Kapsultekno.com - Ketegangan di dalam perusahaan game raksasa Ubisoft dilaporkan mencapai puncaknya setelah serangkaian pembatalan proyek, restrukturisasi, dan kekhawatiran pemutusan hubungan kerja (PHK).
Banyak pengembang kini berbicara secara terbuka tentang rencana untuk meninggalkan perusahaan, memperlihatkan krisis kepercayaan di antara staf Ubisoft.
Keputusan eksekutif Ubisoft baru-baru ini telah memicu reaksi keras di antara stafnya. Alih-alih menyampaikan keluhan melalui saluran HR tradisional, sejumlah karyawan mulai menyuarakan kekecewaan mereka secara langsung di platform komunikasi internal perusahaan yang terlihat oleh manajemen.
Hal ini, menurut laporan, menunjukkan bahwa “moral krisis” telah mencapai titik di mana banyak pekerja tidak lagi percaya pada arah strategis perusahaan.
Baca Juga: Game Last War dan Raditya Dika Sering Nongol di Iklan YouTube? Ini Reaksi Netizen
Seorang insider industri, Tom Henderson, menggambarkan restrukturisasi tersebut sebagai “final breaking point” bagi sebagian besar pekerja, yang setelah bertahun-tahun menghadapi kepemimpinan yang tidak konsisten.
Pekerja juga menilai bahwa arah proyek tidak jelas dan kini mulai mencari peluang kerja baru bahkan sebelum resmi keluar dari Ubisoft.
Faktor Pembatalan Game dan Kekecewaan Pekerja
Salah satu penyebab utama frustrasi karyawan adalah pembatalan enam proyek game yang sedang dikembangkan, termasuk Prince of Persia: The Sands of Time remake yang telah dikerjakan lebih dari lima tahun dan kemudian tiba-tiba dihentikan.

Baca Juga: Ubisoft Pastikan Assassin’s Creed Shadows Tak Miliki Ekspansi Kedua
Banyak tim kini merasa “ditinggalkan di dalam ketidakpastian” karena tidak adanya arah atau proyek lanjutan yang jelas. Selain itu, perubahan kebijakan kerja yang mewajibkan semua karyawan berada di kantor lima hari seminggu turut memperburuk suasana.
Banyak pekerja menilai kebijakan ini sebagai taktik tidak langsung untuk memaksa staf keluar tanpa pesangon, sering disebut sebagai bentuk “soft layoff”.
Serikat pekerja di sektor game Prancis, seperti Solidaires Informatique dan Syndicat des Travailleureuses du Jeu Vidéo (STJV) telah mengecam kebijakan ini sebagai “disastrous” dan menyerukan pengakhiran PHK, fleksibilitas kerja jarak jauh, serta kenaikan gaji yang nyata.
Mereka bahkan mengorganisir aksi mogok pada 22 Januari untuk mendukung tuntutan tersebut.
Tantangan Finansial yang Memperburuk Ketidakpastian
Situasi internal Ubisoft terjadi di tengah tekanan finansial yang meningkat. Saham perusahaan kini berada di level terendah dalam 15 tahun terakhir, yang memperkuat kekhawatiran karyawan atas keamanan kerja dan prospek jangka panjang.
Ubisoft telah melakukan pemutusan lebih dari 3.500 pekerjaan dan penutupan beberapa studio di Stockholm dan Halifax sebagai bagian dari upaya penghematan biaya.
Beberapa analis bahkan memprediksi kemungkinan pemangkasan lebih lanjut hingga 2.400 pekerjaan lagi menjelang Maret 2028, menambah tekanan pada karyawan yang sudah merasa tidak aman.