Kapsultekno.com - Meta disebut-sebut tengah mengembangkan kacamata pintar terbaru dengan fitur "super sensing". Fitur ini memungkinkan kamera dan mikrofon aktif secara terus-menerus.
Meskipun terdengar canggih, di mana kacamata pintar dibekali teknologi kamera atau kemampuan menangkap gambar, fitur ini memicu kekhawatiran soal privasi jika pengguna tidak tahu kapan kamera aktif dan kapan kamera dalam posisi mati karena lampu indikator tidak ditampilkan pada perangkat.
Laporan dari Financial Times yang dikutip 9to5Google mengungkapkan bahwa Meta sedang mengerjakan kacamata pintar generasi berikutnya dengan kemampuan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan. Yang menjadi kekhawatiran ialah tidak terlihatnya lampu indikator privasi.
Kabarnya, kacamata pintar generasi baru ini akan selalu waspada dan dapat terus merekam audio serta mengambil foto setiap beberapa detik. Pengguna kemudian bisa menanyakan kepada Meta AI tentang audio dan gambar yang direkam.
Menurut beberapa orang yang mengetahui masalah ini, para eksekutif berencana untuk tidak mengaktifkan LED saat fitur super-sensing sedang digunakan, yang berpotensi meningkatkan kekhawatiran privasi seputar teknologi tersebut. Namun, rencana ini masih bisa berubah.

Perusahaan juga sedang membahas apakah data yang dikumpulkan melalui kacamata dan fitur-fiturnya dapat digunakan untuk melatih model AI miliknya sendiri, seiring dengan investasi miliaran dolar yang digelontorkan untuk bersaing dengan perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Anthropic dalam perlombaan AI.
Meta menolak berkomentar tentang “prototipe internal” tetapi mengatakan pendekatannya berfokus pada “privasi yang dibangun sejak awal”. Mereka juga menunjuk pada proyek penelitian perangkat wearable AI baru-baru ini, Aria, yang menurut mereka “menggunakan teknologi pelindung privasi untuk membantu orang tanpa mengambil foto dan video seperti cara kerja kamera tradisional”, termasuk fitur yang secara otomatis mengubah ucapan menjadi teks yang dapat dibaca.
Meta juga mengeksplorasi jenis perangkat selalu aktif lainnya selain kacamata. Pada bulan Desember, mereka membeli Limitless, produsen liontin berbasis teknologi AI, yang dapat merekam dan mentranskripsikan percakapan secara real-time dan memungkinkan pengguna mencari informasi melalui aplikasi milik perusahaan.
Meta telah mengurangi upaya mahal mereka membangun "metaverse" yang dipenuhi avatar serta membutuhkan perangkat headset untuk dapat mengaksesnya. Konsep metaverse tampaknya gagal mendapatkan daya tarik konsumen dan kini perusahaan lebih fokus pada kacamata AI.
Sebelumnya, Meta telah memperkenalkan lini kacamata pintar terbaru hasil kerja sama dengan EssilorLuxottica, Meta Glasses. Berbeda dari generasi sebelumnya yang mengandalkan merek Ray-Ban, produk terbaru ini hadir dengan identitas tersendiri dan dibanderol lebih terjangkau, mulai dari 299 dolar AS atau sekitar Rp5,3 jutaan.
Peluncuran tersebut menunjukkan langkah baru Meta dalam memperluas ekosistem perangkat wearable berbasis AI. Kacamata pintar terbaru ini dirancang sebagai perangkat mandiri yang menggabungkan fungsi komunikasi, hiburan, serta asisten AI dalam bentuk yang menyerupai kacamata biasa.

Meta menyebut perangkat tersebut sebagai penerus teknologi AI glasses yang selama ini dikembangkan bersama EssilorLuxottica. Meta Glasses tersedia dalam tiga desain utama, yakni Meta Adventurer dengan bingkai persegi panjang klasik, Meta Fury yang memiliki tampilan lebih tegas, serta Meta Glasses by Kylie yang dikembangkan bersama Kylie Jenner dengan desain oval ramping.
Sekadar informasi, Meta telah melalui perjalanan panjang mengembangkan smartglass atau kacamata pintar. Dimulai pada 2021, perusahaan membuat Ray-Ban Stories dengan merangkul EssilorLuxottica saat Meta masih bernama Facebook.
Ray-Ban Stories memiliki fitur dua kamera 5MP, speaker open-ear, mikrofon dan mampu menerima panggilan telefon. Pada 2023, perusahaan merilis Ray-Ban Meta Smart Glasses yang memiliki kamera 12MP, desain lebih ringan dan mendukung perintah suara "Hey Meta".
Pada 2024 dan 2025, Meta terus memperbarui perangkat tersebut dengan fitur penerjemah bahasa secara real-time, identifikasi objek hingga kemampuan AI multimodal yang bisa memahami lingkungan sekitar.
Pada 2024, perusahaan mengungkap prototipe Meta Orion. Berbeda dari Ray-Ban Meta, Orion memiliki layar holografik di lensa, menampilkan aplikasi dalam bentuk augmented reality, fitur pelacakan tangan dan dilengkapi gelang neural untuk mengendalikan antarmuka.
Meta Orion belum dijual secara komersial dan masih digunakan oleh karyawan serta mitra terbatas untuk pengembangan lebih lanjut. Barulah pada tahun ini, tepatnya Juni 2026 Meta memperkenalkan lini baru bernama Meta Glasses dan pertama kalinya perusahaan menggunakan mereknya sendiri tanpa embel-embel Ray-Ban.