TERBARU
Memuat berita terbaru...
Talkshow Telkom University Jakarta Kupas Peluang dan Ancaman AI bagi Desainer Grafis
Telkom University membahas peluang AI bagi desainer grafis, termasuk kreativitas, sertifikasi, prompt engineering, dan kesiapan dunia kerja masa depan.

Kapsultekno.com - Telkom University dan Ruang Tengah Digital Network menggelar Talkshow dengan topik "AI Sebagai Partner Kreatif Ancaman atau Peluang bagi Desainer Grafis?" di Telkom University Jakarta, Kampus 1 pada Selasa (26/5/2026).

Talkshow ini dihadiri puluhan mahasiswa dan mahasiswi program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Jakarta. Topik mengenai teknologi kecerdasan buatan (AI) diangkat di tengah kekhawatiran apakah teknologi yang semakin populer ini akan menggantikan profesi desainer grafis di dunia kerja.

Seperti diketahui, beberapa tahun belakangan ini penggunaan tools berbasis AI semakin digunakan secara luas oleh pengguna, baik dari kalangan profesional maupun akademisi. Ada yang menggunakan tools AI untuk kebutuhan riset, meringkas informasi, merangkum catatan hasil rapat dalam bentuk teks hingga penggunaan AI yang mampu menghasilkan (generate) gambar atau video melalui teks (prompt).

Kemampuan AI yang semakin canggih, sehingga gambar bisa diproduksi secara cepat sesuai instruksi pengguna (prompt engineering), memunculkan diskusi yang hangat diperbincangkan para pemerhati teknologi dan bagaimana dampaknya terhadap nasib tenaga kerja manusia di masa yang akan datang.

Didit Putra Erlangga, Praktisi Komunikasi Digital

Sebelum menjawab pertanyaan besar apakah AI menjadi ancaman atau peluang bagi pekerja khususnya desainer grafis, Didit Putra Erlangga, Praktisi Komunikasi Digital mengungkap bahwa AI pada dasarnya merupakan alat yang membantu pekerjaan manusia.

Menurut Didit, mereka yang bekerja sebagai desainer grafis, ketika ada brief yang masuk, maka profesi ini harus dapat mengeksekusi permintaan menjadi hasil visual yang nyata.

Jika tanpa AI, pengerjaan seperti riset bisa memakan waktu 2-3 jam, belum lagi menggambar sketsa secara manual, ditambah revisi client hingga deadline yang sangat ketat. Dengan AI, proses yang memakan waktu yang cukup lama tersebut bisa dipangkas, lebih banyak output yang bisa dihasilkan serta lebih banyak waktu bagi pekerja untuk berpikir kreatif.

"AI tidak akan menggantikan desainer, tetapi AI membantu pekerjaan desainer. Jadi banyak waktu luang yang dipakai untuk aspek kreatif," kata Didit. Didit juga mengatakan bahwa keterbatasan pada AI ialah soal rasa dan empati yang hanya dimiliki oleh manusia.

Baca Juga: Banyak PHK Diklaim Karena Teknologi AI, Sam Altman: Itu Tidak Benar

Lebih lanjut Didit mengungkap, ada keahlian strategis yang membedakan desainer (manusia) dengan mesin selain rasa dan empati, salah satunya ialah kemampuan storytelling. Kemampuan menciptakan narasi inilah yang menjadi kekuatan dari pesan itu sendiri, termasuk skill yang hanya bisa dilakukan oleh manusia ialah membangun relasi, kepercayaan, sense of originality hingga memahami konteks sosial.

Hadirnya AI juga melahirkan workflow baru di dunia kerja bagi desainer grafis, mulai dari brief dan riset sampai dengan concept generation untuk menciptakan visual kasar yang kian mudah berkat bantuan AI. Di tahapan selanjutnya, tetap membutuhkan peran manusia yang melibatkan keputusan, kurasi hingga penyampaian narasi atau storytelling.

Dengan demikian, penggunaan AI yang bertanggungjawab dengan memperhatikan transparansi, hak cipta dan kualitas tetap harus dijaga oleh seorang desainer. "AI adalah alat yang paling powerful yang pernah ada di tangan desainer," tegas Didit.

Oleh karena itu, desainer yang menguasai AI tidak akan kehilangan pekerjaan. "Yang akan kehilangan pekerjaan adalah desainer yang menunggu kepastian sebelum mulai belajar," tambahnya.

Baca Juga: Studi Global Ungkap Teknologi AI Pengaruhi Perilaku Belanja Konsumen

Sementara itu, Ario Pudianingrat, Manager Simpati Beyond Telco Product Growth and Innovation Telkomsel menekankan pentingnya sertifikasi AI bagi para mahasiswa untuk siap menghadapi persaingan para pencari kerja di masa depan.

Ario Pudianingrat, Manager Simpati Beyond Telco Product Growth and Innovation Telkomsel

"Sertifikasi AI bisa didapat melalui Google, Microsoft dan Coursera (platform pembelajaran online)," kata Ario, menjelaskan pentingnya kualifikasi agar peluang diterima di tempat kerja lebih tinggi dibanding mereka yang belum memiliki sertifikat keahlian AI.

Selain sertifikasi maupun portofolio, kemahiran dalam Prompt Engineering juga dinilai penting untuk menghasilkan output yang lebih baik.

Ario juga mengungkap bahwa AI banyak digunakan oleh generasi muda di Indonesia. Laporan menunjukkan bahwa 50% Gen Z usia 13–24 tahun mengaku sering menggunakan AI, dan kelompok ini menjadi yang tertinggi dibanding generasi lain.

Selain itu, laporan Chegg Global Student Survey 2025 menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan pertama dengan sekitar 95% pelajar/mahasiswa menggunakan AI. Survei Tirto dan Jakpat juga menunjukkan bahwa 87 persen pelajar Indonesia memanfaatkan teknologi AI untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Data lain menunjukkan bahwa AI dalam dunia kerja membantu mempercepat penyelesaian tugas sebesar 25 persen dengan kualitas 40 persen lebih tinggi serta produktivitas yang meningkat 4 kali lipat. Indonesia pun berada pada urutan ke-8 dalam trafik platform AI global dengan sekitar 304 juta visit pada 2025 berdasarkan laporan AItools.xyz.

Baca Juga: Sejarah Teknologi AI, Gagasan Alan Turing hingga Kecerdasan Buatan Modern

Angka-angka tersebut menunjukkan AI sudah menjadi bagian yang erat dari dunia pendidikan maupun pendorong bagi produktivitas para pekerja. Oleh karenanya, diperlukan persiapan terkait skill AI yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja bagi mahasiswa, terutama program studi Desain Komunikasi Visual (DKV).

Untuk menghadapi dunia kerja dan industri yang mengandalkan AI dalam pekerjaan, mahasiswa kini dituntut untuk terbiasa dengan penggunaan AI. Misalnya, membangun workflow ke dalam pelajaran di sekolah atau kampus dengan tools populer seperti Perplexity untuk riset, ChatGPT untuk membuat draft dan sebagainya.

Tools atau aplikasi AI juga dapat dimaksimalkan dengan penguatan pada teks prompt, penegasan role dan konteks serta capaian apa yang diinginkan oleh pengguna. Tidak hanya itu, mahasiswa juga perlu membiasakan tools AI sebagai partner untuk diskusi dan melatih diri untuk berpikir secara kritis.

Talkshow mengenai "AI Sebagai Partner Kreatif Ancaman atau Peluang bagi Desainer Grafis?" yang digelar oleh Telkom University dan Ruang Tengah Digital Network didukung oleh Telkomsel dan media partner Nativzen.com.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *