Kapsultekno.com- Penggunaan drone FPV (First-Person View) dalam konflik antara Rusia dan Ukraina menjadi sorotan terkait bagaimana teknologi dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi perang.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa sejak 2023, drone jenis ini telah bertransformasi dari sekadar alat tambahan menjadi senjata utama di garis depan. Lembaga riset independen berbasis di Amerika Serikat, Institute for the Study of War (ISW) mencatat bahwa penggunaan drone FPV menjadi “fitur utama” dalam operasi tempur modern kedua pihak.
Analisis dari Project Ploughshares mengungkapkan bahwa masing-masing pihak dapat menggunakan lebih dari 50.000 drone FPV setiap bulan pada akhir 2023. Angka ini menunjukkan bahwa drone FPV tidak lagi bersifat eksperimental, melainkan menjadi bagian dari strategi militer massal.
Produksi juga terus meningkat, dengan Ukraina menargetkan jutaan unit per tahun untuk memenuhi kebutuhan di medan perang.

Baca Juga: DJI Lito 1 dan Lito X1 Resmi Meluncur, Ini Fitur dan Harganya untuk Pasar Indonesia
Efektivitas drone FPV juga terlihat dari dampaknya di lapangan. Media Ukraina, Ukrainska Pravda, melaporkan bahwa pasukan Ukraina berhasil menghantam lebih dari 100.000 target Rusia dalam satu bulan pada awal 2026 menggunakan berbagai jenis drone, termasuk FPV.
Sementara itu, kantor hak asasi manusia PBB, OHCHR, menyebut drone jarak pendek seperti FPV sebagai salah satu ancaman paling mematikan, tidak hanya bagi militer tetapi juga warga sipil di wilayah garis depan.
Drone FPV digunakan untuk beragam misi, mulai dari serangan kamikaze presisi, pengintaian jarak dekat, hingga penargetan artileri. Biaya produksinya yang relatif murah dibandingkan sistem persenjataan konvensional membuatnya sangat efektif dalam perang berintensitas tinggi.
Dengan kemampuan manuver tinggi dan kendali langsung oleh operator, drone ini mampu menyerang kendaraan lapis baja hingga posisi pertahanan dengan akurasi tinggi.
Rusia Modifikasi Drone Pengintai Jadi Kapal Induk Drone FPV
Perang drone di Ukraina terus berkembang, dengan Rusia kini memodifikasi drone pengintai menjadi “mothership” atau kapal induk bagi drone kecil tipe FPV (first-person view). Inovasi ini diyakini mampu memperluas jangkauan serangan sekaligus meningkatkan efektivitas operasi di medan tempur, dikutip dari Businessinsider.
Pasukan Rusia terlihat mengubah drone pengintai dari keluarga Orlan terutama model Orlan-10 menjadi platform pembawa drone FPV. Gambar yang dibagikan oleh penasihat drone Kementerian Pertahanan Ukraina, Serhii Beskrestnov, menunjukkan drone tersebut membawa quadcopter FPV di bawah sayapnya.
Dalam unggahannya, Beskrestnov mengatakan, “Kali ini Orlan tampil di kamera. Dia sudah menjatuhkan satu FPV,” menandakan bahwa sistem ini sudah digunakan dalam operasi nyata.

Baca Juga: Hafidh Rezha Sampaikan Cerita dan Rasa Lewat Konten Storytelling via Drone
Berbeda dengan drone sekali pakai seperti Shahed, Orlan-10 merupakan platform yang dapat digunakan kembali. Drone ini memiliki jangkauan operasional sekitar 74 mil dan dapat diprogram hingga mencapai sekitar 370 mil, menjadikannya efektif sebagai pembawa drone kecil ke jarak yang lebih jauh.
Penggunaan drone “induk” memungkinkan drone FPV yang biasanya memiliki jangkauan terbatas untuk menyerang target lebih dalam di wilayah musuh. Selain sebagai pembawa, drone Orlan juga berfungsi sebagai relay sinyal, sehingga operator dapat mengendalikan FPV dari jarak yang lebih jauh.
Dalam kondisi normal, drone FPV dilaporkan hanya mampu mencapai target hingga sekitar 40 mil. Dengan bantuan mothership, jangkauan dapat meningkat signifikan, memberikan keunggulan taktis di medan perang.