Kapsultekno.com – Microduck, robot berbentuk bebek mungil yang dibekali teknologi kecerdasan buatan (AI), menjadi sorotan setelah tampil dalam presentasi CEO NVIDIA Jensen Huang di konferensi GTC Berlin. Popularitasnya melonjak setelah video demonstrasi robot tersebut viral dan jumlah pemesanan awalnya menembus 20.000 unit.
Dikutip dari TechCrunch dalam laporan Julie Bort pada 23 Oktober 2026, Clem Delangue, CEO Hugging Face, mengungkapkan bahwa preorder Microduck telah melampaui 20.000 unit. Robot ini berpotensi menjadi salah satu produk robotika paling menarik menjelang musim liburan 2026.
Microduck mencuri perhatian ketika Jensen Huang memperkenalkan beberapa robot tersebut dalam presentasi di ajang NVIDIA GTC Berlin pada 21 Oktober 2026. Robot-robot kecil itu memperlihatkan berbagai gerakan, mulai dari berjalan, duduk, berdiri, hingga melakukan gerakan salto.
Demonstrasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kemampuan robot AI belum selalu berjalan sempurna. Ketika diminta untuk tidur, beberapa unit justru terjatuh, sementara robot lainnya membutuhkan instruksi tambahan untuk mengikuti perintah.
Meski demikian, tingkahnya yang menggemaskan membuat video demonstrasi tersebut menarik perhatian pengguna internet. Popularitas ini kemudian ikut mendorong peningkatan pemesanan Microduck.
Menurut TechCrunch, Delangue menilai robot tersebut berpotensi menjadi salah satu robot terlaris tahun ini. Daya tariknya juga tidak terbatas pada anak-anak, karena orang dewasa dapat menggunakannya untuk bereksperimen dengan teknologi robotika.
Dibekali AI dan Bisa Dilatih Melakukan Gerakan Baru
Microduck dikembangkan oleh Pollen Robotics, perusahaan robotika asal Prancis yang diakuisisi Hugging Face pada 2025. Hugging Face sendiri dikenal sebagai platform pengembangan dan berbagi model AI terbuka.
Berbeda dari mainan elektronik biasa yang hanya menjalankan gerakan tetap, Microduck dirancang agar pemiliknya dapat melatih kemampuan baru. Pengembangannya memanfaatkan simulasi komputer untuk mempelajari gerakan sebelum diterapkan pada robot fisik.
Teknologi NVIDIA turut berperan dalam proses tersebut. Simulasi memungkinkan pengembang menguji perilaku robot di lingkungan virtual sebelum menerapkannya ke perangkat nyata.
Pollen Robotics dan Hugging Face juga membuka akses terhadap perangkat lunak dan alat pengembangan robot. Dengan pendekatan ini, pengembang dapat menyesuaikan perilaku Microduck, bereksperimen dengan keterampilan baru, lalu membagikan hasilnya kepada komunitas.
Kemampuan tersebut membuat Microduck tidak hanya menarik sebagai mainan, tetapi juga berpotensi menjadi sarana belajar bagi pelajar, penggemar AI, dan pengembang robotika.
Sekadar informasi, Microduck ditawarkan dengan banderol USD399 per unit atau sekitar Rp7,2 jutaan, menurut laporan Roboticaguide. Robot ini berukuran 25 cm dan lebarnya 14 cm, dengan berat kurang dari 800 gram (toko menyebutkan 780 gram).
Robot ini memiliki 15 motor, prosesor Rockchip RK3566 dengan akselerator AI, RAM 1 GB, dan penyimpanan 32 GB. Untuk penginderaan, ia dilengkapi kamera depan dengan lampu indikator perekaman, dua IMU, dan sensor kedalaman time-of-flight 8x8 yang disebut Pollen sebagai LiDAR. Terdapat mikrofon, speaker dengan suara yang dihasilkan untuk setiap robot, dua antena NFC, Wi-Fi, dan Bluetooth.
Robot tersebut didukung baterai NP-F550 2.600 mAh yang dapat dilepas. Tersedia dalam empat pilihan warna seperti Krem, Grafit, Lavender, dan Biru Langit.
Berpotensi Jadi Mainan AI Populer pada Akhir 2026
Lonjakan preorder memperlihatkan adanya minat terhadap perangkat AI yang dapat berinteraksi secara fisik, bukan sekadar melalui layar komputer atau ponsel.
Selama ini, AI lebih sering dikenal melalui chatbot, generator gambar, dan asisten digital. Microduck menawarkan pengalaman berbeda dengan menggabungkan perangkat keras, sensor, gerakan mekanis, serta sistem pembelajaran berbasis AI.
