Kapsultekno.com - Perusahaan keamanan siber (cybersecurity) global, Trend Micro merilis laporan Security Predictions tahunannya untuk 2026. Menurut perusahaan, tahun ini menandai industrialisasi penuh dari kejahatan siber, di mana kecerdasan buatan (AI) dan otomasi kini memungkinkan pelaku ancaman menjalankan seluruh kampanye serangan secara otonom.
Pelaku kejahatan siber juga dapat lebih mudah melakukan pengintaian hingga pemerasan. Kewaspadaan terhadap ancaman siber di 2026 ini dibahas dalam laporan Trend Micro berjudul The AI-fication of Cyberthreat.
Ryan Flores, Lead of Forward-Looking Threat Research di Trend Micro, menyatakan bahwa 2026 akan dikenang sebagai tahun saat kejahatan siber berhenti menjadi industri berbasis layanan dan berubah menjadi industri yang sepenuhnya otomatis.
Perusahaan lebih lanjut mengungkap 6 poin yang menjadi fokus utama, yang perlu diperhatikan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk organisasi.
1. Ancaman Berbasis Teknologi AI
Ini adalah inti dari seluruh laporan. Bisnis-bisnis telah merangkul alat AI untuk meningkatkan efisiensi dan mempertajam pengambilan keputusan. Namun di saat yang sama, penjahat siber juga menggunakan alat yang sama untuk mengotomasi pengintaian, melancarkan kampanye phishing, dan menjalankan serangan dalam skala besar.
Apa yang dulu membutuhkan keahlian mendalam kini bisa dilakukan dengan usaha minimal, karena otomasi berbasis AI meratakan kemampuan antara penyerang terampil dan pelaku ancaman oportunistik.
2. Evolusi Ransomware Akan Lebih Cepat
Ransomware di 2026 akan lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih adaptif. Agentic AI akan mengotomasi setiap tahap siklus serangan, mulai dari penemuan kerentanan hingga negosiasi tebusan, sehingga menyisakan sangat sedikit waktu respons bagi para pembela keamanan.

Para penyerang juga akan menggunakan analisis data otomatis untuk mengidentifikasi titik-titik tekanan potensial, memperpanjang tekanan bahkan lama setelah pelanggaran awal terjadi.
3. APT yang Semakin Kolaboratif
Jika sebelumnya operasi Advanced Persistent Threats (APT) bersifat independen, kini berubah menjadi kolaboratif dan terkoordinasi. APT sendiri diartikan sebagai serangan siber canggih dan terencana di mana perusuh menyusup ke dalam jaringan secara diam-diam dan bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Operasi APT akan semakin diaugmentasi oleh AI, namun manusia tetap akan mengendalikan tujuan dan strategi besarnya. Tujuan utama dari APT ialah spionase, mencuri data sensitif (seperti kekayaan intelektual atau rahasia negara), atau sabotase infrastruktur.
4. Ancaman Cloud yang Lebih Canggih
Yang bikin ancaman cloud di 2026 menjadi sangat berbahaya bukan semata-mata kecanggihannya, melainkan skala kebutaan yang masih menghinggapi sebagian besar organisasi.

Meski adopsi multi-cloud sudah meluas, hampir separuh dari seluruh organisasi masih belum memiliki visibilitas penuh atas aset cloud mereka, sehingga menciptakan titik buta yang bisa dimanfaatkan untuk melancarkan serangan lintas platform.
Di sinilah AI memperparah situasi, di mana para penyerang akan mempersenjatai segalanya, mulai dari kit phishing tingkat lanjut dan container image yang sudah diracuni, hingga miskonfigurasi multi-cloud dan kredensial yang terekspos.
5. Kerentanan yang Dieksploitasi Lebih Cepat
Yang membuat prediksi ini begitu mengkhawatirkan adalah pergeseran kecepatan yang fundamental. Lanskap kerentanan di 2026 akan didefinisikan oleh kecepatan dan kompleksitas, di mana AI mempercepat baik penemuan maupun eksploitasi kelemahan sistem.
Zero-day (kerentanan atau celah keamanan dalam perangkat lunak, sistem operasi, atau hardware yang belum diketahui oleh pengembang atau vendornya) akan bermunculan lebih cepat dari kemampuan siklus patching untuk mengatasinya, dan otomasi akan membuat eksploitasinya menjadi lebih tertarget dan berskala besar.
6. Ancaman Enterprise Baru
Yang membuat ancaman enterprise di 2026 berbeda dari sebelumnya adalah pergeseran arah serangan, bukan lagi hanya dari luar, melainkan dari dalam. Sebagian besar ancaman terhadap perusahaan akan datang dari dalam, berupa penyalahgunaan diam-diam atas sistem yang dipercaya, pipeline otomasi yang dikompromikan, serta orang dalam, baik manusia maupun AI yang beroperasi menggunakan kredensial yang sah.
Bahkan faktor manusia pun kini sedang direkayasa ulang oleh para penyeranxg, di mana aktor negara-bangsa (nation-state actor) kini menggunakan AI untuk menempa identitas sintetis dan persona berbantuan deepfake yang mampu menyusup ke dalam organisasi dari dalam.
Sekadar informasi, nation-state actor adalah istilah dalam dunia keamanan siber yang merujuk pada kelompok peretas atau agen siber yang bekerja atas nama, didanai, atau didukung secara langsung oleh sebuah pemerintah negara.
Benarkah AI Dipakai untuk Kejahatan Siber?
Laporan ini menyoroti bagaimana AI generatif dan sistem agentic sedang mentransformasi ekonomi kejahatan siber. Kampanye intrusi otonom yang beradaptasi secara real time, malware polimorfik yang terus menulis ulang kodenya sendiri, dan rekayasa sosial berbasis deepfake akan menjadi alat standar bagi para penyerang.
Sistem-sistem otonom yang mampu bernalar dan mengeksekusi tindakan kompleks kini mulai digunakan di berbagai industri untuk mengoptimalkan alur kerja, mengelola operasi, dan berinteraksi dengan sistem nyata.

Organisasi yang mengintegrasikan AI lebih dalam ke infrastruktur mereka pun akan menghadapi kelas kerentanan baru, mulai dari sistem penanganan prompt, inference server, platform kontrol model, hingga paket dan library open-source.
Laporan ini juga memperingatkan soal fenomena "vibe coding", di mana kemampuan AI untuk dengan cepat membuat alat dan proyek proof-of-concept, lalu menerapkan modul-modul tersebut ke dalam perangkat lunak produksi atau proses bisnis sehari-hari, membawa risiko yang signifikan.