Kapsultekno.com – Harga smartphone bekas diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan pada 2026. Kondisi ini dipicu oleh melonjaknya harga smartphone baru akibat krisis pasokan chip memori yang dipengaruhi tingginya permintaan industri kecerdasan buatan (AI).
Laporan terbaru dari firma riset FDM CCS Insight yang dikutip TechRadar memprediksi pasar smartphone baru (primary smartphone market) akan menurun sekitar 14,8% sepanjang 2026. Penyebab utamanya adalah kelangkaan komponen memori DRAM dan NAND Flash yang semakin mahal karena sebagian besar kapasitas produksinya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pusat data AI dan komputasi berbasis AI.
Akibat tekanan biaya tersebut, produsen smartphone diperkirakan akan menaikkan harga jual perangkat baru, terutama pada segmen entry-level dan kelas menengah. Bahkan, CCS Insight menyebut beberapa smartphone murah telah mengalami kenaikan harga lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Banyak konsumen akan memegang ponsel mereka lebih lama, dan efek ini akan jauh lebih jelas bagi konsumen yang membeli ponsel di bawah USD500," kata Ben Hatton, Research Analyst di FDM CCS Insight.
"Beberapa konsumen akan membutuhkan ponsel baru dan kami mengharapkan lebih banyak permintaan untuk smartphone yang diperbaharui (refurbished) karena harganya keluar dari pasar perangkat baru," ungkapnya.
Pasar Smartphone Bekas Diperkirakan Tumbuh Pesat
Seiring harga smartphone baru yang terus meningkat, semakin banyak konsumen diperkirakan beralih ke perangkat refurbished atau smartphone bekas berkualitas.
CCS Insight belum mengungkap besaran kenaikan harga smartphone bekas pada 2026. Namun, firma riset tersebut memperkirakan harganya akan meningkat seiring lonjakan permintaan dan terbatasnya pasokan perangkat refurbished
CCS Insight juga memperkirakan pasar smartphone bekas global akan tumbuh sekitar 15,4% pada 2026. Pasokan smartphone refurbished sendiri sangat bergantung pada program trade-in, buyback, dan upgrade dari produsen maupun operator.
Smartphone premium dengan harga di atas US$750 diperkirakan masih menjadi penyumbang terbesar perangkat bekas karena pemiliknya lebih rutin melakukan upgrade.
"Pasar sekunder memiliki peluang untuk melayani sebagian permintaan yang tidak akan terpenuhi oleh pasar primer," tutur Hatton.
Menurutnya, negara-negara dengan program perdagangan yang matang akan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk memanfaatkan peluang ini dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi di pasar sekunder selama sisa tahun ini.
Industri Smartphone Hadapi Tantangan Berat
Fenomena ini menjadi dampak tidak langsung dari pesatnya perkembangan AI generatif. Produsen chip memori kini lebih memprioritaskan pasokan untuk GPU AI dan pusat data dibandingkan perangkat konsumen karena menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Tekanan biaya tersebut diperkirakan paling besar dirasakan oleh produsen smartphone murah berbasis Android. Sementara itu, produsen premium seperti Apple dan Samsung dinilai memiliki posisi yang lebih kuat karena rantai pasok serta margin keuntungan yang lebih besar.
Apabila kondisi pasokan memori belum membaik dalam waktu dekat, analis memperkirakan harga smartphone baru maupun refurbished masih akan tetap tinggi hingga 2027.