Kapsultekno.com - Pengguna layanan AI Claude mulai membatalkan langganan setelah Anthropic menerapkan sistem watermark tak terlihat pada teks yang dihasilkan. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran karena tanda digital itu dapat tetap melekat meski teks hanya mengalami penyuntingan ringan.
Laporan Business Insider menyebutkan puluhan pengguna di X mengaku membatalkan langganan Claude setelah mengetahui kebijakan tersebut. Media itu juga berbicara dengan empat pengguna yang mengonfirmasi pembatalan dan menyebut watermark sebagai salah satu alasan utama keputusan mereka.
Anthropic sendiri mengatakan belum melihat adanya tren peningkatan pembatalan langganan sejak kebijakan watermark diumumkan. Perusahaan juga menegaskan bahwa tujuan teknologi tersebut bukan untuk mengubah kepemilikan atau menentukan siapa penulis asli sebuah karya.
Berbeda dari watermark pada foto atau video yang biasanya terlihat secara langsung, sistem Anthropic bekerja dengan cara menyisipkan pola statistik ke dalam pilihan kata yang dihasilkan Claude.

Dalam penjelasannya, Anthropic mengatakan model bahasa biasanya memiliki beberapa pilihan kata yang sama-sama masuk akal ketika menghasilkan sebuah kalimat. Sistem watermark kemudian menggunakan metode pengacakan berbeda untuk membuat pola tertentu yang tidak terlihat oleh pembaca, tetapi dapat dikenali menggunakan kunci khusus.
"Perbedaan antara teks yang diberi tanda air dan yang tidak diberi tanda air tidak akan dapat dibedakan oleh pembaca," kata Anthropic, dalam penjelasan di website resminya.
Perusahaan juga menegaskan bahwa tidak ada karakter tersembunyi, font aneh, atau teks rahasia yang ditambahkan ke hasil Claude. Watermark dibuat berdasarkan pola pemilihan kata sehingga dapat dianalisis menggunakan kunci deteksi.
Anthropic menyebut metode tersebut tidak memberikan dampak praktis terhadap kualitas maupun isi jawaban Claude. Perusahaan juga mengatakan watermark tidak membawa informasi identitas yang dapat digunakan untuk menghubungkan sebuah teks dengan orang, organisasi, atau percakapan tertentu.
Pengguna Khawatir Watermark Muncul di Pekerjaan Profesional
Kekhawatiran terbesar datang dari pengguna yang memanfaatkan Claude bukan untuk membuat tulisan dari nol, melainkan sebagai alat bantu pekerjaan.
Arturo Villarroya, seorang pekerja bidang kebijakan publik, mengatakan kepada Business Insider bahwa ia membatalkan langganan Claude Max yang dibanderol mulai USD100 per bulan. Ia sebelumnya menggunakan Claude untuk membuat aplikasi dan berbagai alat, sekaligus membantu riset, pencarian sumber, serta koreksi pekerjaan.

Villarroya khawatir watermark tetap muncul ketika Claude hanya digunakan untuk menerjemahkan, memperbaiki ejaan, memeriksa sitasi akademik, atau melakukan penyuntingan ringan. Ia kemudian mengatakan beralih menggunakan Cursor dan Grok 4.6 untuk kebutuhan coding.
Kekhawatiran serupa disampaikan Vladislav Rajtmajer, pengembang lepas asal Republik Ceko. Ia mengatakan membatalkan langganan Claude Max karena menggunakan AI untuk code review dan penerjemahan.
Menurut Rajtmajer, keberadaan watermark pada kode yang dikirim kepada klien berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai kepemilikan atau bahkan masalah kontrak.
Richard Echols, konsultan AI di Georgia, juga mengaku membatalkan Claude Max. Ia menggunakan Claude untuk membuat dokumentasi perusahaan dan khawatir tanda tersebut tetap muncul ketika materi dasarnya sebenarnya ditulis sendiri.
"Sekalipun Anda mengedit karya tulis Anda sendiri, mereka tetap menambahkan tanda air (watermark)," ujar Richard Echols, konsultan AI.
Sementara itu, Santiago Alessandro Rivera Martínez, software engineer sekaligus pendiri agensi digital Directa, mengatakan kebijakan watermark membuatnya semakin khawatir terhadap ketergantungan pada layanan AI milik satu perusahaan.
"Ketika alur kerja Anda sepenuhnya dibangun menggunakan perangkat lunak berpemilik (proprietary software), penyedia layanan dapat mengubah aturan, fitur, batasan, atau ketentuan terkait alur kerja tersebut di kemudian hari," tutur Santiago Alessandro Rivera Martínez, software engineer dan pendiri Directa.
"Saya lebih memilih agar lapisan AI dalam pekerjaan saya bersifat portabel dan tidak bergantung pada penyedia tertentu," tambahnya.
Anthropic: Watermark Menandakan Claude Terlibat, Bukan Selalu Penulis
Anthropic mencoba menjawab kekhawatiran pengguna melalui penjelasan teknis yang dipublikasikan pada 14 Agustus 2026.
Perusahaan menegaskan bahwa watermark hanya menunjukkan kemungkinan Claude pernah terlibat dalam menghasilkan atau memproses sebuah teks. Sistem tersebut tidak dapat memastikan bahwa Claude merupakan penulis asli seluruh konten.
Artinya, apabila seseorang menulis artikel sendiri kemudian meminta Claude melakukan proofreading, terjemahan, atau penyuntingan, teks tersebut tetap berpotensi memiliki watermark.
Anthropic secara eksplisit mengatakan bahwa watermark tidak menentukan kepemilikan maupun kepengarangan konten dan tidak mengubah hak pengguna berdasarkan ketentuan layanannya.
Hal ini menjadi salah satu poin penting karena pengguna profesional tidak selalu menggunakan AI untuk menghasilkan konten secara penuh. Dalam banyak kasus, AI hanya digunakan sebagai editor, penerjemah, pemeriksa kode, atau alat brainstorming.
Watermark Tidak Mudah Dihapus dengan Edit Ringan
Salah satu alasan kebijakan ini membuat pengguna khawatir adalah kemampuannya bertahan setelah teks disalin atau diedit.
Anthropic menyatakan penyuntingan ringan kemungkinan tidak akan menghilangkan watermark secara keseluruhan. Namun, penulisan ulang secara menyeluruh dengan mengganti setiap kata dapat menghilangkan pola tersebut.
Perusahaan juga mengakui bahwa efektivitas watermark berbeda berdasarkan jenis konten. Teks yang panjang lebih mudah diperiksa karena menyediakan lebih banyak pilihan kata untuk dianalisis.
Sebaliknya, bagian yang sangat faktual cenderung memiliki lebih sedikit pola watermark karena model harus memprioritaskan akurasi. Hal serupa berlaku pada kode pemrograman yang membutuhkan pilihan sintaks dan istilah secara presisi.
Dengan demikian, watermark Claude bukan sistem yang dapat secara mutlak membuktikan bahwa seseorang menggunakan AI untuk menulis sebuah dokumen. Teknologi tersebut lebih tepat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa Claude pernah terlibat dalam proses pembuatan atau pengeditan teks.
Anthropic Siapkan API untuk Mendeteksi Watermark
Saat ini kemampuan mendeteksi watermark tersebut belum tersedia secara luas. Anthropic mengatakan sedang menyiapkan API yang nantinya memungkinkan pengguna maupun pihak ketiga memeriksa apakah sebuah teks memiliki watermark Claude.
Kehadiran API ini dapat membuat sistem watermark lebih berguna bagi perusahaan, penerbit, institusi pendidikan, dan pengembang yang membutuhkan mekanisme untuk memverifikasi penggunaan Claude.
Namun, hasil pemeriksaan nantinya tetap harus dipahami secara hati-hati. Anthropic sendiri menegaskan bahwa watermark hanya dapat menunjukkan kemungkinan keterlibatan Claude, bukan membuktikan secara absolut bahwa Claude menulis keseluruhan teks.
Mengapa Anthropic Menerapkan Watermark Secara Global?
Salah satu alasan utama kebijakan ini adalah regulasi EU AI Act. Aturan transparansi berdasarkan Pasal 50 mulai berlaku pada 2 Agustus 2026 dan mewajibkan penyedia AI tertentu memastikan konten buatan AI memiliki penanda yang dapat dibaca mesin dan dideteksi.
Komisi Eropa menjelaskan bahwa aturan tersebut dirancang agar masyarakat dapat mengetahui kapan mereka berinteraksi dengan AI atau menerima konten yang dibuat maupun dimanipulasi AI. Untuk konten sintetis seperti teks, gambar, audio, dan video, penyedia AI harus menerapkan penanda machine-readable yang memungkinkan konten tersebut dideteksi.
Menariknya, Anthropic tidak hanya menerapkan kebijakan tersebut untuk pengguna di Uni Eropa. Perusahaan mengatakan watermark diberlakukan secara global karena belum memiliki cara yang cukup kuat untuk membatasi penerapannya berdasarkan wilayah.
Untuk model-model Claude yang diluncurkan sebelum 2 Agustus 2026, Anthropic mengatakan penerapan watermark akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang.