Kapsultekno.com -MetaPlatforms Inc, perusahaan induk Facebook memulai pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di divisi Reality Labs yang fokus pada realitas virtual (VR) dan teknologi metaverse.
Perusahaan berencana memangkas sekitar 10% dari total karyawan Reality Labs, yang setara lebih dari 1.000 hingga 1.500 posisi, sebagian besar berada di divisi yang mengembangkan headset dan pengalaman VR.
Keputusan ini disampaikan melalui memo internal dari Chief Technology Officer Andrew Bosworth, yang mengatakan bahwa pemangkasan tenaga kerja merupakan bagian dari realokasi sumber daya untuk mendukung pertumbuhan di area yang dianggap lebih menjanjikan, yakni kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan perangkat wearable.

“Bulan lalu kami menyatakan bahwa kami mengalihkan sebagian investasi kami dari Metaverse ke perangkat wearable. Ini adalah bagian dari upaya tersebut, dan kami berencana untuk menginvestasikan kembali penghematan tersebut untuk mendukung pertumbuhan perangkat wearable tahun ini,” ujar juru bicara Meta, Tracy Clayton dalam sebuah pernyataan kepada media.
Baca Juga: Random Chat dan Risiko bagi Anak Remaja dalam Fenomena Sosial Digital
Langkah ini datang setelah investasi besar Meta ke metaverse dalam beberapa tahun terakhir gagal menarik minat pasar secara luas, meskipun telah menghabiskan puluhan miliar dolar selama periode tersebut.
Tutup Studio VR dan Fokus ke AI & Wearables
Bagian dari restrukturisasi ini termasuk penutupan beberapa studio pengembangan game VR yang sebelumnya diakuisisi oleh Meta. Tiga studio besar yang ditutup adalah Twisted Pixel Games, Sanzaru Games, dan Armature Studio, yang dikenal mengerjakan judul seperti Marvel’s Deadpool VR, Asgard’s Wrath, dan Resident Evil 4 VR.
Penutupan studio ini menandai langkah tegas Meta meninggalkan beberapa aspek ekonomi konten VR yang selama ini menjadi bagian dari visi metaverse perusahaan. Dampaknya terasa bagi para pengembang dan kru kreatif yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut, serta bagi pengguna yang mengikuti karya mereka.
Baca Juga: Anak Muda dan Kreator Padati Festival “Nyasar ke Dimensi Facebook” di Gandaria City
Seiring pergantian fokus, Meta dilaporkan tengah mempertimbangkan pengembangan smart glasses bertenaga AI dan teknologi wearable lain yang menunjukkan permintaan konsumen lebih kuat dibandingkan headset VR penuh.
Strategi ini sejalan dengan semangat CEO Mark Zuckerberg yang mengalihkan investasi dari ambisi metaverse ke teknologi yang lebih aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.