Kapsultekno.com - SpaceX mengambil langkah baru untuk mengatasi salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yakni keterbatasan pasokan listrik.
Perusahaan yang dipimpin Elon Musk tersebut mulai menyiapkan fasilitas untuk memproduksi sendiri komponen penting turbin gas. Langkah ini dilakukan ketika kebutuhan energi untuk pusat data AI meningkat pesat dan perusahaan teknologi berlomba mendapatkan sumber listrik yang dapat beroperasi lebih cepat dibandingkan jaringan listrik umum.
Musk mengungkap rencana tersebut melalui unggahan di X pada Sabtu. Menurutnya, energi surya tetap menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan listrik yang tumbuh cepat untuk infrastruktur AI.
"Gas alam masih akan dibutuhkan untuk melengkapi dan menopang tenaga surya selama beberapa tahun," tulis Elon Musk, CEO SpaceX di media sosial X.
SpaceX berencana memproduksi sendiri bilah (blades) dan vane turbin gas, dua komponen yang dikenal sulit dibuat karena harus mampu beroperasi pada kondisi temperatur dan tekanan ekstrem.
Menurut Musk, produksi komponen tersebut secara internal dapat mempercepat pengoperasian turbin gas hingga 18 bulan. Ia menyebut langkah tersebut sebagai perubahan besar dalam upaya SpaceX mempercepat pembangunan sumber energi untuk pusat data AI.
"Dengan melakukan pengecoran secara internal di SpaceX, kami dapat mempercepat waktu operasional turbin gas alam hingga 18 bulan lebih awal, sebuah terobosan yang sangat signifikan," tutur Musk.
Fasilitas produksi tersebut berada di Bastrop, Texas, kawasan yang juga menjadi lokasi fasilitas SpaceX untuk memproduksi perangkat terminal Starlink. Lowongan pekerjaan SpaceX sebelumnya juga mengungkap adanya rencana fasilitas yang disebut sebagai "blades and vanes foundry".
Langkah ini penting karena produksi turbin gas saat ini menjadi salah satu titik hambatan dalam pembangunan pembangkit listrik untuk pusat data. Industri AI membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar, sementara produsen turbin menghadapi permintaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kapasitas produksinya.
Mengapa AI Membutuhkan Turbin Gas?
Pertumbuhan AI generatif membuat perusahaan teknologi membangun pusat data berukuran sangat besar untuk menjalankan dan melatih model AI. Infrastruktur tersebut membutuhkan ribuan hingga jutaan GPU yang bekerja secara terus-menerus dan mengonsumsi listrik dalam jumlah besar.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global akan hampir berlipat ganda hingga 2030. Pada saat yang sama, produsen turbin seperti GE Vernova disebut telah menghadapi keterbatasan kapasitas produksi hingga beberapa tahun ke depan akibat lonjakan permintaan infrastruktur AI.
Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi tidak hanya berlomba mendapatkan GPU dan membangun pusat data, tetapi juga mencari sumber energi sendiri.
OpenAI, Amazon, Microsoft, dan Meta termasuk perusahaan yang telah menjajaki atau menggunakan pembangkit listrik berbasis gas alam untuk mendukung kebutuhan energi pusat data mereka.
Bagi SpaceX, kebutuhan tersebut semakin penting karena perusahaan tengah memperluas bisnis AI dan kapasitas komputasi secara agresif.
SpaceX Sudah Gunakan Turbin Gas
SpaceX sebelumnya telah menggunakan turbin gas bergerak untuk memasok listrik ke pusat data Colossus di Mississippi dan Tennessee. Namun, penggunaan turbin tersebut memunculkan kritik dari masyarakat setempat terkait kebisingan dan potensi polusi udara.
Laporan TechCrunch juga menyebut SpaceX menggunakan puluhan turbin gas untuk mendukung operasi pusat data Colossus dan berencana beralih menuju pembangkit gas alam permanen berkapasitas besar.
Persoalan lingkungan menjadi tantangan tersendiri karena turbin berbahan bakar gas menghasilkan emisi. Di Memphis, misalnya, kelompok lingkungan dan organisasi masyarakat telah mempertanyakan penggunaan turbin serta dampaknya terhadap kualitas udara di sekitar fasilitas pusat data.
Dengan memproduksi komponen turbin sendiri, SpaceX memang berpotensi mempercepat pembangunan kapasitas listrik. Namun, strategi tersebut juga memperbesar ketergantungan perusahaan terhadap gas alam dalam jangka pendek.
Besarnya kebutuhan energi tersebut tidak terlepas dari agresivitas investasi SpaceX pada AI. Business Insider melaporkan perusahaan menghabiskan sekitar USD16 miliar untuk infrastruktur AI pada kuartal kedua 2026.
Manajemen SpaceX juga memberi sinyal bahwa tingkat belanja tersebut kemungkinan akan dipertahankan pada dua kuartal berikutnya.
Dengan investasi sebesar itu, pasokan listrik menjadi faktor penting yang dapat menentukan seberapa cepat SpaceX memperluas kapasitas komputasinya.
