dan lembah, memicu banjir bandang, dikutip dari Institute for Environmental Research and Education (IERE).

Selain penyerapan air, pohon-pohon atau hutan membantu mengatur siklus air melalui transpirasi (pengeluaran uap air dari daun ke atmosfer) dan penyimpanan air di tanah. Maka dari itu, hilangnya tutupan hutan berarti tanah kehilangan kapasitas untuk menyimpan air, serta menurunkan kelembapan lokal, yang memperburuk intensitas banjir saat hujan deras.
Baca Juga: Misteri Antariksa, Pesawat Luar Angkasa NASA Hilang Kontak Usai Dekati Komet 3I/ATLAS
Tanpa tutupan hutan, risiko longsor akan semakin tinggi. Sebab, akar pohon berfungsi seperti pengikat alami tanah di lereng. Ketika jaringan akar ini hilang akibat deforestasi, tanah kehilangan kekuatan penyangga dan lebih rentan terhadap longsor ketika hujan deras mengguyur.
Seperti yang belakangan ini terjadi, deforestasi dikaitkan dengan bencana alam banjir dan longsor besar yang terjadi di Sumatra pada akhir November – awal Desember 2025. Curah hujan ekstrem berinteraksi dengan hilangnya tutupan hutan, sehingga memperparah dampaknya terhadap masyarakat dan infrastruktur.
Antisipasi Dampak Banjir dan Longsor serta Memulihkan Alam
Setelah bencana terjadi, respons tidak hanya berupa evakuasi dan bantuan darurat, tetapi juga perencanaan ilmiah jangka panjang untuk mengurangi risiko di masa depan dan memperbaiki kondisi alam.
Langkah antisipasi yang dapat dilakukan antara lain reforestasi dan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), yakni menanam kembali pohon dan memulihkan vegetasi hutan di daerah hulu sungai guna mengembalikan fungsi tanah dalam menyerap air dan menahan erosi, dikutip dari Ugm.ac.id.
Pemetaan risiko dan sistem peringatan dini juga penting untuk meminimalisir korban jiwa ketika terjadi bencana alam.
Baca Juga: Megaquake Jepang, Ini Penjelasan Sains soal Pemicu Gempa Bumi dan Tsunami
Tidak hanya reforestasi, pemulihan lingkungan dilakukan melalui penguatan penghijauan di sepanjang sungai, melindungi hutan lindung, serta mengatur kembali lahan yang digunakan secara intensif agar dapat membantu menstabilkan ekosistem.
Selain itu, reevaluasi izin lahan dan penegakan hukum guna mengendalikan pembukaan lahan ilegal dan memperkuat aturan tata ruang untuk mengurangi laju deforestasi dan menekan kerusakan ekologis di area rawan.
Secara ilmiah, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, ia adalah sistem yang mengatur aliran air, menjaga kestabilan tanah, dan mendukung keseimbangan iklim lokal. Deforestasi mengganggu fungsi-fungsi tersebut, sehingga risiko banjir dan longsor meningkat ketika hujan ekstrem terjadi.
Penanggulangan yang efektif perlu kombinasi antara manajemen ekosistem yang baik, langkah kesiapsiagaan bencana, dan rehabilitasi lingkungan.