Kapsultekno.com -CEO OpenAI, Sam Altman, mengatakan bahwa banyak perusahaan menyalahkan kecerdasan buatan (AI) atas pemutusan hubungan kerja (PHK), padahal kenyataannya alasan PHK tersebut sering kali berbeda.
Pernyataan ini disampaikan Altman saat diwawancarai di acara AI Impact Summit 2026 di New Delhi, India. Menurut Altman, fenomena ini disebut sebagai “AI washing”, ketika perusahaan menggunakan alasan AI untuk menjelaskan PHK yang sebenarnya disebabkan oleh faktor lain seperti restrukturisasi atau pengurangan biaya.
“Saya tidak tahu berapa persentase pastinya, tetapi ada semacam upaya mengalihkan tanggung jawab AI di mana orang-orang menyalahkan AI atas PHK yang seharusnya mereka lakukan," kata Altman dalam wawancara dengan CNBC-TV18, dikutip dari Itpro.
Apa Itu AI Washing?
Istilah AI washing merujuk pada praktik perusahaan yang menunjuk teknologi AI atas keputusan pengurangan tenaga kerja, padahal alasan sesungguhnya mungkin karena kesalahan dalam pengelolaan perusahaan, overhiring, atau alasan finansial lainnya.

Baca Juga: OpenAI Rekrut Pendiri OpenClaw untuk Dorong Layanan Agen AI
Laporan dari berbagai analis industri menunjukkan bahwa banyak perusahaan besar seperti Amazon, Microsoft, dan lainnya pernah menyebut AI dalam pengumuman PHK mereka, tetapi kemudian konteksnya berubah atau diakui sebagai bagian dari perubahan strategi yang lebih luas, bukan karena AI benar-benar mengambil alih pekerjaan.
Altman Akui AI Akan Mengubah Pasar Kerja
Meski begitu, Altman juga mengakui bahwa AI tidak sepenuhnya netral terhadap pekerjaan manusia. Teknologi ini memang berpotensi mengubah berbagai jenis pekerjaan, terutama tugas yang rutin atau berbasis komputer.
Baca Juga: Bos Google: Jangan Percaya Begitu Saja pada Jawaban AI
“Ada beberapa jenis pekerjaan yang benar-benar digantikan oleh AI," tambah Altman. Namun dia juga mengatakan bahwa seiring perubahan teknologi, pekerjaan baru akan muncul, seperti yang terjadi pada setiap revolusi teknologi di masa lalu.
Update: Berdasarkan laporan perusahaan konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mengumumkan rencana pemangkasan 54.836 pekerjaan sepanjang 2025 dengan AI disebut sebagai alasannya. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 12.742 pekerjaan pada 2024.
Kasus perusahaan teknologi finansial asal Swedia, Klarna, menjadi salah satu contoh konkret bagaimana penerapan kecerdasan buatan (AI) dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Pada Februari 2024, Klarna memperkenalkan asisten AI berbasis teknologi OpenAI yang mampu menangani dua pertiga percakapan layanan pelanggan dan menyelesaikan pertanyaan dalam rata-rata dua menit, dibandingkan 11 menit oleh agen manusia.
Klarna memperkirakan kemampuan tersebut setara dengan pekerjaan 700 agen layanan pelanggan penuh waktu, sehingga perusahaan membutuhkan lebih sedikit tenaga dari penyedia layanan pelanggan pihak ketiga.
Dalam wawancara dengan Reuters pada 27 Agustus 2024, CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengungkapkan bahwa jumlah posisi aktif di perusahaan turun dari sekitar 5.000 menjadi 3.800 dalam setahun, terutama melalui natural attrition, yakni karyawan yang keluar tidak digantikan oleh pegawai baru, serta pembatasan perekrutan, bukan melalui PHK secara langsung.
Klarna kemudian melaporkan dalam dokumen tahunannya bahwa AI menghasilkan penghematan biaya sekitar US$39 juta pada 2024.
