Kapsultekno.com - Elon Musk, CEO Tesla menempatkan robot humanoid sebagai komponen penting dalam visi jangka panjang bisnisnya. Ia meyakini bahwa robot humanoid punya potensi sebagai pendorong utama nilai perusahaan di masa depan.
Namun sampai akhir 2025, Tesla belum menjual unit robot besar seperti Optimus, sementara China kemungkinan akan lebih dulu merealisasi produksi massal robot humanoid pada 2026, dikutip dari The Times of India.
Langkah Beijing menjadikan pengembangan robot humanoid sebagai prioritas strategis telah mempercepat kemajuan sektor ini. Banyak analis melihat perusahaan-perusahaan domestik di China kini berada di garis depan dalam komersialisasi robot humanoid secara besar-besaran, berkat dukungan kebijakan dan investasi.
China Mempercepat Produksi Robot Humanoid
Pemerintah China telah menjadikan teknologi robotik sebagai bagian dari strategi nasional untuk mempertahankan dominasi dalam persaingan teknologi global. Hal ini mencakup dukungan terhadap perusahaan lokal untuk mempercepat ramp-up produksi robot humanoid, yang diperkirakan siap berjalan pada 2026.

Baca Juga: Duh, Robot Humanoid Mirip Manusia Ini Malah Tendang Instruktur di Area Vital
Beberapa faktor yang mendorong percepatan ini antara lain kekuatan manufaktur China, kapasitas supply-chain yang mendalam, serta upaya untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja akibat demografi yang menua.
Perusahaan seperti Unitree, UBTech, dan lainnya telah diperkirakan akan memimpin produksi dalam skala besar.
Tantangan dan Persaingan Global
Meskipun China dipandang memimpin awal dalam produksi robot humanoid, masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk adopsi massal teknologi ini di pasar global. Keterbatasan teknologi seperti kemampuan manipulasi tangan dan harga yang masih tinggi menjadi hambatan utama.
Baca Juga: Wanita Ini Jatuh Cinta pada ChatGPT, Dampak Nyata Chatbot AI terhadap Kehidupan Manusia
Selain itu, perusahaan Amerika seperti Tesla terus fokus pada integrasi teknologi AI dan proses vertikal untuk mempertahankan keunggulan teknologi mereka, menurut Hack Diversity.
Di samping itu, beberapa analis juga mengingatkan tentang adanya risiko pembentukan gelembung investasi di sektor robotik, karena banyaknya perusahaan dan ekspektasi tinggi yang terkadang belum didukung oleh aplikasi nyata di lapangan.