Kapsultekno.com - Hampir semua smartphone modern mengandalkan lapisan kaca pelindung agar layar tetap aman dari benturan untuk penggunaan sehari-hari. Salah satu teknologi yang paling banyak digunakan adalah Corning Gorilla Glass, yang menjadi standar di berbagai ponsel Android selama lebih dari satu dekade.
Berbeda dengan kaca biasa, Gorilla Glass tidak hanya mengandalkan ketebalan. Material ini diproduksi melalui proses kimia khusus yang membuatnya lebih kuat sekaligus tetap tipis sehingga tidak mengurangi kualitas tampilan maupun sensitivitas layar sentuh.
Proses Pembuatan Gorilla Glass
Gorilla Glass berawal dari campuran pasir silika (silicon dioxide) dan bahan kimia khusus yang dilebur hingga membentuk aluminosilikat. Setelah dicetak menjadi lembaran kaca yang sangat tipis, material tersebut menjalani proses ion exchange atau pertukaran ion.
Dalam proses ini, kaca direndam ke dalam larutan garam kalium bersuhu tinggi. Ion natrium yang berukuran lebih kecil di permukaan kaca digantikan oleh ion kalium yang lebih besar.
Pergantian tersebut menciptakan lapisan kompresi permanen pada permukaan kaca sehingga mampu menahan retakan dan benturan lebih baik dibandingkan kaca konvensional.

Lapisan kompresi tersebut membuat Gorilla Glass tetap tipis, umumnya hanya sekitar 0,3 hingga 0,5 mm, namun memiliki fleksibilitas yang lebih baik ketika menerima tekanan atau benturan.
Kaca biasa cenderung mudah retak ketika menerima tekanan yang melebihi batas elastisitasnya. Sebaliknya, Gorilla Glass memiliki lapisan kompresi yang membantu menyerap energi benturan sehingga retakan lebih sulit terbentuk maupun menyebar.
Karakteristik ini membuat layar smartphone lebih tahan ketika terjatuh dari ketinggian tertentu atau mengalami tekanan selama penggunaan harian, seperti saat dimasukkan ke dalam saku atau tas. Namun, Gorilla Glass bukan berarti tidak bisa pecah. Benturan pada sudut tertentu atau permukaan yang sangat keras tetap berpotensi merusak layar.
Layar Gorilla Glass Tetap Bisa Tergores
Meski terkenal tangguh terhadap benturan, Gorilla Glass masih memiliki kelemahan terhadap material yang tingkat kekerasannya lebih tinggi.
Partikel pasir yang mengandung kuarsa, logam tertentu, maupun mineral keras masih dapat meninggalkan goresan pada permukaan kaca. Karena itu, penggunaan tempered glass atau pelindung layar tambahan tetap menjadi pilihan banyak pengguna untuk meminimalkan risiko goresan permanen.
Selain Gorilla Glass, terdapat teknologi pelindung layar lain seperti Ceramic Shield yang digunakan pada iPhone sejak seri iPhone 12.
Ceramic Shield juga dikembangkan oleh Corning, tetapi menggunakan tambahan kristal keramik berukuran nano ke dalam struktur kaca. Penambahan ini diklaim meningkatkan ketahanan terhadap benturan tanpa mengorbankan kejernihan layar.
Sementara itu, produsen lain seperti Samsung maupun sejumlah merek asal China juga terus mengembangkan kaca pelindung buatan sendiri sebagai alternatif Gorilla Glass.
Menurut Corning, teknologi Gorilla Glass telah digunakan pada lebih dari 8 miliar perangkat di seluruh dunia, mulai dari smartphone, tablet, laptop, smartwatch hingga sistem otomotif.
Perusahaan juga terus mengembangkan generasi terbaru dengan peningkatan ketahanan terhadap benturan, goresan, dan pantulan cahaya sesuai kebutuhan perangkat modern.
Corning Lanjutkan Pengembangan Gorilla Glass
Corning Gorilla Glass pertama kali digunakan pada iPhone tahun 2007, dibuat dari material alkali-aluminosilikat yang diperkuat secara kimia sehingga ringan, tipis, namun kuat serta tahan gores dan tahan pecah saat perangkat terjatuh.
Sejak generasi pertama, Corning terus mengembangkan seri ini (Gorilla Glass 2, 3, 4, hingga Victus dan Victus 2) yang kini menjadi standar pelindung layar di jutaan smartphone, tablet, laptop, dan wearable dari berbagai merek termasuk Apple dan Samsung.

Pada 2 Maret 2026, Corning resmi meluncurkan Gorilla Glass Ceramic 3, yang diklaim sebagai Gorilla Glass Ceramic paling tangguh yang pernah dibuat, dengan fokus pada peningkatan daya tahan jatuh sepanjang usia perangkat.
Material ini pertama kali akan digunakan pada perangkat foldable terbaru Motorola, yaitu razr fold, yang diperkenalkan di Mobile World Congress 2026.
Dalam pengujian lab, Gorilla Glass Ceramic 3 terbukti mampu bertahan dari jatuhan lebih dari dua meter ke permukaan yang mensimulasikan beton, salah satu permukaan benturan paling menantang bagi perangkat konsumen.
Selain itu, material ini juga tahan setidaknya 20 kali jatuhan berulang dari ketinggian satu meter ke permukaan yang mensimulasikan aspal, sementara kaca aluminosilikat kompetitor biasanya gagal pada jatuhan pertama.
Ini menjadikan Ceramic 3 sebagai lini produk yang lebih fokus pada ponsel foldable premium, terpisah dari lini Gorilla Glass Victus yang biasa dipakai di flagship non-lipat seperti Galaxy S series.