Kapsultekno.com - PT Bundamedik Tbk (BMHS) melalui Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta memperkuat kapabilitas layanan bedah robotik sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengembangkan ekosistem bedah robotik nasional.
Langkah tersebut dilakukan dengan meningkatkan kemampuan layanan berbasis sistem robot bedah Da Vinci Xi, sekaligus memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, riset, dan pengembangan kompetensi tenaga medis di Indonesia.
Perusahaan yang berpengalaman lebih dari 53 tahun di sektor layanan kesehatan tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi bedah robotik tidak hanya berfokus pada adopsi perangkat modern, tetapi juga membangun fondasi layanan yang didukung keahlian dokter, kolaborasi multidisiplin, serta standar keselamatan pasien yang tinggi.
Sebagai pelopor bedah robotik di Indonesia sejak 2012, RSU Bunda Jakarta telah menangani hampir 1.000 prosedur bedah robotik untuk berbagai kasus kompleks. Rekam jejak tersebut mencakup transplantasi ginjal berbasis robotik ketiga di Indonesia, operasi skin sparing mastectomy pertama di Asia Tenggara, pengangkatan tumor rektum, hingga operasi miomektomi pada pasien dengan miom seberat 2,7 kilogram.

Seluruh tindakan didukung tim dokter multidisiplin yang telah tersertifikasi dan berpengalaman lebih dari satu dekade. Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan bahwa kepemimpinan dalam layanan bedah robotik tidak hanya ditentukan oleh investasi teknologi.
"Kepemimpinan dalam bedah robotik tidak dibangun hanya melalui investasi teknologi, tetapi melalui pengalaman klinis, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan menangani kasus-kasus yang semakin kompleks," kata Dr. dr. Ivan Rizal Sini melalui siaran pers kepada media.
Ia mengatakan, selama lebih dari satu dekade, BMHS secara konsisten membangun kompetensi dokter, memperkuat kolaborasi multidisiplin, dan mengembangkan standar praktik yang mengedepankan keselamatan pasien.
"Peningkatan kapabilitas layanan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk terus menjadi rujukan dalam pengembangan bedah robotik di Indonesia, sekaligus berkontribusi membangun ekosistem melalui pendidikan, riset, dan pengembangan talenta medis," jelasnya.
BMHS menjelaskan bahwa peningkatan kapabilitas layanan robotik memungkinkan dokter melakukan tindakan bedah secara lebih presisi, terutama pada area anatomi yang kompleks. Sistem Da Vinci Xi menyediakan instrumen dengan tingkat presisi tinggi dan fleksibilitas gerakan yang lebih baik dibandingkan teknik konvensional.
Dengan pendekatan minimal invasif tersebut, ukuran sayatan dapat dibuat lebih kecil sehingga trauma pada jaringan tubuh menjadi lebih minim. Kondisi ini diharapkan memberikan kenyamanan lebih bagi pasien karena proses pemulihan pascaoperasi berlangsung lebih cepat dan optimal.
BMHS Bangun kolaborasi dengan Kemenkes dan ITB
Selain memperkuat layanan klinis, BMHS juga memperluas pengembangan ekosistem bedah robotik nasional melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui hibah sistem bedah robotik kepada FTMD ITB yang akan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi teknologi medis. Langkah ini mendukung transformasi sistem kesehatan nasional, khususnya pada penguatan layanan rujukan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.
BMHS juga terus memperluas akses layanan bedah robotik ke berbagai daerah. Salah satunya melalui kehadiran layanan bedah robotik di RSU Bunda Padang yang menjadi rumah sakit pertama di Sumatera Barat yang menyediakan layanan tersebut.
Acara penguatan kapabilitas layanan bedah robotik ini turut dihadiri Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa teknologi robotik menjadi salah satu fokus utama transformasi sektor kesehatan nasional.
"Kita definisikan enam pilar reformasi, yang pilar nomor enamnya khusus mengenai teknologi kesehatan dan ada tiga teknologi kesehatan yang kita fokuskan, satu adalah Robotics Technology, AI on health, dan biotechnology. Karena this is so important, Kemenkes punya Robotics Committee," jelas Menkes Budi.

Menurut Budi, rumah sakit swasta memiliki peran penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap teknologi bedah robotik. "Rumah sakit swasta jumlahnya lebih banyak daripada rumah sakit pemerintah. Jadi mereka sangat dibutuhkan terutama untuk membuka akses. Contohnya ini, (Rumah Sakit) Bunda sudah melakukan operasi robotik (sejak) 2012," pungkas Budi.
Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono mengatakan bahwa pengembangan teknologi kesehatan harus dibarengi dengan pembangunan ekosistem yang berkelanjutan.
"Bagi BMHS, kemajuan layanan kesehatan tidak hanya diukur dari kemampuan menghadirkan teknologi, tetapi juga dari kontribusi dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, institusi pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung transformasi kesehatan Indonesia," ujar Agus Heru Darjono.
Menurutnya, melalui pengembangan kompetensi tenaga medis, riset, inovasi, dan perluasan akses layanan, pihaknya ingin memastikan pengalaman dan keahlian yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri kesehatan nasional.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, BMHS turut mendukung peluncuran Buku Ajar Bedah Robotik Ginekologi. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman klinis serta kasus nyata yang ditangani tim dokter bedah robotik, sehingga diharapkan menjadi referensi bagi tenaga medis Indonesia sekaligus mendorong penyusunan standar praktik bedah robotik yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional.
Dr. dr. Ivan Rizal Sini yang juga merupakan dokter bedah robotik pertama di Indonesia sekaligus anggota tim penulis buku tersebut mengatakan, "Kemajuan bedah robotik tidak cukup hanya ditopang oleh teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman klinis, ilmu pengetahuan, dan praktik terbaik dapat terus dibagikan agar semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat".
"Kami berharap buku ini menjadi salah satu kontribusi BMHS dalam memperkuat kapasitas tenaga medis sekaligus mendorong perkembangan ilmu bedah robotik di Indonesia," tutupnya.