TERBARU
Memuat berita terbaru...
1 Februari, Change Your Password Day Ingatkan Pentingnya Keamanan Digital
Change Your Password Day pada 1 Februari mengajak pengguna memperbaiki kebiasaan password demi meningkatkan perlindungan dan keamanan digital.

Kapsultekno.com - Kejahatan siber masih akan terus mengincar korban-korban baru dan salah satu celah keamanan terletak pada password yang lemah. Trik hacker untuk mencuri data pribadi juga semakin canggih, sehingga mereka dapat mencuri password lewat email atau situs palsu tanpa pengguna sadari.

Jika password sudah bocor atau dicuri, ada potensi penyalahgunaan akun hingga bobolnya akun-akun yang lain milik pengguna. Untuk itulah, imbauan global dipopulerkan komunitas keamanan siber internasional hingga perusahaan teknologi untuk memperingati Change Your Password Day setiap 1 Februari.

Hari tersebut menjadi momentum penting bagi kesadaran keamanan digital global. Meski sudah sering diingatkan, banyak pengguna masih mengabaikan praktik ganti password yang aman, sesuatu yang menjadi celah utama bagi peretas untuk masuk ke akun pribadi maupun profesional.

Baca Juga: Peristiwa Keamanan Siber 2025: Deepfake hingga Indonesia Sumber Serangan DDoS

Menurut data dari Bitdefender 2025 Consumer Cybersecurity Survey, sejumlah perilaku berisiko masih umum terjadi, antara lain 37% pengguna menuliskan kata sandinya di kertas atau catatan tidak terlindungi.

Riset tersebut juga mengungkap 17% pengguna memakai password yang sama di tiga akun atau lebih dan hanya 27% yang memanfaatkan pengelola password (password manager).

“Kata sandi mudah untuk diabaikan sampai terjadi kesalahan. Tiba-tiba, kata sandi lama yang telah Anda gunakan kembali selama bertahun-tahun tidak lagi terasa berbahaya,” menurut Bitdefender.

Oleh karena itu, ganti password atau kata sandi bukan hanya soal frekuensi, tetapi tentang membuat kata sandi yang unik, panjang, dan disimpan secara aman.

Sementara itu, Darren Guccione, CEO & Co-Founder, Keeper Security mengatakan bahwa Change Your Password Day menjadi momen yang tepat untuk menengok ke belakang dan melihat bagaimana sebagian besar akun pribadi sebenarnya diretas.

"Dalam sebagian besar kasus, hal itu bukan karena teknik peretasan canggih, tetapi karena kata sandi yang sama digunakan kembali di berbagai layanan. Ketika satu situs diretas, penyerang segera menguji kredensial tersebut di tempat lain, mengubah satu insiden menjadi pengambilalihan akun yang meluas, penipuan keuangan, atau pencurian identitas," jelasnya.

Baca Juga: 6 Prediksi Keamanan Siber Hadapi Ekonomi AI di 2026

Ia juga mengungkapkan, mengelola puluhan kata sandi yang kuat dan unik tanpa bantuan adalah hal yang tidak realistis bagi siapa pun. "Itulah mengapa alat bantu sangat penting. Menggunakan pengelola kata sandi memungkinkan individu untuk membuat dan menyimpan kata sandi unik untuk setiap akun tanpa bergantung pada ingatan atau jalan pintas," kata Darren.

Ketika dikombinasikan dengan otentikasi multi-faktor, lanjutnya, pendekatan ini secara signifikan mengurangi risiko peretasan akun. "Keamanan pribadi yang baik harus sederhana, dapat diulang, dan terintegrasi ke dalam perilaku sehari-hari, bukan bergantung pada perubahan kata sandi sesekali atau kewaspadaan terus-menerus," pungkasnya.

Bagikan artikel ini:
Jika artikel ini bermanfaat bagi Anda, dukung Kapsul Tekno agar kami dapat terus menghadirkan informasi teknologi yang relevan dan bermanfaat untuk pembaca. Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *