Kapsultekno.com - Di tengah krisis chip memori yang mempengaruhi harga smartphone terbaru karena produsen semikonduktor mendorong produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk AI, muncul opsi untuk memilih smartphone generasi lama guna mendapatkan banderol harga yang lebih murah dengan spek tetap unggul untuk penggunaan beberapa tahun ke depan.
Beberapa produsen ponsel bahkan berani menjamin update keamanan maupun update sistem operasi hingga 4-6 tahun ke depan. Dengan demikian, selama masa dukungan pembaruan software tersebut, seharusnya ponsel masih layak digunakan tanpa harus mempertimbangkan ganti perangkat baru setiap tahunnya.
Bagi yang sensitif terhadap harga, memilih smartphone generasi yang lebih tua bisa jadi opsi menarik karena perangkat masih menawarkan spek terbaik sesuai kebutuhan, di satu sisi pengguna bisa meraih harga yang lebih ramah kantong.
Menurut Aryo Meidianto Aji, pengamat industri ponsel di Indonesia, pandangan mengenai apakah membeli smartphone harus yang terbaru dan saat ini juga atau menunda membeli ponsel baru dengan memilih smartphone generasi lama tergantung dari urgensi penggunanya.

"Memilih seri generasi sebelumnya salah satu cara untuk menghemat budget. Spesifikasi smartphone keluaran 1-2 tahun lalu umumnya masih terbilang mumpuni untuk menunjang kebutuhan harian saat ini," kata Aryo kepada Kapsultekno.com melalui pesan singkat.
Lebih lanjut ia mengatakan, membeli ponsel rilisan terbaru juga masih tetap menjadi opsi yang masuk akal, selama value yang ditawarkan sepadan dengan nilai perangkat yang harus dibayar.
"Banyak brand terus berupaya menjaga harga tetap rasional dengan memberikan kompensasi, seperti memberikan memori ekstra lega dan baterai besar untuk menunjang produktivitas konsumen," ungkap Aryo, yang kini mengemban amanah sebagai Head of Public Relations Honor Indonesia.
"Saran saya, jika ponsel yang dipakai saat ini sudah menghambat rutinitas, lebih baik upgrade sekarang juga. Agar tetap hemat dan untung, manfaatkan momentum diskon seperti promo tanggal kembar atau program bundling khusus dari brand maupun toko-toko ritel," jelasnya.
Seperti diketahui, kenaikan harga smartphone dalam setahun terakhir dipengaruhi oleh kombinasi meningkatnya biaya komponen, terutama memori DRAM dan penyimpanan NAND, serta permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang menyerap kapasitas produksi chip memori.
Produsen memori cenderung memprioritaskan produk untuk server AI dan pusat data karena nilai bisnisnya lebih tinggi, sehingga pasokan untuk perangkat konsumen berpotensi mengetat. Dampaknya, biaya produksi ponsel ikut meningkat, terutama untuk model dengan RAM dan kapasitas penyimpanan besar.
Harga Jual Rata-rata Smartphone Global Naik 27,6%
Menurut IDC, harga jual rata-rata smartphone global diperkirakan mencapai US$581 pada 2026, naik 27,6% dibandingkan tahun sebelumnya. IDC juga memperkirakan harga memori DRAM dan NAND terus meningkat, sehingga produsen semakin sulit mempertahankan harga perangkat murah.
Counterpoint Research memperkirakan tekanan pasokan memori dapat berlanjut hingga paruh kedua 2027, dengan pemulihan pasar baru berpeluang terjadi menjelang akhir 2027 ketika kapasitas produksi tambahan mulai tersedia.
Tekanan terhadap harga smartphone juga berpotensi berlangsung lebih lama seiring krisis pasokan chip memori yang belum menunjukkan tanda segera berakhir.
Laporan Deloitte berjudul Why the Memory Chip Crunch Is Greater Than Expected, and May Not Ease Until 2029 yang diterbitkan 28 Juli 2026 memperkirakan pasokan memori masih dapat berada dalam kondisi terbatas hingga 2029 atau bahkan 2030, terutama jika permintaan dari infrastruktur AI terus meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan harga komponen memori pada level tinggi dan turut menekan biaya perangkat elektronik, termasuk smartphone.
