Saat AI berkembang pesat, Edi melihat peluang lebih besar bagi penyandang tunanetra.
“Teknologi itu yang menyamakan posisi kami. Sekarang, dengan AI, teman-teman tunanetra bisa membuat konten, belajar keterampilan baru, bahkan mengekspresikan diri tanpa batas. Teknologi membuat kami lebih mandiri,” ujar Edi melalui keterangan resmi yang diterima Kapsultekno.com.
AI membantu peserta kelas yang ia bimbing, baik di pesantren tunanetra Sam’an Cinta Quran, Microsoft Elevate, maupun difabelajar.id untuk lebih percaya diri dan siap menghadapi dunia digital, termasuk dunia kerja serta wirausaha.
Baca Juga: ChatGPT Kini Dibekali Photoshop, Pengguna Bisa Edit Gambar Lewat Perintah Teks
Beberapa dampak nyata yang ia lihat antara lain:
- Pembuatan strategi konten lebih cepat: rencana konten sebulan yang dulu memakan seminggu kini selesai dalam 1–2 jam dengan Copilot.
- Pembelajaran lebih personal: AI dapat menyederhanakan konsep sulit, menjelaskan via audio, hingga memberi contoh praktis.
- Peningkatan keterampilan digital: mulai dari mengetik 10 jari, navigasi folder, Word, Excel, hingga pembuatan konten.
- Coding lebih mudah dan kreatif: peserta dapat mempercantik website menggunakan rekomendasi CSS dari Copilot.
- Menulis dan berkomunikasi lebih lancar: AI membantu mendeskripsikan gambar, merangkum informasi, hingga membuat konten audio.
- Banyak peserta yang akhirnya merasakan perubahan nyata, mahasiswa tunanetra bisa menyelesaikan skripsi secara mandiri, pelaku UMKM tunanetra dapat meningkatkan omzet, dan dosen tunanetra di Bandung kini lebih mudah mengelola materi kuliah menggunakan Copilot.
Menurut Edi, kemampuan bahasa dan keterampilan digital merupakan fondasi penting untuk kemandirian. “Kalau skill bahasa dan teknologi dikuasai, teman-teman disabilitas bisa benar-benar berdiri sejajar dengan yang non-disabilitas. Kami hanya butuh kesempatan untuk membuktikannya," jelasnya.
Sebagai fasilitator Microsoft Elevate melalui mitra program Alunjiva, Edi tidak hanya mengajarkan penggunaan AI, tetapi menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat untuk hidup lebih mandiri dan aktif di dunia digital.

Melalui inisiatif pelatihan ini, Microsoft dan para mitra memastikan komunitas disabilitas tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berperan aktif sebagai kreator, profesional, dan pemimpin komunitasnya.
Baca Juga: Saingi ChatGPT, Gemini dan Grok Catat Pertumbuhan Tinggi di 2025
“AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka pintu kesempatan bagi setiap orang. Dengan AI, kita menghapus batasan, menciptakan ruang inklusif, dan memastikan bahwa siapa pun dapat hadir, berpartisipasi, dan berkembang di era digital,” kata Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia.
Kesempatan itu kini terbuka lebih lebar melalui equal.elevaite.id, platform pembelajaran AI inklusif dari Microsoft dan Alunjiva Indonesia yang dirancang untuk mendukung penyandang disabilitas berkembang dan berkarya di era digital.
