Kapsultekno.com- Ratusan pekerja dari perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat (AS) menyerukan kepada CEO perusahaan mereka untuk berbicara menentang tindakan U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) terkait pembunuhan Alex Pretti, perawat berusia 37 tahun yang ditembak oleh agen federal di Minneapolis akhir pekan lalu.
Dikutip dari Startupnews, seruan ini termuat dalam surat terbuka yang ditandatangani lebih dari 450 pekerja teknologi dari perusahaan seperti Google, Meta, OpenAI, Amazon, dan Salesforce.
Dalam surat tersebut, para pekerja menulis, “Selama berbulan-bulan ini, Trump telah mengirim agen federal ke kota-kota kita untuk mengkriminalisasi kita, tetangga kita, teman-teman, kolega dan anggota keluarga kita". Mereka menilai operasi penegakan imigrasi telah menjurus pada kriminalisasi komunitas luas.
Baca Juga: Dituding Sadap Percakapan Pengguna, Google dan Apple Bayar Rp2,7 Triliun
Permintaan utama surat itu adalah agar para pemimpin perusahaan menghubungi Gedung Putih dan meminta ICE untuk keluar dari kota-kota di AS, seruan yang dipicu oleh kekhawatiran akan taktik yang dianggap “militeristik” dan agresif.
Surat terbuka itu bukan satu-satunya tekanan yang dialami para pemimpin teknologi. Beberapa tokoh teknologi seperti LinkedIn co-founder Reid Hoffman mengecam tindakan ICE sebagai sesuatu yang “terrible for the people,” dan pendiri Khosla Ventures, Vinod Khosla, menyebut operasi itu sebagai “macho ICE vigilantes running amuck.”
Sedangkan Chief Scientist Google DeepMind, Jeff Dean, mendorong agar semua pihak, tanpa memandang afiliasi politik, mengecam eskalasi kekerasan. Namun, sebagian besar eksekutif puncak tetap relatif diam atau enggan bersuara publik secara langsung menentang operasi ICE, meskipun sebagian pernah vokal pada isu lain seperti imigrasi dan hak-hak sipil.
Baca Juga: Uni Eropa Buka Investigasi Resmi Terhadap X Atas Deepfake Grok AI
Hal ini menciptakan tekanan moral di dalam perusahaan, di mana pekerja mempertanyakan konsistensi nilai perusahaan dengan adanya hubungan kontraktual dengan agensi yang kini kontroversial.
Seruan pekerja juga menyerukan penghentian semua kontrak dengan ICE, yang dapat berdampak signifikan karena beberapa perusahaan teknologi memiliki hubungan komersial atau teknis dengan ICE melalui penyediaan infrastruktur, perangkat lunak, serta layanan cloud.
Hal tersebut dinilai sebagai pembahasan etis dan bisnis yang mungkin sulit bagi CEO karena kontrak-kontrak yang terjadi dengan lembaga itu memiliki nilai besar dan implikasi luas.
