Kapsultekno.com - Samsung, perusahaan teknologi asal Korea Selatan mendapatkan keuntungan dari tingginya permintaan pasokan chip guna mendukung pengembangan layanan AI, cloud computing, dan perangkat pintar generasi baru.
Jika beberapa bulan lalu Samsung kesulitan menarik pelanggan untuk bisnis manufaktur chip-nya, kini perusahaan tersebut dilaporkan menaikkan harga produksi chip karena kapasitas manufakturnya tertekan oleh lonjakan pesanan pelanggan.
Menurut laporan dari Chosun Biz, Samsung Foundry telah memutuskan untuk menaikkan harga manufaktur chip hingga 15% untuk pelanggan baru. Kenaikan harga ini berlaku untuk node proses canggih seperti 4nm dan 5nm.
Samsung juga dilaporkan menaikkan harga untuk node proses 8nm tertentu yang dioptimalkan untuk aplikasi otomotif, dikutip dari Sammobile.

Harga manufaktur chip biasanya stabil setelah hasil produksi meningkat. Akan tetapi, booming AI yang sedang berlangsung menciptakan kesenjangan antara supply dan demand, mendorong perusahaan manufaktur seperti Samsung Foundry dan TSMC untuk menaikkan harga.
TSMC juga dilaporkan telah menaikkan harga sebesar 5% hingga 10% untuk node proses 3nm, 5nm, dan 7nm-nya.
Tahun lalu, Samsung Foundry mendapatkan kontrak manufaktur chip senilai USD16,5 miliar dari Tesla. Sejak itu, keberuntungannya tampaknya telah membaik, dengan beberapa perusahaan lain, termasuk AMD, Anthropic, BYD, Google, dan Meta, dilaporkan tertarik untuk memproduksi chip mereka menggunakan node proses 2nm dan 4nm dari Samsung
Samsung diperkirakan mencatat kinerja keuangan yang sangat kuat pada tahun ini berkat bisnis semikonduktor. Laporan Reuters menyebut permintaan chip memori untuk AI telah mendorong kenaikan laba Samsung hingga berkali-kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan juga disebut menjadi salah satu pemasok penting bagi raksasa teknologi seperti Nvidia, Google, dan Apple. Meski demikian, kenaikan harga chip berpotensi memberikan dampak berantai terhadap industri teknologi.

Produsen smartphone, laptop, dan perangkat elektronik lainnya kemungkinan harus menanggung biaya komponen yang lebih mahal, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga produk bagi konsumen.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan kondisi pasokan chip memori yang ketat masih akan berlanjut hingga 2027 seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur AI di seluruh dunia.
Krisis Chip Memori Pengaruhi Harga Smartphone Global
Ledakan adopsi AI global sejak akhir 2025 membuat produsen chip seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mengalihkan prioritas produksi ke memori berkecepatan tinggi untuk pusat data, sehingga pasokan DRAM dan NAND untuk perangkat konsumen menipis dan harganya melonjak tajam.
Dengan adanya kelangkaan chip memori untuk perangkat konsumen, maka dampak yang paling terasa ialah harga di segmen entry-level dan menengah (mid-range). CCS Insight, perusahaan riset dan konsultasi teknologi global memproyeksikan pengiriman smartphone global turun hingga 15 persen, sementara merek seperti Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi mulai menaikkan harga jual untuk menjaga margin mereka.
Berdasarkan proyeksi IDC, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) smartphone global pada 2026 diperkirakan naik sekitar 14 persen akibat kelangkaan memori DRAM dan NAND. Sementara beberapa analis industri memperkirakan kenaikan harga smartphone secara global bisa mencapai 15-20 persen apabila pasokan chip memori tidak segera membaik, menurut laporan Nairametrics.