Kapsultekno.com - Samsung Electronics dilaporkan meningkatkan harga kontrak memori DDR5 RAM lebih dari 100 persen. Harga kontrak merupakan harga yang disepakati melalui perjanjian jangka menengah atau panjang antara produsen dan pembeli besar (produsen laptop/smartphone).
Langkah ini mendorong harga kontrak mendekati level tertinggi dalam sejarah komponen memori dan memperkuat kekhawatiran tentang kelangkaan pasokan di pasar global. Seperti diketahui, produsen kini memfokuskan produksi chip memori untuk mendukung permintaan terkait teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Xda-developers, mengutip penjelasan dari akun pemerhati teknologi di platform X (@jukan05), ia menyebut media Taiwan memberitakan bahwa Samsung tiba-tiba menaikkan harga kontrak DDR5 menjadi USD19,50 atau mendekati USD20. Angka ini menunjukkan peningkatan lebih dari 100% dibandingkan harga kontrak sebelumnya.
Baca Juga: Harga Smartphone Berpotensi Naik di 2026 Akibat Krisis Chip Memori
"Menurut uraian media Taiwan, Samsung menyerah dan memberi tahu pelanggan hilir bahwa 'stok habis'. Industri memandang taktik ini sebagai tindakan yang sangat kejam," tulis @jukan05 di X.
Kenaikan harga ini terlihat drastis dibandingkan awal tahun ketika harga DDR5 masih jauh lebih rendah. Dengan peningkatan kontrak kini mendekati USD19 sampai USD20 per unit atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan beberapa bulan lalu, ada dampak dari kenaikan ini yang merembet ke DDR4.

Ketika harga kontrak DDR5 melonjak tajam, sebagian produsen perangkat beralih kembali ke DDR4 untuk menekan biaya. Lonjakan permintaan ini membuat harga DDR4 ikut naik, terutama pada kontrak OEM.
Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap stok DDR4 yang semakin terbatas. Banyak produsen memori, termasuk Samsung, mengurangi kapasitas produksi DDR4 karena fokus ke DDR5 dan memori AI (HBM). Akibatnya, pasokan DDR4 menjadi lebih kecil, meski teknologinya lebih lama.
Dampak Harga Memori yang Tinggi pada Industri Elektronik
Harga memori yang melonjak diperkirakan akan memengaruhi harga jual perangkat konsumen pada 2026. Produsen laptop dan smartphone kemungkinan akan mentransfer beban biaya yang meningkat kepada konsumen akhir dengan menaikkan harga jual atau mengurangi jumlah RAM pada model yang akan datang.
Beberapa analis bahkan memprediksi konfigurasi memori yang lebih rendah seperti 8GB atau 4GB pada beberapa model dapat kembali muncul di pasar sebagai upaya untuk mengendalikan harga akhir.
Baca Juga: Kenapa Harga RAM PC dan Laptop Naik? Ini Penyebab Utamanya
Penyebab utama kenaikan ini adalah permintaan memori yang sangat tinggi dari sektor AI dan data center, di mana kebutuhan DDR dan High Bandwidth Memory (HBM) terus meningkat.
Pembuat chip memori kini lebih memprioritaskan pasokan untuk data center besar dan proyek AI, yang memberi mereka peluang profit lebih tinggi, namun secara simultan menciptakan tekanan pasokan pada memori biasa untuk perangkat konsumen.
Situasi ini juga diperparah oleh gangguan kapasitas produksi dan lambatnya ekspansi fasilitas pabrik. Banyak pabrikan memori besar, termasuk Samsung, SK Hynix, dan Micron, mengalihkan sebagian besar sumber daya ke produksi memori berperforma tinggi untuk penggunaan AI, sementara jumlah wafer dan lini produksi untuk DDR5 biasa tetap terbatas.
Para analis memperkirakan pasar memori akan tetap menghadapi tantangan hingga 2027 atau lebih lama sebelum kapasitas baru mampu menyerap lonjakan permintaan, menurut The Verge.
Harga Laptop dan Smartphone Naik Akibat Kenaikan Biaya Komponen
Menurut laporan Bisi.org.uk, harga DRAM melonjak 171% secara year-over-year, sementara harga spot DDR5 meningkat empat kali lipat sejak September 2025. Bahkan harga spot beberapa chip DRAM di pasar terbuka dilaporkan naik antara 300% hingga 1.000% dari level awal di 2025.
Dampak kenaikan biaya komponen ini ke segmen PC dan laptop sudah sangat terasa. Dell Technologies dan Lenovo mengumumkan kenaikan harga antara 15% hingga 20% mulai Desember 2025. HP pun mengungkapkan dalam laporan keuangan Q1 2026 bahwa biaya memori kini menyumbang 35% dari total biaya produksi sebuah PC, padahal sebelumnya hanya 15–18%.

Laptop ultrathin premium yang menggunakan DRAM yang disolder langsung ke motherboard menjadi segmen paling rentan, karena tidak bisa menurunkan spesifikasi atau mengganti modul untuk menekan biaya. Proyeksi IDC sendiri menyebut bahwa harga jual rata-rata PC bisa naik antara 4%–6% dalam skenario moderat, atau 6%–8% dalam skenario pesimistis sepanjang 2026.
Di segmen smartphone, dampaknya tidak kalah besar, hanya sedikit lebih lambat terasa karena merek-merek besar sudah menyiapkan stok lebih awal. Harga jual rata-rata smartphone diperkirakan naik 3%–5% dalam skenario moderat, atau 6%–8% dalam skenario pesimistis.
Untuk merek Android di segmen mid-low, di mana RAM adalah diferensiasi utama dan komponen biaya terbesar, kenaikan harga memori akan memaksa mereka menaikkan harga peluncuran model baru di 2026. Bahkan kemungkinan besar smartphone kelas bawah akan kembali hadir dengan RAM hanya 4GB, setelah beberapa tahun terakhir standarnya sudah di 6–8GB, dikutip dari TrendForce.