Kapsultekno.com -CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai memberikan peringatan kepada publik untuk tidak mempercayai begitu saja jawaban yang diberikan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI).
Hal ini disampaikan Pichai dalam wawancara eksklusif dengan BBC, di tengah pesatnya perkembangan model AI generatif di berbagai sektor. Pichai menegaskan bahwa meskipun AI semakin canggih dan mampu membantu pekerjaan kreatif pengguna, teknologi tersebut tetap memiliki batasan.
“Model-model AI masih rentan melakukan kesalahan,” ujarnya, dikutip dari BBC. Oleh karena itu, pengguna diimbau untuk tetap melakukan verifikasi silang terhadap informasi yang dihasilkan AI.

Baca Juga: Prediksi Tren AI di 2026, Data Kini Lebih Penting dari Komputasi
Ia pun mendesak orang-orang untuk menggunakan layanan AI bersama perangkat atau tools yang lain. Menurutnya, penting memiliki ekosistem informasi yang kaya, alih-alih hanya bergantung pada teknologi AI.
"Inilah sebabnya orang-orang juga menggunakan Google Search, dan kami memiliki produk lain yang lebih fokus dalam menyediakan informasi yang akurat," terang Pichai.
Beberapa pakar mengatakan perusahaan teknologi besar seperti Google seharusnya tidak menyarankan pengguna untuk memeriksa fakta hasil perangkat mereka, melainkan perusahaan harus berfokus untuk meningkatkan keandalan sistem mereka.
Peringatkan Risiko Gelembung Investasi AI
Masih dalam kesempatan wawancara dengan BBC, Pichai menyoroti meningkatnya investasi besar-besaran pada teknologi AI. Menurutnya, terdapat potensi gelembung (bubble) yang bisa pecah sewaktu-waktu dan berdampak pada seluruh industri, termasuk perusahaan teknologi besar seperti Google.
"Setiap perusahaan akan terdampak jika gelembung AI pecah," katanya. Pichai juga mengatakan meskipun pertumbuhan investasi kecerdasan buatan merupakan "momen luar biasa", terdapat beberapa "irasionalitas" dalam ledakan AI saat ini.
Tren AI sekarang membuat banyak perusahaan menghabiskan banyak uang untuk industri yang sedang berkembang pesat. Fenomena ini dikaitkan dengan era dot-com pada awal 2000-an.
Meski internet pada saat itu terbukti membawa perubahan besar, euforia berlebihan kala itu tetap menyebabkan banyak perusahaan tumbang. Hal yang sama, katanya, dapat terjadi pada AI jika tidak dikelola dengan matang.
Ada kekhawatiran di Silicon Valley dan sekitarnya akan terjadinya gelembung (bubble) seiring melonjaknya nilai perusahaan teknologi AI dalam beberapa bulan terakhir. Ketika ditanya apakah Google akan kebal terhadap dampak pecahnya gelembung AI, Pichai mengatakan raksasa teknologi itu dapat mengatasi potensi badai tersebut, tetapi juga mengeluarkan peringatan.
"Saya rasa tidak ada perusahaan yang akan kebal, termasuk kami," ujarnya.
Gemini Tetap Rentan Kesalahan
Sejak Mei tahun ini, Google memperkenalkan AI Mode pada mesin pencari mereka, yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan chatbot Gemini. Meskipun hadir sebagai asisten yang mampu memberikan jawaban cepat dan terstruktur, Pichai menegaskan bahwa Gemini bukan sumber informasi yang sepenuhnya dapat diandalkan.
Dalam wawancara dengan BBC, Pichai mendesak pengguna untuk bersikap skeptis terhadap kecerdasan buatan, dan menekankan bahwa bahkan alat canggih seperti Gemini milik Google pun dapat membuat kesalahan.
"Kami bangga dengan upaya yang kami lakukan untuk memberikan informasi seakurat mungkin, tetapi teknologi AI mutakhir saat ini rentan terhadap beberapa kesalahan. Orang-orang harus belajar menggunakan alat-alat ini sesuai keahlian mereka, dan tidak boleh begitu saja mempercayai semua yang dikatakannya," ujarnya.

Baca Juga: Gemini AI di Galaxy Z Flip7, Rahasia UMKM Bikin Konten Premium
Pichai merekomendasikan pemasangan AI dengan metode verifikasi tradisional, seperti pemeriksaan silang fakta dengan sumber yang dapat dipercaya, untuk mengurangi risiko kesalahan fakta, di bidang seperti pendidikan dan berita.
AI Tetap Positif Jika Digunakan dengan Benar
Meski menyampaikan sejumlah peringatan, Pichai menyatakan dirinya tetap optimis terhadap masa depan AI. Bos Google tersebut yakin AI akan dapat melakukan lebih banyak tugas secara mandiri, di mana model AI bertindak seperti "agen" atas nama pengguna.
"Saya pikir apa yang dilakukan seorang CEO mungkin merupakan salah satu hal yang paling mudah dilakukan AI suatu hari nanti," ujar Sundar Pichai.
"Saya pikir langkah selanjutnya dalam 12 bulan ke depan, Anda akan melihat evolusinya, yaitu mereka dapat melakukan tugas-tugas yang lebih kompleks untuk Anda," tambahnya.
Komentar Pichai senada dengan komentar CEO OpenAI, Sam Altman, dilansir dari Businessinsider.
"Saya pikir akan tiba saatnya AI bisa menjadi CEO OpenAI yang jauh lebih baik daripada saya dan saya akan sangat antusias saat itu terjadi," ujar Altman dalam wawancara dengan CEO Axel Springer bulan lalu (Axel Springer adalah pemilik Business Insider).
Pichai mengatakan bahwa pesatnya perkembangan AI berpotensi menguntungkan masyarakat dengan menciptakan peluang baru dan membebaskan orang untuk fokus pada hal lain. Namun, ia juga mengakui bahwa hal itu akan terjadi dan "orang-orang perlu beradaptasi".
12 thoughts on “CEO Google: Jangan Percaya Begitu Saja pada Jawaban AI”