Kapsultekno.com – Snapchat mengambil langkah baru untuk membatasi penyebaran konten AI slop, sebutan bagi video, gambar, atau tulisan berkualitas rendah yang sepenuhnya dihasilkan kecerdasan buatan (AI). Platform media sosial milik Snap Inc itu mengumumkan bahwa video yang dibuat sepenuhnya menggunakan AI tidak lagi akan direkomendasikan maupun diberi insentif di fitur Spotlight.
Kebijakan tersebut diumumkan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap membanjirnya konten AI generatif di berbagai media sosial. Snap menegaskan bahwa mereka ingin Spotlight tetap menjadi ruang yang mengutamakan kreativitas orisinal dari pengguna, bukan sekadar banjir video otomatis yang diproduksi massal.
Dalam pernyataannya, Snap mengatakan, "Seiring dengan semakin umumnya konten buatan AI yang berkualitas rendah, berulang, dan monoton di internet, kami ingin Spotlight tetap menjadi tempat di mana orang dapat menemukan kreativitas otentik dari orang-orang nyata, karena kami percaya ada nilai abadi dalam menghargai perspektif orisinal, penceritaan pribadi, dan momen-momen yang dipilih orang untuk dibuat dan dibagikan sendiri".
Artinya, video yang sepenuhnya dibuat AI masih dapat diunggah ke Snapchat, tetapi tidak akan direkomendasikan ke lebih banyak pengguna melalui algoritma Spotlight maupun memperoleh insentif monetisasi seperti konten buatan manusia.
Apa Itu AI Slop?
Istilah AI slop merujuk pada konten yang dihasilkan AI secara massal dengan kualitas rendah, repetitif, minim kreativitas, dan dibuat terutama untuk mengejar algoritma, klik, atau pendapatan iklan. Fenomena ini berkembang pesat sejak hadirnya model AI generatif yang mampu membuat gambar, video, musik, hingga artikel hanya dari perintah teks.
Konten semacam ini banyak ditemukan di berbagai platform dalam bentuk video surreal, animasi aneh, cerita fiktif tanpa narasi jelas, maupun gambar hiper-realistis yang sering kali membingungkan pengguna.

Keputusan Snapchat sejalan dengan tren yang mulai dilakukan sejumlah perusahaan teknologi besar. YouTube memperketat kebijakan terhadap konten massal yang tidak autentik, LinkedIn berupaya mengurangi unggahan AI yang dangkal, sementara Substack menggandeng teknologi pendeteksi AI untuk membantu pembaca menilai penggunaan AI dalam sebuah tulisan. Pinterest dan Meta juga telah menerapkan pelabelan terhadap sebagian konten AI di platform mereka.
Meski demikian, pendekatan Snapchat sedikit berbeda. Perusahaan tidak melarang penggunaan AI secara keseluruhan, melainkan hanya menghentikan promosi terhadap video yang sepenuhnya dibuat AI sehingga kreator tetap dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu selama hasil akhirnya tetap mencerminkan kreativitas manusia.
Snapchat Tetap Kembangkan Fitur AI
Menariknya, kebijakan ini tidak berarti Snapchat meninggalkan teknologi AI. Sebaliknya, perusahaan masih aktif mengembangkan berbagai fitur berbasis AI, termasuk AI Clips, yang memungkinkan pengguna mengubah satu foto menjadi video berdurasi lima detik melalui Lens Studio. Fitur tersebut ditujukan sebagai alat kreatif, bukan untuk menghasilkan konten massal demi mengejar algoritma.
Dengan kebijakan terbaru ini, Snapchat berharap Spotlight tetap menjadi tempat untuk menemukan video pendek yang lebih autentik, orisinal, dan berfokus pada cerita serta pengalaman nyata para kreator.
Sekadar informasi, Snapchat adalah media sosial berbasis kamera yang diluncurkan pada September 2011 oleh Evan Spiegel, Bobby Murphy, dan Reggie Brown melalui perusahaan Snap Inc. Berbeda dengan platform lain yang berfokus pada feed publik, Snapchat mengedepankan komunikasi yang lebih privat melalui pesan dan foto yang dapat menghilang otomatis setelah dilihat.

Aplikasi ini juga dikenal sebagai pelopor fitur Stories, filter Augmented Reality (AR) Lenses, Snap Map, serta Spotlight untuk video pendek. Keunggulan tersebut membuat Snapchat populer di kalangan generasi muda, terutama karena pengalaman berbagi konten yang lebih spontan, personal, dan kaya teknologi AR.
Secara global, Snapchat memiliki sekitar 956 juta pengguna aktif bulanan (MAU) dan 483 juta pengguna aktif harian (DAU) per kuartal I 2026, dengan mayoritas pengguna berusia 13–34 tahun. Sementara di Indonesia, popularitasnya masih kalah dibanding Instagram, TikTok, atau WhatsApp.
Data periklanan Snap yang dihimpun DataReportal menunjukkan potensi jangkauan iklan Snapchat di Indonesia sekitar 3,96 juta pengguna, sehingga pasar Indonesia belum menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan platform tersebut.