Kapsultekno.com - Meta resmi memperkenalkan model kecerdasan buatan terbaru bernama Muse Spark, menandai perubahan strategi perusahaan dari pendekatan open source ke model tertutup.
Perusahaan teknologi raksasa Meta mengumumkan peluncuran Muse Spark sebagai model AI pertama dari divisi Meta Superintelligence Labs. Model ini menjadi tonggak penting dalam ambisi Meta untuk bersaing dengan pemain besar seperti OpenAI dan Google di industri kecerdasan buatan, dikutip dari The Wall Street Journal.
Muse Spark hadir sebagai bagian dari keluarga model AI baru Meta dan kini mulai digunakan untuk mendukung layanan Meta AI di aplikasi dan situs resmi perusahaan. Ke depannya, teknologi ini juga akan terintegrasi ke berbagai platform populer milik Meta seperti WhatsApp, Instagram, hingga Facebook, menurut The Verge.

Baca Juga: Meta Kena Denda Rp5,9 Triliun Terkait Risiko Keamanan Anak di Platform
Beralih ke Model Tertutup, Tinggalkan Open Source
Berbeda dari model sebelumnya seperti Llama yang bersifat open source, Muse Spark justru dikembangkan sebagai model tertutup. Meta hanya memberikan akses terbatas melalui preview privat kepada sejumlah mitra, bukan ke publik luas.
Langkah ini menunjukkan perubahan arah strategi Meta dalam pengembangan AI. Jika sebelumnya perusahaan dikenal mendorong keterbukaan, kini Meta lebih fokus pada pengembangan teknologi buatan sendiri guna meningkatkan daya saing dan monetisasi produk AI mereka.
Baca Juga: Meta Uji Layanan Berbayar Baru Instagram Premium, Apa Saja Fiturnya?
Fokus pada Kemampuan Multimodal dan Reasoning
Muse Spark dirancang untuk menangani berbagai jenis input, termasuk teks dan gambar (multimodal), serta mampu menjawab pertanyaan kompleks di bidang sains, kesehatan, dan matematika.
Dalam pernyataannya, Meta menyebut model ini sebagai fondasi awal. "Model awal ini dirancang kecil dan cepat, namun cukup mumpuni untuk menalar melalui pertanyaan-pertanyaan kompleks dalam sains, matematika, dan kesehatan," kata Meta.

Baca Juga: Meta Siapkan Kacamata Pintar untuk Penderita Gangguan Penglihatan
Selain itu, Muse Spark juga dilengkapi fitur seperti “thinking mode” atau “contemplating mode” yang memungkinkan penggunaan beberapa agen AI sekaligus untuk meningkatkan kemampuan analisis dan pemecahan masalah.
Kemampuan reasoning pada Muse Spark memungkinkan AI memahami dan menyelesaikan masalah secara bertahap. Ini akan membuat AI terlihat alami mirip seperti bagaimana cara manusia berpikir.
Meski demikian, Meta mengakui bahwa model ini masih memiliki keterbatasan, terutama dalam kemampuan coding dan penalaran abstrak, yang akan terus dikembangkan pada versi berikutnya.