TERBARU
Memuat berita terbaru...
Ekspor AC Portabel China ke Eropa Barat Melonjak 70 Persen saat Gelombang Panas
Gelombang panas ekstrem meningkatkan permintaan AC buatan China di Eropa dan memicu lonjakan produksi serta ekspor.

Kapsultekno.com - Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di Eropa membawa dampak tak terduga bagi industri pendingin udara (air conditioner/AC) asal China. Permintaan terhadap AC, terutama model portabel, melonjak tajam seiring suhu di berbagai wilayah Eropa menembus lebih dari 40 derajat Celsius.

Kondisi tersebut membuat sejumlah produsen China meningkatkan kapasitas produksi untuk mengejar lonjakan pesanan dari pasar Eropa, dikutip dari Channel News Asia (CNA).

Laporan CNA menyebutkan, permintaan terbesar datang dari negara-negara seperti Prancis, Jerman, Spanyol hingga Italia yang sebelumnya memiliki tingkat kepemilikan AC relatif rendah dibanding kawasan Asia maupun Amerika Utara.

Kini, perubahan iklim dan semakin seringnya gelombang panas membuat masyarakat Eropa mulai menganggap AC bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan penting selama musim panas.

Salah satu produsen yang merasakan lonjakan permintaan adalah Haier. Dalam sebuah video yang diunggah di TikTok, politikus Prancis Geoffroy Boulard memperlihatkan unit AC produksi Haier yang dipasang untuk membantu warga menghadapi cuaca panas. Video tersebut turut mencerminkan meningkatnya penggunaan produk pendingin buatan China di Eropa.

Selain Haier, sejumlah perusahaan Asia seperti Midea, Samsung Electronics, LG Electronics, dan Mitsubishi Electric juga melaporkan peningkatan penjualan dua digit di berbagai negara Eropa. Midea mengungkapkan produk AC portabel PortaSplit bahkan sempat habis terjual di beberapa saluran distribusi akibat tingginya permintaan selama gelombang panas berlangsung.

Fenomena ini didorong oleh karakteristik bangunan di Eropa yang sebagian besar merupakan bangunan lama sehingga pemasangan AC split permanen membutuhkan biaya tinggi dan proses perizinan yang rumit.

Sebagai alternatif, konsumen lebih memilih AC portabel yang dapat langsung digunakan tanpa renovasi besar. Bahkan di sejumlah negara, harga pemasangan AC split bisa melampaui 1.000 euro sehingga produk portabel menjadi pilihan yang lebih ekonomis, menurut Reuters.

Data industri menunjukkan tren tersebut terus menguat. Pada Januari-Mei 2025, ekspor AC China ke Uni Eropa dan Inggris mencapai sekitar 1,39 miliar dolar AS atau meningkat lebih dari 20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Volume pengiriman juga naik sekitar 20 persen menjadi hampir delapan juta unit. Sementara itu, ekspor AC portabel China ke Eropa Barat sepanjang lima bulan pertama 2026 dilaporkan melonjak lebih dari 70 persen secara tahunan.

Lonjakan permintaan juga tercermin dari perilaku konsumen. Di Jerman, penjualan AC secara daring naik sekitar 37 persen pada Mei, sementara pengiriman ke Spanyol dan Prancis dilaporkan meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Para produsen bahkan menjalankan fasilitas produksi dengan kapasitas penuh agar pengiriman dapat dilakukan sebelum puncak musim panas berakhir.

Para analis menilai meningkatnya frekuensi gelombang panas akibat perubahan iklim berpotensi mengubah pasar pendingin udara di Eropa secara permanen. Jika sebelumnya AC identik dengan negara-negara beriklim tropis, kini perangkat tersebut diperkirakan akan menjadi kebutuhan rumah tangga yang semakin umum di berbagai negara Eropa dalam beberapa tahun mendatang.

Gelombang Panas di Eropa Tembus 46 Derajat Celcius, Apa Penyebabnya?

Gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 mendorong suhu di sejumlah wilayah menembus sekitar 46 derajat Celsius. Spanyol menjadi salah satu negara yang mencatat suhu tertinggi, sementara Prancis, Italia, Jerman, hingga negara-negara Eropa Timur juga mengalami temperatur di atas 40 derajat Celsius, memicu peringatan cuaca ekstrem di berbagai kawasan.

Fenomena ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor atmosfer yang saling memperkuat, dan diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim jangka panjang. Penyebab utama secara meteorologi adalah terbentuknya sistem tekanan tinggi (anticyclone) yang menetap dan "terkunci" di atas wilayah Eropa, yang dikenal sebagai fenomena heat dome atau kubah panas.

Met Office Inggris menjelaskan bahwa sistem ini diperkuat oleh belokan tajam pada jet stream di sebelah barat kawasan, sehingga memungkinkan massa udara panas dari Eropa Selatan dan Afrika Utara bergerak ke arah utara. Secara fisika atmosfer, dalam kondisi tekanan tinggi, udara bergerak turun menuju permukaan bumi, dan saat turun, udara mengalami kompresi sehingga suhunya meningkat.

Proses kompresi adiabatik tersebut diperkuat lagi oleh radiasi matahari yang sedang berada pada puncaknya selama musim panas di belahan bumi utara, sehingga suhu udara terus meningkat dari hari ke hari. Pola tekanan tinggi yang menetap ini juga membuat cuaca tetap stabil dan cerah sehingga proses pemanasan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal, karena minimnya tutupan awan yang biasanya bisa memantulkan sebagian radiasi matahari.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *