Kapsultekno.com– Meta dikabarkan tengah mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama StoryKit. Ini merupakan layanan yang memungkinkan pengguna, khususnya orang tua untuk membuat cerita pengantar tidur hanya dengan beberapa masukan sederhana.
Aplikasi ini masih dalam tahap uji coba terbatas dan menjadi bagian dari strategi Meta memperluas ekosistem AI generatif di luar chatbot. Laporan TechCrunch mengungkapkan bahwa StoryKit dirancang untuk menghasilkan cerita anak yang dipersonalisasi.
Pengguna dapat menentukan karakter utama, latar cerita, tema, pesan moral, hingga mengunggah foto mainan atau objek tertentu agar AI menjadikannya bagian dari alur cerita. Selain teks, StoryKit juga mampu menambahkan ilustrasi dan musik latar agar pengalaman membaca menjadi lebih interaktif.
Berbeda dengan buku cerita digital biasa, StoryKit memanfaatkan model AI generatif untuk menciptakan cerita yang berbeda setiap kali pengguna memasukkan prompt baru. Misalnya, orang tua dapat meminta cerita tentang seekor naga yang belajar berbagi, atau petualangan boneka kesayangan anak di luar angkasa.

Meta juga menyediakan sejumlah pilihan pesan moral, seperti pentingnya kejujuran, keberanian, empati, hingga kerja sama. AI kemudian menyusun alur cerita yang disesuaikan dengan tema tersebut sehingga hasilnya terasa lebih personal dibanding cerita yang sudah ditulis sebelumnya.
Saat ini StoryKit belum tersedia secara global. Menurut laporan TechCrunch, Meta masih menguji respons pengguna, khususnya para orang tua, sebelum memutuskan peluncuran lebih luas.
Perusahaan belum mengumumkan jadwal peluncuran resmi maupun negara mana saja yang akan menjadi pasar awal aplikasi tersebut. Pengujian ini diyakini juga digunakan untuk mengevaluasi kualitas cerita yang dihasilkan AI serta memastikan kontennya tetap aman bagi anak-anak.
Pengembangan StoryKit menunjukkan bahwa Meta semakin agresif memperluas penggunaan AI generatif ke berbagai layanan konsumennya. Sebelumnya, perusahaan telah menghadirkan Meta AI ke WhatsApp, Instagram, Facebook, Messenger, hingga aplikasi mandiri, serta terus mengembangkan model AI terbuka Llama sebagai fondasi berbagai layanan berbasis AI.
Sekadar informasi, Meta menunjukkan komitmen investasi yang sangat agresif terhadap pengembangan AI, dengan anggaran belanja modal (capex) untuk tahun 2026 dinaikkan ke kisaran 125 miliar hingga 145 miliar dolar AS atau hampir dua kali lipat dibanding pengeluaran capex tahun 2025 yang mencapai 72,2 miliar dolar AS.
Lonjakan investasi itu sempat membuat harga saham Meta anjlok tajam sekitar 10 persen dan menghapus sekitar 150 miliar dolar kapitalisasi pasar karena investor mulai mempertanyakan imbal hasil dari belanja sebesar itu. Dana raksasa ini diarahkan hampir sepenuhnya untuk kebutuhan internal, mulai dari platform periklanan yang menjadi sumber pendapatan utama, mesin rekomendasi konten yang menggerakkan Facebook, Instagram, Threads, dan WhatsApp, hingga pengembangan model AI open-source dari keluarga Llama.
CEO Meta Mark Zuckerberg juga menyebut laboratorium Superintelligence AI Meta telah merilis versi Meta AI yang mengalami peningkatan signifikan. Meski begitu, langkah ini bukan tanpa risiko, mengingat total pengeluaran Meta untuk proyek metaverse sejak 2022 telah melampaui 83 miliar dolar dengan hasil yang minim, sehingga banyak analis memberi sorotan ketat apakah investasi besar-besaran pada infrastruktur AI kali ini akan benar-benar membuahkan hasil yang sepadan.