Kapsultekno.com -Para peneliti kini menemukan bahwa salah satu alasan utama baterai ponsel dan perangkat lainnya bisa cepat kehilangan kapasitas ialah karena baterai itu sendiri mengalami gerakan yang mirip dengan “bernapas”.
Selama siklus pengisian dan pemakaian, sel baterai lithium-ion mengembang dan menyusut secara mikroskopis setiap kali arus masuk keluar, sebuah proses yang mirip dengan pernapasan.
Fenomena ini menyebabkan komponen internal baterai mengalami deformasi kecil namun berulang, yang secara perlahan memperlemah struktur dan menurunkan kinerja baterai seiring waktu, dikutip dari News.utexas.edu.
Penelitian dari tim ilmuwan di beberapa universitas terkemuka menjelaskan bahwa bentuk gerakan tersebut bukan hanya perubahan bentuk sederhana, melainkan memberi tekanan mekanik internal yang mengakumulasi kerusakan setiap kali baterai “bernapas”.

Hasilnya, kapasitas penyimpanan energi berkurang dan masa pakai keseluruhan baterai menjadi lebih pendek. Ini menjadi salah satu alasan mengapa baterai smartphone cenderung menurun drastis setelah beberapa ratus siklus pengisian.
Gerakan "expand-contract" baterai ini dikenal dalam dunia ilmu material sebagai degradasi chemomechanical, yakni perubahan kimia dan mekanik yang saling berinteraksi dalam struktur sel baterai.
Tiap kali baterai diisi atau dikosongkan, material di dalamnya mengalami perubahan volume yang menyebabkan tegangan internal. Meskipun perubahan ini sangat kecil, pola berulangnya menyebabkan partikel di dalam elektroda saling menekan dan menarik, sehingga menciptakan retakan atau perubahan struktur mikro.
Baca Juga: Bagaimana Tren Pasar Smartphone di Indonesia pada 2025?
Seperti dikemukakan oleh pemimpin penelitian, gerakan ini terus menumpuk seiring waktu. “Dengan setiap ‘napas’ baterai, ada sedikit derajat irreversibilitas,” ujar salah seorang peneliti, menekankan bahwa efek kecil ini akan terakumulasi dan akhirnya menyebabkan sel mengalami penurunan fungsinya.
Baca Juga: Registrasi Kartu SIM dengan Biometrik Cegah Kejahatan Digital
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa baterai, meski terlihat normal, kehilangan performa setelah pemakaian jangka panjang. Para ilmuwan berharap pemahaman yang lebih dalam tentang mekanisme internal ini bisa membuka jalan bagi desain baterai yang lebih tahan lama, misalnya melalui elektroda yang lebih kuat terhadap tegangan, atau teknik fabrikasi yang mengurangi deformasi internal.
One thought on “Studi Ungkap Mengapa Baterai Ponsel Bisa Rusak dengan Sendirinya”