Kapsultekno.com- Rusia kini memblokir aplikasi pesan instan populer WhatsApp yang dipakai oleh jutaan warga di negeri itu. Hal ini diketahui karena pemerintah Rusia mengecualikan domain whatsapp.com dan web.whatsapp.com dari sistem DNS nasional, langkah yang membuat layanan itu hanya bisa diakses melalui VPN, dikutip dari Bleepingcomputer.
WhatsApp melalui jejaring sosial X mengatakan tindakan itu merupakan “langkah mundur” yang “hanya akan mengurangi keamanan bagi masyarakat di Rusia” dan berjanji akan terus berusaha menghubungkan penggunanya di negara tersebut.
"Hari ini pemerintah Rusia berupaya memblokir WhatsApp sepenuhnya dalam upaya untuk mendorong orang-orang beralih ke aplikasi pengawasan milik negara. Mencoba mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi pribadi dan aman adalah langkah mundur dan hanya akan menyebabkan berkurangnya keamanan bagi masyarakat di Rusia," kata WhatsApp dalam posting-an di X.
Pemerintah Rusia sendiri menyatakan blokade itu sebagai bagian dari penegakan hukum dan pemberantasan kegiatan kriminal dan penipuan, meski kritik menilai tindakan ini lebih berkaitan dengan kontrol informasi.
Tidak hanya WhatsApp, akses ke Telegram yang merupakan aplikasi pesan populer di Rusia dikabarkan dibatasi dengan cara diperlambat, sehingga membuat pengguna tidak nyaman yang mendorong mereka mencari alternatif aplikasi lain.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa otoritas ingin mengarahkan warga beralih ke aplikasi pesan buatan negara, yakni MAX, yang sejak September 2025 telah diwajibkan terpasang pada semua perangkat yang dijual di Rusia.
Pendiri Telegram, Pavel Durov, menanggapi situasi ini dengan menyatakan bahwa Rusia mencoba mendorong warganya beralih ke MAX yang dikontrol oleh Kremlin. MAX sendiri diklaim pemerintah sebagai platform aman yang melindungi komunikasi nasional, namun beberapa pengulas independen telah memperingatkan tentang kelemahan enkripsi dan kemungkinan akses data oleh negara.

Update:Telegram diblokir secara hampir total sejak pertengahan Maret 2026, dengan 95% upaya akses gagal tanpa menggunakan alat bantu seperti VPN atau proxy. Warga Rusia ramai beralih ke VPN untuk mempertahankan akses, namun Rusia mengoperasikan teknik pemblokiran dan pemantauan lalu lintas yang canggih, sehingga dibutuhkan VPN dengan protokol obfuskasi yang tahan sensor, menurut Russiable.
Sementara itu, Max, aplikasi buatan Rusia yang menjadi alternatif yang dipromosikan pemerintah dirancang sebagai super-app all-in-one yang menggabungkan pesan, panggilan, pembayaran, dan layanan pemerintah. Namun para pengkritik memperingatkan bahwa aplikasi ini memiliki kemampuan pelacakan berlebihan dan tidak memiliki enkripsi yang kuat.
Sekadar informasi, Telegram adalah aplikasi pesan instan berbasis cloud yang didirikan oleh Pavel Durov dan saudaranya Nikolai di St. Petersburg, Rusia, pada Agustus 2013, setelah Durov meninggalkan Rusia dan menjual platform media sosial VK karena tekanan terkait kebebasan berekspresi.
Aplikasi Telegram dikenal dengan fitur privasi seperti enkripsi end-to-end opsional, kapasitas grup chat hingga 200.000 anggota, kanal siaran tanpa batas pelanggan, file sharing hingga 2-4 GB, serta jutaan bot untuk otomatisasi, yang membuatnya populer terutama di kalangan pengguna muda dan negara dengan regulasi internet ketat.
Dari sisi pertumbuhan pengguna, Telegram kini memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan dan sekitar 500 juta pengguna aktif harian pada 2026, menjadikannya platform sosial dan pesan terbesar ketujuh di dunia, dengan India sebagai pasar terbesarnya.