Support Us
Advertise here · www.kapsultekno.com
Industri Seluler Diproyeksikan Sumbang USD1,4 Triliun untuk Ekonomi Asia Pasifik pada 2030
GSMA memproyeksikan industri seluler menyumbang US$1,4 triliun bagi ekonomi Asia Pasifik pada 2030.

Kapsultekno.com – Industri seluler diproyeksikan memberikan kontribusi sebesar US$1,4 triliun terhadap perekonomian Asia Pasifik pada 2030, naik sekitar 40 persen dibandingkan kontribusi US$1 triliun saat ini.

Proyeksi tersebut berasal dari laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026, yang mengkaji perkembangan industri seluler, dampak ekonomi teknologi mobile, investasi, serta sejumlah tantangan yang akan menentukan arah transformasi digital kawasan dalam beberapa tahun ke depan.

Data terbaru GSMA juga menunjukkan bahwa pada 2025, teknologi dan layanan seluler telah berkontribusi sekitar US$1 triliun terhadap ekonomi Asia Pasifik atau setara 5,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) kawasan. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring meluasnya penggunaan 5G dan integrasi AI ke berbagai sektor industri.

Menurut GSMA, pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik ke depan tidak lagi hanya bergantung pada perluasan konektivitas. Pemerintah, operator seluler, dan perusahaan teknologi juga harus menghadapi empat isu utama, yakni perkembangan kecerdasan buatan (AI), menurunnya kepercayaan digital, kebutuhan terhadap infrastruktur yang lebih tangguh, serta meningkatnya perhatian terhadap kedaulatan digital.

blank

Keempat isu tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah di berbagai negara Asia Pasifik menghadapi peningkatan penipuan online, kebutuhan infrastruktur untuk AI yang terus bertambah, ketidakpastian geopolitik, serta tuntutan untuk memiliki kemampuan digital yang lebih mandiri.

GSMA menilai kondisi tersebut sekaligus menciptakan peluang baru bagi industri seluler. Pemerintah dan pelaku industri mulai meningkatkan investasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud, sistem pengelolaan data yang aman, serta berbagai kemampuan digital untuk mendukung kebutuhan nasional tanpa mengorbankan keterbukaan dan kerja sama lintas negara.

"Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik. Sebagaimana ditunjukkan dalam laporan ini, perekonomian dan masyarakat di seluruh kawasan mengalami digitalisasi yang pesat, di mana jaringan seluler bertindak sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh. Seiring dengan penekanan pemerintah pada kedaulatan digital dan harapan masyarakat akan perlindungan yang lebih kuat dari penipuan (scam, fraud) serta ancaman siber, tanggung jawab yang diemban oleh industri kita terus bertambah," kata Julian Gorman, Head of Asia Pacific, GSMA.

Ia mengatakan, M360 ASEAN mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan inovator untuk mengatasi berbagai tantangan ini, memperkuat kepercayaan, serta memastikan bahwa transformasi digital memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bagi semua pihak.

5G, AI, dan IoT Jadi Mesin Produktivitas

Laporan GSMA memperkirakan teknologi seperti 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) akan memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan di Asia Pasifik.

Sektor manufaktur dan jasa diperkirakan menjadi penerima manfaat terbesar. Kedua sektor tersebut secara bersama-sama diproyeksikan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi yang dihasilkan teknologi seluler canggih.

Perubahan ini juga membuat peran operator seluler semakin luas. Mereka tidak lagi hanya menyediakan jaringan untuk menghubungkan perangkat, tetapi mulai masuk ke penyediaan infrastruktur AI, layanan cloud, serta solusi perusahaan yang dapat membantu bisnis melakukan digitalisasi dan meningkatkan produktivitas.

blank

GSMA memperkirakan jumlah koneksi 5G di Asia Pasifik akan mencapai 1,5 miliar pada 2030, atau sekitar 50 persen dari seluruh koneksi seluler di kawasan tersebut. Secara global, angka itu diperkirakan setara sekitar seperempat dari total koneksi 5G dunia.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, operator seluler diproyeksikan menggelontorkan belanja modal lebih dari US$200 miliar selama 2025-2030. Ekosistem industri seluler sendiri telah menopang sekitar 18 juta lapangan kerja di Asia Pasifik pada 2025.

Semakin banyak aktivitas masyarakat berpindah ke layanan digital, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan ekosistem tersebut aman dan dapat dipercaya.

GSMA mencatat persentase konsumen di ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31 persen pada 2024 menjadi 45 persen pada 2025. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa scam dan fraud bukan lagi sekadar persoalan keamanan siber, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital.

Karena itu, operator seluler meningkatkan investasi dalam keamanan, pencegahan penipuan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melindungi konsumen dan pelaku bisnis.

Pendekatan terhadap keamanan digital juga mulai bergeser. GSMA menilai industri perlu bergerak dari sekadar menangani insiden setelah terjadi menuju upaya mengurangi risiko sejak awal melalui pertahanan siber yang lebih terintegrasi dengan jaringan, layanan, dan tata kelola digital.

Kedaulatan Digital Makin Diperhatikan

Kedaulatan digital menjadi isu lain yang semakin mendapatkan perhatian pemerintah di kawasan Asia Pasifik. Negara-negara di kawasan mulai memperkuat kemampuan digital nasional untuk mendukung pengembangan AI, mengamankan data, dan memastikan infrastruktur digital yang bersifat kritis dapat memenuhi kebutuhan ekonomi maupun keamanan masing-masing negara.

Operator seluler turut mengambil bagian melalui investasi pada infrastruktur cloud, platform AI, lingkungan data yang aman, dan layanan digital tepercaya.

Namun, peningkatan kedaulatan digital tidak berarti kawasan harus sepenuhnya tertutup. Laporan GSMA menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dengan keterbukaan, inovasi, dan kolaborasi lintas negara.

Ketahanan jaringan juga tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata. Gangguan akibat perubahan iklim, ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok, serta ketergantungan masyarakat dan bisnis terhadap layanan digital membuat jaringan komunikasi harus mampu tetap beroperasi ketika terjadi gangguan.

Karena itu, pemerintah dan industri semakin memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi yang dianggap kritis. Tujuannya bukan hanya memastikan koneksi tetap tersedia, tetapi juga menjaga keamanan dan keandalan layanan ketika menghadapi berbagai risiko.

Di tengah pertumbuhan konektivitas, Asia Pasifik masih menghadapi kesenjangan penggunaan internet. GSMA mencatat lebih dari 700 juta orang dewasa masih belum terhubung ke internet, meskipun wilayah tempat mereka tinggal sebenarnya sudah mendapatkan cakupan jaringan mobile broadband.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perluasan jaringan saja belum cukup untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan manfaat transformasi digital. Faktor seperti keterjangkauan layanan, kemampuan menggunakan teknologi, perangkat, dan tingkat kepercayaan terhadap layanan digital juga menjadi bagian penting dari inklusi digital.

Dengan demikian, pertumbuhan industri seluler hingga 2030 tidak hanya akan diukur dari jumlah jaringan dan perangkat yang terhubung, tetapi juga dari seberapa luas manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan masyarakat.

M360 ASEAN Bahas Masa Depan Digital Kawasan

Berbagai persoalan tersebut akan menjadi bagian dari pembahasan dalam M360 ASEAN 2026, yang dijadwalkan berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 9-10 September 2026. Acara tersebut akan mempertemukan pemerintah, regulator, operator seluler, perusahaan teknologi, dan organisasi internasional.

Agenda M360 ASEAN akan membahas sejumlah isu, mulai dari adopsi AI, kepercayaan digital, kedaulatan digital, ketahanan jaringan, hingga inklusi digital.

YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia, menyampaikan, "Malaysia bangga dapat mendukung perjalanan ASEAN menuju masa depan digital yang lebih terintegrasi, inovatif, dan inklusif. Melalui penguatan kolaborasi di antara pemerintah, industri, dan masyarakat, kita dapat membuka peluang pertumbuhan baru, memperluas partisipasi digital, dan memastikan manfaat dari transformasi digital dirasakan secara merata di seluruh kawasan. M360 ASEAN adalah platform yang penting untuk memajukan visi bersama ini".

Sementara itu, Dr. Kao Kim Hourn, Sekretaris Jenderal ASEAN, mengatakan, "Seiring langkah ASEAN memajukan visi ekonomi digital yang terintegrasi dan siap menghadapi masa depan, kolaborasi lintas pemerintah, industri, dan mitra regional menjadi hal yang esensial.

"M360 ASEAN menawarkan platform yang sangat berharga untuk merajut dialog, memperkuat kemitraan, dan mendukung upaya kolektif yang diperlukan guna mengubah ambisi digital bersama menjadi hasil nyata bagi kawasan," jelasnya.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan tampil dalam agenda tersebut antara lain YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof, Deputi Perdana Menteri Malaysia sekaligus Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air, YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi Malaysia, Dr. Kao Kim Hourn, Sekretaris Jenderal ASEAN, Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom Indonesia serta Bhupinder Singh, Presiden Vodafone Business International.

Dengan proyeksi kontribusi ekonomi mencapai US$1,4 triliun pada 2030, industri seluler diperkirakan tetap menjadi salah satu fondasi utama transformasi digital Asia Pasifik. Tantangannya kini bukan sekadar memperluas konektivitas, melainkan memastikan jaringan, AI, data, dan layanan digital dapat berkembang secara aman, tangguh, inklusif, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *