TERBARU
Memuat berita terbaru...
Metrodata Solution Day 2026 Dorong Perusahaan Ubah Investasi AI Jadi Nilai Bisnis Terukur
Metrodata Solution Day 2026 menyoroti pergeseran AI dari eksperimen menuju nilai bisnis yang terukur dan berkelanjutan.

Kapsultekno.com - Metrodata menggelar Metrodata Solution Day (MSD) 2026 pada Kamis, 20 Agustus 2026 di Shangri-La Hotel Jakarta. Memasuki penyelenggaraan ke-21, MSD 2026 mengusung tema “Winning with AI: Build, Run, and Scale for Measurable Impact”, dengan subtema “Accelerating AI for Real Business and Operational Value”.

Tema tersebut menggambarkan perubahan arah pemanfaatan AI di lingkungan perusahaan. Jika sebelumnya pembahasan banyak berpusat pada seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, kini perhatian bergeser pada bagaimana teknologi tersebut dapat menghasilkan dampak bisnis dan operasional yang dapat diukur.

Kesenjangan antara besarnya investasi AI dan kemampuan organisasi dalam mengimplementasikannya menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam MSD 2026.

Dalam IDC Info Snapshot “From AI Spending to AI Value Creation”, yang disusun bersama Metrodata dan dirilis bertepatan dengan MSD 2026, disebutkan bahwa 56,7 persen organisasi di Indonesia berencana meningkatkan anggaran Generative AI (GenAI) lebih dari 50 persen.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata Asia/Pasifik yang berada di 29,8 persen. Namun, peningkatan anggaran tersebut belum sepenuhnya diikuti kematangan penerapan AI. IDC mencatat tingkat kematangan AI organisasi di Indonesia baru mencapai 2,03 dari skala 5, masih berada di bawah rata-rata Asia/Pasifik dan global.

Dengan kata lain, perusahaan di Indonesia terlihat semakin serius mengalokasikan anggaran untuk AI, tetapi masih memiliki pekerjaan rumah dalam membangun fondasi, tata kelola, keamanan, serta proses operasional agar investasi tersebut menghasilkan manfaat yang konsisten.

Kondisi ini juga menjelaskan mengapa pembahasan AI di MSD 2026 tidak hanya berkutat pada teknologi atau produk, tetapi mencakup cara organisasi membangun fondasi AI, menjalankannya secara terkendali, hingga memperluas penggunaannya ke berbagai fungsi bisnis.

Metrodata Tekankan Tiga Tahap: Build, Run, dan Scale

Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk, Susanto Djaja, mengatakan perusahaan sudah melewati fase ketika tingkat adopsi menjadi satu-satunya indikator kemajuan AI.

"Kita telah melewati fase di mana adopsi menjadi ukuran kemajuan. Indonesia sudah membuktikan itu, salah satu pasar dengan kecepatan adopsi AI tertinggi di kawasan ini. Yang menentukan sekarang adalah nilai yang dihasilkan, bukan seberapa cepat teknologi itu dipakai. Ini soal kepemimpinan. Organisasi butuh disiplin, tata kelola, dan akuntabilitas di setiap investasi AI yang mereka ambil," kata Susanto Djaja, Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk.

Lebih lanjut ia mengatakan, melalui Metrodata Solution Day tahun ini, pihaknya mengajak organisasi mengukur diri bukan dari kecepatan adopsi, tetapi dari dampak nyata yang berhasil mereka ciptakan. Perusahaan pun menekankan tiga tahapan utama, yakni Build, Run, dan Scale.

Tahap Build berkaitan dengan kesiapan dasar organisasi sebelum AI diterapkan secara luas. Aspek yang perlu dipersiapkan mencakup data, arsitektur teknologi, hingga pemilihan use case yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan prioritas bisnis.

Setelah fondasi tersedia, perusahaan masuk ke tahap Run. Pada fase ini, perhatian bergeser pada bagaimana AI dijalankan secara konsisten melalui tata kelola, keamanan, operasional, serta mekanisme pengukuran yang tepat.

Sementara Scale merupakan tahap ketika perusahaan mulai memperluas pemanfaatan AI ke berbagai fungsi bisnis. Tujuannya bukan sekadar memiliki lebih banyak proyek AI, tetapi meningkatkan produktivitas, mempercepat pengambilan keputusan, dan menciptakan nilai bisnis yang lebih besar.

Kerangka tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan AI di perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model AI. Infrastruktur, kualitas data, keamanan, tata kelola, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan mengintegrasikan AI ke proses kerja sehari-hari juga menjadi faktor penting.

Lebih dari 30 Mitra Teknologi Ikut Ambil Bagian

MSD 2026 mempertemukan pemimpin bisnis, praktisi teknologi, dan mitra teknologi global untuk membahas penerapan AI di lingkungan perusahaan.

Metrodata menyebut lebih dari 30 mitra teknologi global berpartisipasi dalam acara tersebut. Topik yang dibahas tidak hanya mengenai AI, tetapi juga mencakup cloud, keamanan siber, analitik data, infrastruktur modern, dan aplikasi enterprise.

Situs resmi MSD 2026 juga mencatat agenda acara mencakup 10 keynote, 9 workshop interaktif, 32 sesi teknologi, dan 32 innovation exhibits, dengan lebih dari 1.200 profesional yang menjadi bagian dari penyelenggaraan tahun ini.

Beragam sesi tersebut memperlihatkan bahwa penerapan AI di perusahaan semakin bersinggungan dengan berbagai lapisan teknologi. AI membutuhkan data yang tersedia dan dapat dipercaya, infrastruktur yang memadai, sistem keamanan yang mampu menghadapi ancaman baru, serta aplikasi bisnis yang dapat mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja.

Microsoft: Tantangan AI Kini Ada di Tahap Eksekusi

Gunawan Susanto, Country General Manager, Microsoft Indonesia, menilai tantangan AI saat ini bukan lagi sekadar bagaimana perusahaan memperoleh akses terhadap teknologi.

"Pembahasan mengenai AI kini bukan lagi soal akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan. Organisasi yang berhasil adalah mereka yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan sehari-hari, mengelolanya secara bertanggung jawab, serta memperluas penerapannya di seluruh organisasi," ujar Gunawan Susanto, Country General Manager, Microsoft Indonesia.

Menurutnya, Microsoft bekerja bersama para pelanggan di Indonesia untuk membantu menjembatani kesenjangan antara tahap eksperimen AI dan penciptaan nilai bisnis yang terukur. "Bersama Metrodata, kami membantu organisasi membangun fondasi yang tepat, mempercepat adopsi, dan menghasilkan dampak nyata dari investasi AI mereka,” tambahnya.

Pandangan tersebut mempertegas perubahan pola penerapan AI di perusahaan. Eksperimen atau proyek percontohan dapat menjadi langkah awal, tetapi nilai bisnis baru akan terlihat ketika AI masuk ke alur kerja dan digunakan secara konsisten.

Artinya, perusahaan perlu menentukan dengan jelas persoalan bisnis yang ingin diselesaikan menggunakan AI. Setelah itu, implementasi perlu diukur berdasarkan hasil yang relevan, seperti peningkatan produktivitas, efisiensi proses, kualitas pengambilan keputusanq, atau indikator bisnis lainnya.

Google Cloud Soroti Peralihan dari Pilot Project ke Operasional

Perubahan tersebut juga terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap agentic AI, yakni AI yang dapat menjalankan tugas atau rangkaian tindakan secara lebih mandiri berdasarkan tujuan dan konteks yang diberikan.

Karim Siregar, Country Director, Google Cloud Indonesia, mengatakan perusahaan perlu bergerak lebih jauh dari proyek percontohan yang berdiri sendiri. “Untuk unggul di era agentic, perusahaan perlu melangkah lebih jauh dari sekadar proyek percontohan yang berdiri sendiri dengan mengintegrasikan agen AI cerdas secara langsung ke dalam operasional sehari-hari," kata Karim Siregar.

Bersama Metrodata, pihaknya menghadirkan fondasi terpercaya dan open AI stack yang dibutuhkan pelaku bisnis di Indonesia untuk berinovasi dengan cepat dan menjalankan implementasi dalam skala yang lebih luas.

Penerapan agen AI ke dalam operasional perusahaan membuat aspek tata kelola dan keamanan menjadi semakin penting. Semakin besar kewenangan yang diberikan kepada sistem AI, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk memastikan data, akses, keputusan, dan proses yang dijalankan tetap berada dalam kendali organisasi.

Infrastruktur Hybrid dan Keamanan Jadi Bagian dari Strategi AI

Di sisi infrastruktur, perusahaan juga menghadapi kebutuhan untuk menjalankan AI di berbagai lingkungan teknologi tanpa kehilangan fleksibilitas. Vony Tjiu, Country Manager, Red Hat Indonesia, mengatakan, “Seiring organisasi di Indonesia mengalihkan fokus dari eksperimen AI menuju penciptaan nilai bisnis yang terukur, kebutuhan akan fondasi hybrid cloud yang terbuka, fleksibel, dan aman menjadi semakin penting".

"Untuk mengubah investasi AI menjadi hasil yang nyata, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk menerapkan dan memperluas workload AI secara seamless di berbagai lingkungan TI tanpa ketergantungan pada satu vendor. Melalui kolaborasi jangka panjang kami dengan Metrodata, Red Hat berkomitmen untuk membantu para pemimpin perusahaan membangun, menjalankan, dan memperluas inisiatif AI mereka dengan tata kelola yang kuat, agility, dan inovasi open source,” ujar Vony Tjiu.

Sementara itu, Pravar Gautam, Vice President, Alliances & Channels, ASEAN at Salesforce, menekankan pentingnya mengintegrasikan AI dengan data, alur kerja, dan tata kelola perusahaan.

“Kami bangga dapat berkolaborasi dengan Metrodata untuk mendorong keberhasilan penerapan AI di kalangan enterprise di Indonesia. Organisasi yang akan menjadi pemimpin dalam AI adalah mereka yang melangkah lebih jauh dari sekadar bereksperimen dengan AI dan mulai menerapkannya ke dalam alur kerja yang menghasilkan dampak bisnis nyata," tutur Pravar.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, saat ini, kecerdasan tersedia secara luas, namun konteks dan kepercayaan yang dibutuhkan untuk mengubah kecerdasan tersebut menjadi proses kerja yang andal masih terbatas.

"Platform terpadu Salesforce menyatukan data, alur kerja, tata kelola, serta guardrails yang dibutuhkan agar agen AI dapat memberikan hasil bisnis yang nyata dan tepercaya dengan penuh keyakinan,” jelasnya.

Dengan demikian, pembahasan AI di MSD 2026 tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan respons atau otomatisasi. Fokusnya semakin mengarah pada bagaimana AI dapat menjadi bagian dari proses kerja perusahaan dengan kontrol, keamanan, dan ukuran keberhasilan yang jelas.

AI Juga Membawa Tantangan Keamanan Siber

Semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula perhatian terhadap keamanan siber. Arthur Siahaan, Solutions Consulting Manager, Palo Alto Networks, mengatakan perkembangan AI juga dapat dimanfaatkan oleh pihak yang ingin melancarkan serangan siber.

"Model Frontier AI memungkinkan penyerang me-weaponize kerentanan menjadi serangan yang terkoordinasi dan berkecepatan mesin (machine-speed). Pertahanan harus beroperasi pada kecepatan yang sama untuk mengurangi paparan risiko dan membendung ancaman secara real-time," ujar Arthur.

Menurutnya, AI mempercepat ancaman siber secepat ia mentransformasi bisnis. "Mengamankan AI bukanlah tentang menambahkan alat (tool) baru, melainkan tentang mengambil pendekatan platform yang terpadu untuk keamanan siber,” jelasnya.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa keamanan, tata kelola, dan kontrol akses perlu dipertimbangkan sejak tahap awal penerapan AI, bukan baru ditambahkan setelah sistem berjalan.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *