TERBARU
Memuat berita terbaru...
Elon Musk Buka Suara soal Rencana Merger Tesla dan SpaceX
Elon Musk mengonfirmasi Tesla dan SpaceX menjajaki merger untuk mengintegrasikan AI, robotika, chip canggih, dan teknologi antariksa.

Kapsultekno.com - Elon Musk mengonfirmasi bahwa Tesla dan SpaceX tengah menjajaki kemungkinan merger atau penggabungan perusahaan. Langkah ini berpotensi menyatukan bisnis mobil listrik, eksplorasi luar angkasa, kecerdasan buatan (AI), robotika, hingga internet satelit dalam satu entitas bisnis raksasa.

Dalam laporan TechSpot pada 21 Oktober 2026, Musk mengatakan bahwa kedua perusahaan telah membentuk komite khusus yang terdiri dari direktur independen untuk mengevaluasi kemungkinan penggabungan tersebut. Pembentukan komite dilakukan atas permintaan pemegang saham masing-masing perusahaan.

Meski mendukung gagasan tersebut, CEO Tesla dan SpaceX itu menegaskan bahwa kesepakatan belum tentu terwujud. Kedua komite masih harus membahas ketentuan transaksi sebelum mengajukannya kepada pemegang saham.

Dalam panggilan konferensi bersama investor pada 20 Oktober 2026, Elon Musk menyampaikan pandangannya mengenai rencana penggabungan kedua perusahaan. "Menurut saya, ada banyak manfaat dalam menggabungkan perusahaan-perusahaan tersebut," kata Elon Musk, sebagaimana dikutip TechSpot.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Musk melihat peluang strategis dari penggabungan Tesla dan SpaceX, terutama dalam pengembangan teknologi AI, desain chip, robotika, serta infrastruktur komunikasi.

Tesla selama ini dikenal melalui kendaraan listrik, teknologi mengemudi otonom, penyimpanan energi, dan pengembangan robot humanoid Optimus. Sementara itu, SpaceX mengembangkan roket, layanan peluncuran satelit, serta Starlink, layanan internet berbasis satelit.

Jika merger terealisasi, kedua perusahaan berpotensi menggabungkan kemampuan teknologi dan infrastrukturnya untuk mendukung pengembangan produk berbasis AI. Namun, Musk juga memberikan peringatan agar investor tidak menganggap penggabungan tersebut sebagai sesuatu yang pasti terjadi.

"Ada orang-orang di luar sana yang berasumsi bahwa penggabungan SpaceX dan Tesla adalah suatu kepastian. Menurut saya, itu pernyataan yang berlebihan," ujar Elon Musk. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembicaraan masih berada dalam tahap penjajakan dan belum menghasilkan kesepakatan final.

AI, Robotika, dan Proyek Chip Jadi Alasan Penggabungan

Salah satu alasan yang mendasari rencana merger adalah meningkatnya kebutuhan kedua perusahaan terhadap teknologi AI dan komputasi.

Tesla membutuhkan kemampuan pemrosesan AI untuk mengembangkan kendaraan otonom dan robot humanoid. Di sisi lain, SpaceX memiliki infrastruktur peluncuran roket dan jaringan komunikasi satelit yang dapat mendukung ambisi Musk dalam mengembangkan pusat komputasi berbasis luar angkasa.

Kedua perusahaan juga terlibat dalam proyek Terafab, inisiatif pengembangan fasilitas manufaktur chip canggih untuk memenuhi kebutuhan komputasi mereka.

Pada Februari 2026, SpaceX juga menggabungkan bisnis AI milik Musk, xAI, ke dalam perusahaannya. Langkah tersebut mempertemukan pengembangan AI dengan teknologi roket dan komunikasi satelit dalam satu organisasi.

Merger Masih Membutuhkan Persetujuan Pemegang Saham

Tantangan utama rencana merger ini adalah proses persetujuan pemegang saham dan penentuan ketentuan transaksi yang dapat diterima kedua pihak.

Musk menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam pembahasan komite khusus karena posisinya di kedua perusahaan menimbulkan konflik kepentingan.

Menurut Reuters pada 21 Oktober 2026, Musk menyebut persetujuan pemegang saham Tesla sebagai salah satu tantangan utama. Merger membutuhkan dukungan mayoritas dari seluruh saham Tesla, bukan hanya saham yang ikut memberikan suara.

Besarnya perusahaan yang berpotensi terbentuk membuat merger ini menjadi salah satu transaksi korporasi paling ambisius yang sedang dibicarakan. Meski demikian, valuasi akhir, rasio pertukaran saham, struktur kepemilikan, dan jadwal pelaksanaan merger belum dipastikan.

Pembicaraan merger muncul ketika SpaceX melaporkan kinerja keuangan yang kuat pada kuartal III 2026. Menurut laporan TechSpot, perusahaan tersebut membukukan pendapatan sekitar USD14,6 miliar atau setara Rp262,8 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Bisnis AI menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan, sedangkan Starlink tetap menjadi kontributor laba terbesar. Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa bisnis Musk semakin berkembang melampaui industri otomotif dan peluncuran roket konvensional.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *