Kapsultekno.com – Krisis RAM global memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Memasuki paruh kedua 2026, tekanan pasokan memori tidak hanya membuat harga RAM dan SSD meningkat, tetapi mulai merembet ke kartu grafis, laptop, PC, hingga perangkat elektronik lainnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah Samsung memperingatkan bahwa keterbatasan pasokan memori diperkirakan justru semakin parah pada 2027 dan belum akan benar-benar mereda hingga 2028.
Dalam laporan TechRadar yang diterbitkan 8 Agustus 2026, jurnalis Darren Allan menilai perkembangan terbaru menjadi salah satu periode paling suram sejak krisis memori mulai memengaruhi pasar komponen PC.
Allan telah mengikuti perkembangan harga memori dan komponen PC selama hampir tiga dekade. Menurutnya, sejumlah kabar negatif dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa tekanan harga mulai bergerak ke komponen yang sebelumnya relatif lebih mudah ditemukan.
Krisis RAM Mulai Mengancam Harga GPU
Salah satu dampak yang paling mendapat perhatian adalah potensi kenaikan harga kartu grafis.
Kartu grafis modern tidak hanya membutuhkan GPU, tetapi juga memori video atau VRAM. Ketika harga komponen memori meningkat, biaya produksi GPU ikut terdorong naik.

TechRadar mencatat sejumlah produsen kartu grafis dilaporkan sedang mempertimbangkan kenaikan harga. Gigabyte disebut berencana menaikkan harga kartu grafis sekitar 20 hingga 40 persen di Jepang, sementara MSI dikabarkan akan menaikkan harga GPU Nvidia di China sebesar 20 persen atau lebih.
Asus juga disebut tengah mempersiapkan kenaikan harga sekitar 20 persen. Sementara itu, sejumlah laporan menyebut model Nvidia GeForce RTX 5000 di Korea Selatan berpotensi mengalami kenaikan harga hingga 30 persen.
Perlu dicatat, sebagian informasi tersebut masih berupa laporan dan rumor regional sehingga belum dapat dianggap sebagai kenaikan harga global yang sudah dikonfirmasi. Namun, pola kenaikan yang muncul di sejumlah pasar menjadi sinyal bahwa biaya memori mulai memberikan tekanan lebih luas terhadap industri kartu grafis.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi menciptakan efek domino. Jika konsumen mempercepat pembelian karena khawatir harga GPU semakin mahal, permintaan dapat meningkat secara tiba-tiba dan membuat stok kartu grafis semakin cepat menipis.
TechRadar menyebut salah satu retailer di Jepang telah melihat peningkatan tajam penjualan kartu grafis RTX 5000 setelah rumor kenaikan harga beredar. Restock GeForce RTX 5070 Ti dan RTX 5080 juga disebut mulai mengalami kondisi yang tidak stabil.
Harga RAM Sudah Naik Tajam
Di sisi RAM, masalahnya sudah lebih nyata. Harga memori DDR5 telah mengalami kenaikan besar selama periode krisis. Bahkan, salah satu indikator harga DDR5 yang dipantau TechRadar disebut telah mencapai rekor tertinggi baru setelah sebelumnya sempat mengalami periode stagnasi.
Tom's Hardware juga melaporkan bahwa harga RAM telah meningkat sekitar 400 persen atau lebih dalam 12 bulan terakhir berdasarkan indikator pasar yang mereka pantau. Kenaikan tersebut membuat biaya membangun PC baru pada 2026 menjadi jauh lebih berat bagi konsumen.
Masalahnya tidak berhenti pada RAM desktop. Memori yang digunakan pada laptop dan perangkat mobile juga mengalami tekanan pasokan.
Produsen laptop Framework sebelumnya mengungkap adanya kenaikan biaya yang sangat besar untuk memori mobile. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelangkaan DRAM mulai memengaruhi berbagai jenis perangkat, bukan hanya modul RAM yang dibeli pengguna PC secara terpisah.
Samsung Prediksi Krisis Memori Bertahan hingga 2028
Salah satu alasan situasi ini sulit segera diperbaiki adalah besarnya kebutuhan memori dari industri kecerdasan buatan atau AI.
Pusat data AI membutuhkan DRAM dalam jumlah besar, sementara akselerator AI juga menggunakan memori berkecepatan tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM).
Samsung, salah satu produsen DRAM terbesar di dunia, memperkirakan keterbatasan pasokan memori akan berlangsung hingga 2028. Perusahaan tersebut bahkan memperkirakan kondisi pada 2027 akan lebih ketat dibandingkan 2026.
Samsung menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas produksi semikonduktor baru membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun. Artinya, investasi besar yang dilakukan produsen memori saat ini tidak serta-merta menghasilkan pasokan tambahan dalam waktu dekat.
Kelangkaan pasokan juga mendorong produsen PC mencari sumber memori alternatif.
HP, Asus, dan Acer dilaporkan mulai menggunakan sejumlah kecil DRAM buatan ChangXin Memory Technologies (CXMT) dari China pada beberapa model notebook yang ditujukan untuk pasar di luar Amerika Serikat.
Penggunaan tersebut masih sangat terbatas dan belum menjadi pengganti utama Samsung, SK hynix, atau Micron. Laporan tersebut juga menyebut bahwa produsen PC tetap berhati-hati agar tidak mengganggu hubungan dengan tiga pemain utama industri DRAM.
Menariknya, DRAM CXMT juga tidak serta-merta lebih murah. Salah satu sumber yang dikutip Nikkei menyebut harga DRAM CXMT tidak lebih rendah dibandingkan produk Samsung.
Ini menunjukkan, keputusan menggunakan memori dari CXMT lebih berkaitan dengan upaya mengamankan pasokan daripada sekadar memangkas biaya produksi.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Konsumen?
Dalam situasi seperti ini, konsumen perlu menentukan prioritas sebelum membeli atau melakukan upgrade PC.
Darren Allan dari TechRadar menilai kartu grafis menjadi salah satu komponen yang paling layak dipertimbangkan untuk dibeli lebih awal jika memang sudah masuk dalam rencana upgrade.
Alasannya, GPU memiliki VRAM yang juga bergantung pada pasokan memori. Jika kenaikan harga terus berlanjut, tekanan biaya berpotensi menjalar dari memori sistem ke kartu grafis.
Untuk pengguna yang memang membutuhkan GPU baru pada 2026 atau 2027, membeli ketika masih menemukan model dengan harga yang relatif masuk akal dapat menjadi pilihan. Namun, keputusan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi harga di pasar lokal.
Sementara untuk RAM, TechRadar justru tidak menyarankan melakukan upgrade hanya karena ingin meningkatkan kapasitas jika kebutuhan tersebut belum mendesak. Dengan harga yang masih tinggi, pengguna disarankan menunggu jika komputer yang digunakan saat ini masih mampu menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan baik.
Untuk laptop, situasinya sedikit berbeda. Kenaikan harga RAM dapat langsung memengaruhi harga perangkat baru karena memori merupakan bagian dari biaya produksi. Karena itu, konsumen yang memang sudah membutuhkan laptop baru dapat mempertimbangkan membeli lebih awal daripada menunda terlalu lama dengan harapan harga turun dalam waktu dekat.
