Kapsultekno.com - Dalam video yang viral dan beredar luas di media sosial, sebuah kejadian tak terduga memperlihatkan seorang instruktur atau teleoperator robot humanoid yang mengalami cedera akibat robot yang sedang dilatih meniru gerakannya.
Robot yang menjadi sorotan adalah model Unitree G1, sebuah robot humanoid yang dilatih melalui metode teleoperasi di mana gerakan manusia ditangkap oleh motion capture dan kemudian direplikasi oleh robot secara real time, dikutip dari Digital Trends.
Sesi latihan ini awalnya berjalan seperti biasa, di mana operator melakukan serangkaian gerakan bela diri di sebuah ruang kecil, sementara robot mengikuti setiap gerakan secara presisi. Namun situasi berubah ketika operator melakukan sebuah tendangan besar.
Robot yang meniru gerakan itu secara akurasi tinggi justru membuat ia terkena tendangan sendiri, tepat pada bagian yang sensitif atau area vital sehingga ia terjatuh sambil menjerit kesakitan. Robot pun ikut terjatuh.
Kejadian ini menunjukan tantangan dalam pengembangan robot humanoid. Dengan memanfaatkan pengendalian jarak jauh melalui pakaian khusus atau kontroler, robot bisa “belajar” gerakan kompleks yang dihasilkan manusia.
Data latihan ini kemudian digunakan untuk melatih imitasi pembelajaran (imitation learning) dan algoritma reinforcement learning agar robot makin mahir dalam melakukan gerakan secara otomatis.
Baca Juga: Ini Alasan AS Larang Penjualan dan Impor Drone Baru Termasuk DJI
Namun kejadian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki risiko tersendiri, terutama jika robot dikerahkan di ruang yang sama dengan teleoperator. Keterlambatan kecil (latency) dalam sistem atau gerakan yang tak terduga dapat berujung pada situasi yang berbahaya.
Peristiwa konyol sekaligus serius ini menjadi pengingat bahwa pengembangan robot humanoid masih menuntut kehati-hatian dan pengawasan ketat saat diuji coba.
Sekadar informasi, Unitree G1 merupakan robot humanoid yang dikembangkan oleh Unitree Robotics, perusahaan robotika asal Hangzhou, Tiongkok. Robot ini diperkenalkan pada Mei 2024 sebagai humanoid berukuran ringkas yang dirancang untuk menjadi platform pengembangan kecerdasan buatan (AI), penelitian robotika, dan otomatisasi.
Dibandingkan robot humanoid lain di kelasnya, G1 hadir dengan desain yang lebih kecil dan harga yang lebih terjangkau sehingga dapat diakses oleh lebih banyak universitas, laboratorium, serta perusahaan teknologi.

Perjalanan pengembangan G1 berawal dari kesuksesan Unitree Robotics dalam menciptakan robot berkaki empat seperti Go1 dan Go2 yang banyak digunakan untuk riset, inspeksi industri, hingga pendidikan. Setelah memperkenalkan humanoid H1 pada 2023, perusahaan menyadari perlunya robot humanoid yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan kemampuan bergerak.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah G1, yang mengusung teknologi sensor, kamera kedalaman, dan sistem AI untuk mendukung mobilitas serta interaksi di lingkungan nyata.
Tujuan utama diciptakannya Unitree G1 adalah menjadi platform penelitian bagi pengembangan AI fisik (physical AI), yaitu kecerdasan buatan yang mampu memahami lingkungan dan melakukan tindakan layaknya manusia.
Robot ini dirancang untuk membantu peneliti mengembangkan kemampuan berjalan, menjaga keseimbangan, memanipulasi objek, hingga berinteraksi dengan manusia melalui teknik pembelajaran seperti imitation learning dan reinforcement learning. Dengan harga yang lebih kompetitif, Unitree berharap semakin banyak institusi dapat berkontribusi dalam mempercepat inovasi robot humanoid.
Ke depan, Unitree G1 diproyeksikan memiliki peran penting di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, penelitian, manufaktur, logistik, hingga layanan publik. Seiring penyempurnaan perangkat lunak dan model AI, kemampuan robot ini terus berkembang, termasuk melakukan gerakan kompleks, beradaptasi dengan lingkungan, dan membantu pekerjaan yang berulang atau berisiko tinggi.